Minggu, 01 Maret 2026

Kemana aku dapat pergi ?

         Kitab Mazmur 139:7–10 “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku naik ke langit, Engkau di sana; jika aku membuat tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar dan membuat kediamanku di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.”

seruan ini lahir dari hati Daud, seorang raja yang mengerti satu hal: ia bisa bersembunyi dari manusia, tetapi tidak pernah dari Tuhan. Tahta tidak membuatnya tersembunyi. Kekuasaan tidak membuatnya tak tersentuh. Di ruang paling rahasia sekalipun, hadirat Tuhan tetap nyata. Ini bukan ancaman, ini kasih. Tuhan terlalu mengenal kita untuk membiarkan kita hilang dalam pelarian.

Ada musim di mana Tuhan tampak diam. Ia seperti seorang Bapa yang berdiri di ambang pintu, menunggu anaknya menyadari arah langkahnya. Ia tidak memaksa, tidak menyeret, tidak mempermalukan. Ia memberi ruang bagi hati untuk kembali dengan kesadaran, bukan dengan keterpaksaan. Tetapi jangan salah mengartikan diam-Nya sebagai ketidakhadiran. Di dalam diam itu, mata-Nya tetap memperhatikan, kasih-Nya tetap mengelilingi, dan rencana-Nya tetap berjalan.

Namun ada juga musim ketika Tuhan bertindak aktif mengejar. Bukan karena Ia kehilangan kendali, tetapi karena Ia menolak kehilangan anak-Nya. Ia tahu potensi yang Ia tanam. Ia tahu panggilan yang Ia percayakan. Ia tahu nilai kekekalan yang melekat pada hidup kita. Dan ketika arah kita mulai menjauh dari maksud-Nya, kasih-Nya bergerak. Bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk meluruskan. Bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memulihkan.

Karena itu, jangan lari dari Tuhan. Jika engkau merasa terselidiki, itu karena Ia peduli. Jika engkau merasa ditegur, itu karena Ia mengasihi. Tempat paling aman bukanlah jarak, melainkan kedekatan. Bukan pelarian, tetapi penyerahan. Sebab Tuhan yang mengenalmu sepenuhnya adalah Tuhan yang tidak pernah menyerah atas hidupmu.



BHS