Minggu, 26 April 2026

Perubahan System

            bangsa Israel keluar dari Mesir bukan hanya berpindah tempat, tetapi dipanggil untuk mengalami perubahan sistem hidup. Di Mesir, mereka sudah terbiasa dengan ritme yang tetap bangun, bekerja, makan, semuanya berjalan dalam pola yang “teratur”, meskipun mereka hidup sebagai budak. Ada rasa stabil, ada sesuatu yang bisa diprediksi. Tetapi ketika Tuhan membawa mereka keluar, Dia tidak sekadar memindahkan mereka secara fisik; Dia sedang menghancurkan sistem lama yang membelenggu, dan memperkenalkan sistem baru: hidup yang sepenuhnya bergantung pada tuntunan-Nya melalui tiang awan dan tiang api.

Perubahan sistem inilah yang seringkali ditolak. Bukan karena Tuhan tidak baik, tetapi karena manusia cenderung nyaman dengan pola lama. Sistem baru berarti kehilangan kontrol, kehilangan kepastian manusia, dan masuk dalam dimensi iman yang lebih dalam. Di padang gurun, tidak ada lagi jadwal yang bisa diatur sendiri—kapan berjalan, kapan berhenti, semua ditentukan oleh Tuhan. Inilah benturan terbesar: ketika manusia harus melepaskan cara hidup lama dan belajar hidup dipimpin oleh Roh. Seperti tertulis: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

“Perubahan sistem selalu terasa mengganggu, karena ia mencabut apa yang lama untuk memberi ruang bagi yang ilahi.”

Hari ini, jika Tuhan sedang mengubah “sistem” dalam hidup, cara berpikir, cara berjalan, bahkan ritme kehidupan , Itu tanda bahwa Dia sedang membawamu masuk lebih dalam ke dalam rencanaNya. Belajarlah dari ketidaknyamanan, dan kenali tuntunan Roh Kudus itu. 



BHS 

Selasa, 14 April 2026

Kenapa Ketaatan selalu identik dengan Ketidaknyamanan

             Ketaatan seringkali identik dengan ketidaknyamanan karena ketaatan selalu menantang natur lama kita. Daging kita ingin mengontrol, ingin merasa aman, dan ingin mengerti semuanya terlebih dahulu sebelum melangkah. Tetapi Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda.Dia meminta kita melangkah dulu, baru mengerti kemudian. Di situlah benturannya terjadi. Ketaatan bukan sekadar tindakan luar, tetapi peperangan batin antara kehendak kita dan kehendak Tuhan.

Ketidaknyamanan juga muncul karena ketaatan membawa kita keluar dari zona yang kita kenal menuju wilayah yang belum kita pahami. Abraham menjadi contoh nyata, ia dipanggil pergi tanpa peta, tanpa kepastian, hanya dengan janji Tuhan. Dalam Ibrani 11:8 dikatakan: “Karena iman Abraham taat… lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Di sini kita melihat bahwa ketaatan seringkali berarti berjalan dalam ketidakpastian. Dan bagi manusia, ketidakpastian adalah salah satu sumber ketidaknyamanan terbesar.

Selain itu, ketaatan tidak nyaman karena Tuhan sedang menghancurkan ketergantungan kita pada diri sendiri. Selama kita masih merasa mampu, kita cenderung tidak sepenuhnya bersandar kepada Tuhan. Maka Tuhan izinkan situasi yang melampaui kekuatan kita, supaya kita belajar hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan. Ketaatan menjadi alat Tuhan untuk memurnikan motivasi kita,apakah kita mengikuti Dia karena berkat, atau karena kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.

Ketaatan juga sering membawa konsekuensi sosial dan emosional. Tidak semua orang akan mengerti langkah iman kita. Bahkan orang-orang terdekat bisa meragukan, menolak, atau tidak sejalan dengan keputusan yang kita ambil. Di titik itu, ketaatan terasa sepi. Tetapi justru di kesepian itu, relasi kita dengan Tuhan diperdalam. Kita belajar bahwa suara-Nya lebih penting daripada suara manusia.

“Ketaatan yang radikal selalu terasa tidak nyaman, karena ia mematikan kendali diri dan menghidupkan kepercayaan penuh kepada Tuhan.” Ketika kita memahami ini, kita tidak lagi melihat ketidaknyamanan sebagai tanda bahwa kita salah jalan, tetapi justru sebagai indikasi bahwa Tuhan sedang bekerja. Di balik setiap ketidaknyamanan dalam ketaatan, ada pembentukan, perluasan iman, dan persiapan untuk sesuatu yang lebih besar dari yang kita bayangkan.


BHS

Minggu, 12 April 2026

Tanah Goshen bukanlah Tanah Perjanjian

              Tanah Gosyen adalah tempat di mana Tuhan membedakan umat-Nya dari Mesir. Di sana bangsa Israel mengalami perlindungan ilahi, pemeliharaan yang nyata, dan kelimpahan di tengah krisis. Ketika tulah melanda Mesir, Gosyen menjadi wilayah yang dijaga Tuhan—sebuah ruang di mana kasih karunia berbicara lebih keras daripada keadaan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sanggup memelihara umat-Nya bahkan di tengah sistem dunia yang tidak mengenal Dia.

Namun, Gosyen bukanlah tujuan akhir dari perjalanan iman. Itu hanyalah fase, bukan destinasi. Gosyen tetap berada di dalam Mesir,dan Mesir melambangkan sistem lama yang Tuhan ingin umat-Nya tinggalkan. Tuhan tidak memanggil Israel hanya untuk hidup “aman” di tengah Mesir, tetapi untuk keluar sepenuhnya dan masuk ke dalam tanah yang telah Ia janjikan. Ada perbedaan besar antara dipelihara Tuhan dan hidup dalam penggenapan janji Tuhan.

Ketika panggilan untuk keluar datang, tantangan terbesar bukanlah jarak perjalanan, tetapi keterikatan hati. Gosyen telah menjadi tempat yang nyaman,tempat di mana kebutuhan terpenuhi dan hidup terasa stabil. Tanpa disadari, kenyamanan itu bisa menahan langkah. Mereka mulai membandingkan, menimbang, bahkan meragukan: apakah benar harus meninggalkan semua ini? Inilah jebakan yang halus—ketika sesuatu yang dahulu adalah berkat, berubah menjadi alasan untuk tidak taat.

Seringkali kehidupan kita mencerminkan hal yang sama. Kita berada di tempat di mana Tuhan memberkati, mencukupkan, bahkan melindungi kita,dan itu baik. Tetapi tidak semua yang baik adalah tujuan akhir dari Tuhan. Ada musim di mana Tuhan sengaja mengizinkan kegelisahan muncul, bukan karena Dia tidak setia, tetapi karena Dia sedang memanggil kita untuk bergerak lebih jauh. Masalahnya, kita sering menafsirkan kenyamanan sebagai tanda bahwa kita sudah berada di tempat yang tepat, padahal bisa jadi itu hanya tempat persinggahan. Kita menjadi puas dengan hadirat Tuhan yang “cukup”, tanpa menyadari bahwa Dia ingin membawa kita kepada dimensi yang lebih dalam. Kita menolak proses karena terlihat tidak nyaman, padahal di balik padang gurun itulah Tuhan membentuk karakter, memurnikan motivasi, dan melatih ketergantungan total kepada-Nya. Tanpa kita sadari, kita bisa menukar panggilan yang besar dengan rasa aman yang sementara.

Gosyen bisa menjadi jawaban Tuhan di masa lalu, tetapi jika kita bertahan di sana ketika Tuhan sudah berkata “melangkahlah”, maka itu berubah menjadi penghalang rohani. Banyak orang tidak gagal karena tidak diberkati, tetapi karena berhenti di level berkat yang lama dan tidak mau melangkah ke musim yang baru. Mereka mengingat apa yang Tuhan lakukan dahulu, tetapi tidak peka terhadap apa yang Tuhan sedang lakukan sekarang. Tuhan tidak berubah, tetapi cara-Nya memimpin kita bergerak dari satu musim ke musim berikutnya. Jika kita terus berpegang pada masa lalu, kita bisa kehilangan momentum ilahi hari ini. Tuhan tidak hanya memanggil kita keluar dari kekurangan, tetapi juga keluar dari kenyamanan yang salah. Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah Gosyen itu baik,tetapi apakah Tuhan masih menghendaki kita tinggal di sana? Di manakah posisimu hari ini: masih menetap di tempat yang lama, atau berani melangkah, sekalipun harus melewati padang gurun, untuk masuk ke dalam kepenuhan janji-Nya?



BHS

Jumat, 10 April 2026

Mengenali Tanda

              Seringkali kita berdoa meminta Tuhan berbicara, tetapi ketika Dia benar-benar berbicara, kita tidak menyadarinya. Kita menunggu suara yang besar, spektakuler, dan mengguncangkan, padahal Tuhan sering hadir dalam cara yang sederhana dan halus. Seperti dalam Kisah Para Rasul 1:3, Yesus menunjukkan diri-Nya dengan banyak tanda, artinya kehadiran-Nya nyata, tetapi membutuhkan kepekaan untuk mengenalinya.

Kisah dua murid di Emaus dalam Lukas 24:13–32 menjadi cermin bagi kita. Mereka berjalan bersama Yesus, mendengar suara-Nya, bahkan hati mereka berkobar-kobar, tetapi mata mereka tertutup. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada kehadiran Tuhan, melainkan pada kondisi hati manusia. Hati yang lelah, penuh kekecewaan, atau dipenuhi asumsi dapat membuat kita buta terhadap tanda-tanda ilahi.

Seringkali Tuhan sudah menjawab doa kita melalui proses, orang-orang di sekitar kita, atau bahkan melalui situasi yang tidak kita mengerti. Namun karena kita memiliki ekspektasi tertentu tentang bagaimana Tuhan “seharusnya” bertindak, kita melewatkan cara Tuhan yang sebenarnya. Kita mencari yang luar biasa, tetapi mengabaikan yang sederhana. Kita menunggu mujizat besar, tetapi tidak menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dituntun Tuhan adalah bagian dari karya-Nya.

Kepekaan rohani tidak terjadi secara otomatis; itu dilatih melalui kedekatan dengan Tuhan. Semakin kita tinggal dalam firman, doa, dan persekutuan dengan Roh Kudus, semakin mata rohani kita terbuka. Sama seperti murid-murid di Emaus yang akhirnya mengenali Yesus saat roti dipecahkan, ada momen di mana Tuhan membuka mata kita, tetapi hati yang peka akan mempercepat pengenalan itu, bahkan sebelum momen itu datang.

“Tuhan tidak pernah berhenti menyatakan diri-Nya; manusialah yang sering berhenti mengenali tanda-tanda-Nya.” Karena itu, mari kita merendahkan hati dan meminta kepekaan. Jangan sampai kita berjalan bersama Tuhan, tetapi hidup seolah-olah Dia tidak ada. Latih hati untuk mengenali suara-Nya, karena di setiap musim hidup, Tuhan selalu meninggalkan jejak kehadiran-Nya bagi mereka yang mau melihat.


BHS

Kamis, 09 April 2026

Kepompong ke Kupu-Kupu

               Roma 12:1–2 berkata, “berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Kata “berubahlah” berasal dari metamorphoo, yang berarti perubahan total, seperti metamorfosis. Ini bukan sekadar perbaikan diri, tetapi transformasi dari natur lama menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.Gambaran ini seperti ulat yang menjadi kupu-kupu. Ulat tidak di-upgrade menjadi lebih baik, tetapi masuk dalam fase kepompong—fase tersembunyi yang menentukan segalanya. Di sanalah perubahan sejati terjadi, jauh dari sorotan.

Bangsa Israel juga mengalami fase ini. Padang gurun adalah masa kepompong,proses pembentukan yang panjang dan sering tidak dimengerti. Namun saat Yosua memimpin mereka masuk Tanah Perjanjian, itulah fase “kupu-kupu,” di mana janji Tuhan mulai tergenapi.

Dalam hidup kita, proses dari kepompong menjadi kupu-kupu seringkali tidak kita sadari sepenuhnya. Kita merasa biasa saja, bahkan kadang bingung, lemah, atau tidak mengerti arah Tuhan. Tetapi di balik itu semua, ada pekerjaan yang sedang berlangsung. Ada doa-doa yang dinaikkan oleh orang lain untuk kita—orang tua, pemimpin rohani, teman seiman,yang menjadi dorongan tak terlihat dalam roh. Ada support yang mungkin tidak selalu kita hargai saat itu, tetapi justru menjadi penopang di masa-masa kita hampir menyerah. Tuhan memakai banyak “alat tersembunyi” untuk menjaga kita tetap berada dalam proses-Nya.

Lebih dari itu, perubahan ini bukan hasil dari ambisi atau kemampuan kita sendiri. Metamorfosis rohani adalah karya supranatural Roh Kudus. Dialah yang bekerja dalam diam, mengubahkan hati, memperbaharui pikiran, dan menggeser arah hidup kita tanpa kita sadari sepenuhnya. Sampai pada satu titik—tiba-tiba terjadi “ledakan” ilahi, dan kita melihat diri kita sudah berbeda. Seperti yang dikatakan oleh Smith Wigglesworth, “It is impossible to overestimate the importance of being filled with the Spirit.” Karena pada akhirnya, bukan kekuatan kita yang melahirkan kupu-kupu itu,tetapi Roh Kudus yang setia menyelesaikan proses yang Ia mulai dalam hidup kita.


BHS

Selasa, 07 April 2026

Rubah-Rubah Kehidupan

         Kidung Agung 2:15  “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah, rubah-rubah kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, sebab kebun-kebun anggur kami sedang berbunga!"

Ayat ini membawa kita pada sebuah peringatan rohani yang dalam: justru ketika kebun sedang berbunga, ketika musim tuaian sudah dekat,ancaman terbesar bukanlah sesuatu yang besar dan terlihat, tetapi hal-hal kecil yang tersembunyi. Musim tuaian adalah musim yang dinantikan. Itu adalah hasil dari doa, air mata, kesetiaan, dan ketaatan yang dibangun dalam waktu yang panjang. Namun firman Tuhan dengan jelas mengingatkan bahwa apa yang dibangun bertahun-tahun bisa dirusak dalam waktu yang sangat singkat, bukan oleh badai besar, tetapi oleh “rubah-rubah kecil” yang dibiarkan masuk tanpa disadari.

Rubah kecil itu bisa berupa hal-hal yang terlihat sepele: hati yang mulai dingin, kompromi kecil, luka yang tidak dibereskan, kesombongan yang halus, atau disiplin rohani yang mulai kendor. Semua itu tampak kecil, tetapi memiliki kuasa untuk menggerogoti akar dari kehidupan rohani kita. Tanpa disadari, kebun yang sedang berbunga bisa kehilangan buahnya sebelum sempat dituai. Tuhan tidak berkata “usirlah singa,” tetapi “tangkaplah rubah-rubah kecil.” Artinya ada tanggung jawab aktif untuk menjaga, mengawasi, dan membereskan hal-hal kecil sebelum menjadi besar. Musim tuaian menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi, karena di saat itulah musuh bekerja secara diam-diam untuk mencuri apa yang hampir kita terima.

 “Musim tuaian tidak dihancurkan oleh serangan besar, tetapi oleh hal kecil yang dibiarkan tinggal.” Karena itu, jagalah hatimu, perhatikan detail kecil dalam hidup rohanimu, dan jangan beri ruang bagi apa pun yang bisa merusak apa yang Tuhan sedang bangun. Sebab lebih baik menangkap yang kecil sekarang, daripada kehilangan seluruh tuaian nanti.


BHS

Senin, 06 April 2026

Mata Rohani yang melihat

      Ketika mata rohani seseorang terbuka, ia tidak hanya melihat, ia akan mulai merespon. Dalam Lukas 17:15 (TB) tertulis, “Seorang dari mereka, ketika melihat, bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring.” Dari sepuluh orang kusta, hanya satu yang benar-benar “melihat.” Ia tidak hanya melihat kesembuhan secara fisik, tetapi menyadari siapa Pribadi di balik mujizat itu. “Ketika mata rohani terbuka, hati tidak bisa lagi tinggal diam, ia pasti kembali kepada Tuhan.”

Mata rohani yang terbuka selalu menghasilkan hati yang tersentuh. Orang yang melihat kebaikan Tuhan tidak akan hidup dalam sikap biasa-biasa saja. Ia akan terdorong untuk kembali, bersyukur, dan menyembah. Respon hati tidak bisa dipisahkan dari apa yang dilihat oleh roh kita. Semakin jelas kita melihat karya Tuhan, semakin dalam hati kita terbuka untuk Dia.

Sebaliknya, hati yang keras seringkali berasal dari mata yang tidak melihat. Banyak orang mengalami kebaikan Tuhan, tetapi tidak menyadarinya. Mereka menerima, tetapi tidak kembali. Mereka diberkati, tetapi tidak menyembah. Bukan karena Tuhan tidak bekerja, tetapi karena penglihatan rohani mereka tertutup, sehingga hati menjadi tumpul dan tidak peka.

Namun Tuhan rindu membuka mata hati kita. Efesus 1:18 (TB) berkata, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya.” Ketika mata hati diterangi, kita mulai memahami maksud Tuhan, melihat tangan-Nya dalam setiap musim, dan hati kita pun menjadi lembut serta siap merespon Dia.

Hari ini, jangan hanya meminta mujizat,mintalah mata rohani yang melihat.Karena ketika kita melihat dengan benar, hati kita akan terbuka. Dan hati yang terbuka akan selalu membawa kita kembali kepada Tuhan, untuk hidup dalam ucapan syukur dan penyembahan.



BHS

Minggu, 05 April 2026

Dalam Darah ada Kehidupan

 Di dalam setiap kehidupan ada satu kebenaran ilahi: kehidupan ada di dalam darah.  Imamat 17:11 — “Karena nyawa makhluk ada di dalam darah…” Sejak awal Tuhan menetapkan bahwa darah bukan sekadar unsur tubuh, tetapi pembawa hidup. Namun Alkitab menunjukkan dua suara darah,darah Habel yang berseru menuntut keadilan, dan darah Yesus yang berbicara lebih kuat, membawa pengampunan dan pemulihan. Hari ini kita diingatkan bahwa hidup kita tidak lagi di bawah tuntutan, tetapi di bawah penebusan.

Darah Yesus tidak hanya menutupi dosa, tetapi menghidupkan. Apa yang mati di dalam hidup kita,harapan, identitas, masa depan,tidak memiliki kata akhir. Karena darah Yesus berbicara, selalu ada pemulihan. Tidak ada luka yang terlalu dalam, tidak ada masa lalu yang terlalu gelap, karena kehidupan ilahi mengalir melalui penebusan-Nya.

Kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa darah itu bekerja.  Matius 28:6  “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit…” Kubur tidak bisa menahan Dia, dan kematian tidak bisa mengalahkan-Nya. Kebangkitan bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi realitas yang hidup di dalam kita hari ini.

Artinya, hidup kita tidak lagi terbatas pada bertahan,kita dipanggil untuk hidup dalam otoritas. Kebangkitan membawa kita bukan hanya menuju surga, tetapi memulihkan seluruh aspek kehidupan kita di bumi: cara kita berpikir, berjalan, bekerja, dan melayani. Kita tidak hanya diselamatkan, kita diangkat untuk memerintah dalam kehidupan bersama Kristus. “Darah Yesus tidak hanya menyelamatkanmu dari dosa kebangkitan-Nya menghidupkan setiap aspek hidupmu untuk berjalan dalam kemenangan.”

Hari ini, hiduplah dengan kesadaran itu. Darah Yesus berbicara atas hidupmu, dan kebangkitan-Nya menjadi sumber kekuatanmu. Jangan berjalan sebagai orang yang kalah, tetapi sebagai orang yang telah ditebus dan dihidupkan kembali. Karena di dalam Dia, hidupmu bukan sekadar adatetapi penuh kuasa, tujuan, dan kemenangan. 



BHS

Jumat, 03 April 2026

Ditengah Jumat agung dan Minggu Kemenangan

      Passover bukan hanya tentang salib dan kebangkitan, tetapi juga tentang sebuah jeda yang sunyi di antaranya. ini adalah sebuah rangkaian Setelah pengorbanan Anak Domba, ada momen di mana segala sesuatu tampak berhenti. Inilah gambaran dari Passover, ketika darah dicurahkan, perlindungan diberikan, tetapi ada malam yang harus dilewati dalam keheningan. Dunia melihat kematian, tetapi Allah sedang menggenapi rencana penebusan yang kekal.

Ketika Yesus ada di dalam kubur, secara manusia tidak ada yang terjadi. Langit seakan diam, murid-murid berduka, dan harapan terlihat terkubur. Namun di balik kesunyian itu, alam roh sedang bergoncang. Firman Tuhan berkata dalam 1 Petrus 3:18 bahwa Kristus “telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi dibangkitkan menurut Roh.” Artinya, meskipun secara jasmani Ia mati, dalam roh karya Allah tetap berjalan. Bahkan kemenangan sedang dikerjakan—rantai dipatahkan dan jalan pembebasan dibukakan.

Sering kali kita juga berada dalam musim seperti itu—tidak ada jawaban, tidak ada tanda, tidak ada pergerakan. Bahkan kita menjadi tidak sabar dan merasa perlu “membantu” Tuhan dengan cara kita sendiri. Kita ingin semuanya terjadi sesuai dengan waktu dan pengertian kita. Namun justru di titik itu, Tuhan mengundang kita untuk berhenti. Ketika kita diam, kita sedang memberi ruang bagi Allah untuk bekerja.

Seperti yang tertulis dalam Ratapan 3:26, “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” Diam bukan kelemahan, tetapi tindakan iman. Dalam keheningan, kita melepaskan kendali dan mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan. Karena sering kali, tangan Tuhan paling nyata bekerja bukan saat kita sibuk berusaha, tetapi saat kita berserah.

Jadi jika hari ini kamu merasa berada dalam “kubur yang sunyi”, jangan takut. Itu bukan akhir, itu adalah ruang ilahi. Sama seperti Paskah, setelah malam yang sunyi, kebangkitan pasti datang. Karena di saat kita diam, Tuhan tidak pernah diam,Dia sedang bekerja, membebaskan, dan menyiapkan kemenangan yang akan segera dinyatakan.



BHS

Rabu, 01 April 2026

Akulah Dia !!!

             Di Keluaran 3:14, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Moses sebagai “AKU ADALAH AKU” (I AM WHO I AM). Ini bukan sekadar nama, tetapi pewahyuan bahwa Dia adalah Pribadi yang tidak bergantung pada apa pun,Dia cukup dalam diri-Nya sendiri, sumber dari segala sesuatu, dan berkuasa atas waktu, keadaan, dan sejarah. Sejak awal, Tuhan ingin umat-Nya mengenal Dia bukan hanya dari perbuatan-Nya, tetapi dari siapa Dia—,Pribadi yang menjadi jawaban atas setiap kebutuhan manusia.

Berabad-abad kemudian, di taman Getsemani, Yesus berdiri menghadapi pasukan yang datang untuk menangkap-Nya (Yohanes 18:5–6). Ketika mereka bertanya, “Yesus dari Nazaret?”, Dia menjawab dengan sederhana namun penuh otoritas: “AKULAH DIA” (Ego Eimi). Pada saat itu juga, mereka mundur dan jatuh ke tanah. Satu pernyataan, satu identitas,cukup untuk merobohkan kekuatan manusia. Yesus sedang menyatakan bahwa Dia adalah Pribadi yang sama yang berbicara kepada Musa.

Namun yang mengejutkan, setelah pasukan itu jatuh, Yesus tidak melarikan diri. Dia tetap menyerahkan diri-Nya. Ini menunjukkan bahwa kuasa itu tidak pernah hilang dari-Nya,Dia hanya memilih untuk taat kepada rencana Bapa. “AKULAH DIA” bukan hanya kuasa untuk menjatuhkan musuh, tetapi juga kekuatan untuk tetap berdiri dalam ketaatan, bahkan menuju salib. Di sini kita melihat karakter Allah: bukan hanya Mahakuasa, tetapi juga penuh kasih dan penyerahan.

Sejarah mencatat banyak orang mengalami kuasa dari pewahyuan ini. Corrie ten Boom, seorang penyintas kamp konsentrasi, pernah bersaksi bahwa di tengah penderitaan yang tak terbayangkan, dia menemukan bahwa hadirat Tuhan selalu cukup. Dia tidak bergantung pada situasi, tetapi pada Pribadi yang berkata “AKU ADALAH”. Bahkan di tempat tergelap, identitas Tuhan tetap tidak berubah,dan itu yang menopang hidupnya.

Hari ini, ketika Tuhan berkata atas hidupmu, “AKULAH DIA”, itu berarti Dia adalah segala yang kamu butuhkan,di tengah ketakutan, tekanan, atau ketidakpastian. Ketika Tuhan berkata “AKU ADALAH”, Dia tidak hanya menjawab pertanyaanmu, Dia menjadi jawaban itu sendiri. Satu suara dari Tuhan lebih besar dari semua suara lain, dan sama seperti pasukan itu tidak mampu berdiri, demikian juga setiap hal yang melawan kehendak-Nya akan runtuh ketika Dia menyatakan diri-Nya.



BHS