Minggu, 16 Agustus 2026

Merdeka Dari Kemiskinan Rohani

Sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu. Lalu berserulah orang Israel kepada Tuhan. Hakim-hakim 6:6

Bangsa Israel mengalami kemelaratan bukan karena mereka tidak pernah memiliki apa-apa. Mereka memiliki ternak, hasil bumi, dan apa yang Tuhan percayakan kepada mereka. Tetapi orang Midian datang pada waktunya, merampas hasil tanah, menghancurkan sumber kehidupan, dan mengambil apa yang seharusnya dinikmati Israel. Akhirnya Israel menjadi sangat melarat dan berseru kepada Tuhan. Ini menggambarkan sebuah realitas rohani: seseorang bisa tetap memiliki banyak hal secara lahiriah, tetapi mengalami kemiskinan di dalam roh karena apa yang Tuhan pernah berikan telah dicuri oleh musuh. Pewahyuan yang dahulu menyala menjadi redup, firman yang dahulu menghidupkan tidak lagi dikerjakan, kepekaan terhadap suara Tuhan hilang, dan kesadaran akan identitas sebagai umat Tuhan perlahan dirampas.

Sering kali kita mengukur kemiskinan hanya dari apa yang terlihat: tidak punya uang, rumah, pekerjaan, atau sumber daya. Tetapi ada kemiskinan yang jauh lebih berbahaya—kemiskinan rohani. Ketika firman dicuri, iman melemah. Ketika pewahyuan hilang, arah menjadi kabur. Ketika rasa lapar akan Tuhan mati, manusia mulai merasa cukup dengan apa yang dunia tawarkan. Musuh tidak selalu datang untuk mengambil semuanya sekaligus. Sering kali ia bekerja perlahan: mencuri perhatian, mencuri waktu, mencuri gairah berdoa, mencuri kecintaan kepada firman, sampai akhirnya seseorang tidak lagi sadar bahwa sesuatu yang sangat berharga telah hilang dari hidupnya. Itulah sebabnya kita harus bertanya bukan hanya, “Apa yang sedang hilang dari hidup kita?” tetapi juga, “Apa yang sudah Tuhan berikan, tetapi sekarang tidak lagi kita miliki karena telah dicuri?”

Hari ini Indonesia memperingati kemerdekaan. Kita bersyukur untuk kemerdekaan bangsa ini, tetapi sebagai gereja kita juga harus membawa sebuah seruan profetik: jangan sampai bangsa yang merdeka secara jasmani justru menjadi bangsa yang miskin secara rohani. Jangan sampai generasi kita memiliki teknologi tetapi kehilangan hikmat; memiliki pendidikan tetapi kehilangan takut akan Tuhan; memiliki banyak informasi tetapi kehilangan pewahyuan; memiliki gereja yang besar tetapi kehilangan hadirat Tuhan; memiliki suara yang keras tetapi kehilangan suara Roh Kudus. Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemajuan ekonomi ,Indonesia membutuhkan kebangkitan rohani. Kita membutuhkan generasi yang kembali mencintai firman, membangun mezbah, mencari wajah Tuhan, dan hidup dalam kebenaran.


BHS

Selasa, 11 Agustus 2026

Iman Menerima maka Realita Mendapat

 “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”  Markus 11:24 (TB)

Kata “telah menerima” berasal dari bahasa Yunani elabete,  menerima, mengambil, memperoleh. Menariknya, Yesus tidak berkata, “Percayalah bahwa kamu akan menerima,” tetapi “percayalah bahwa kamu telah menerima.” Iman bekerja dengan cara yang berbeda dari logika manusia: manusia berkata, “Aku percaya karena aku sudah melihat,” tetapi iman berkata, “Aku percaya karena Allah sudah berkata, meskipun aku belum melihat.”

Ada jarak antara menerima dalam iman dan melihat dalam kenyataan. Tangan kita mungkin belum memegangnya, pintu mungkin belum terbuka, keadaan mungkin belum berubah, tetapi iman mengambil posisi berdasarkan apa yang dipercayainya tentang Allah. Iman tidak menunggu manifestasi untuk percaya; iman berdiri dalam kepercayaan sambil menantikan manifestasi. Yang belum terlihat bukan berarti Allah belum bekerja.

Tetapi Yesus memulai pengajaran ini dengan “Percayalah kepada Allah!” (Markus 11:22). Jadi iman bukan mempercayai keinginan kita; iman mempercayai Allah. Kita berdoa bukan untuk memaksa Allah mengikuti kehendak kita, tetapi karena kita mengenal Dia sebagai Bapa yang berkuasa dan setia. Karena itu, ketika jawaban belum terlihat, kita tidak mundur dalam ketakutan. Kita tetap berdiri dalam iman.

Hari ini, jangan biarkan apa yang belum terlihat menentukan apa yang kamu percayai. Mungkin secara natural belum ada apa-apa, tetapi secara iman engkau sudah mengambil posisi menerima. Jangan berkata, “Aku akan percaya kalau sudah terjadi.” Katakan, “Aku percaya kepada Allah, dan aku berdiri teguh atas apa yang Dia katakan.” Sebab iman bukan sekadar menunggu sesuatu terjadi, iman adalah berdiri teguh sampai apa yang dipercayai kepada Allah menjadi nyata.


BHS

Senin, 10 Agustus 2026

Waktu yang tepat , Posisi yang tepat

 “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”  Pengkhotbah 3:1. 

Tuhan memiliki waktu dan musim-Nya sendiri. Tetapi waktu Tuhan tidak pernah berdiri sendiri; ada posisi yang harus kita tempati ketika waktu itu tiba. Ada saatnya kita bertanya, “Tuhan, kapan?” Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, “Tuhan, di mana Engkau mau aku berdiri?”

Saya sedang berada di Eropa. Di handphone saya ada dua jam: waktu Indonesia dan waktu Eropa. Jam Indonesia tetap menunjukkan waktu Indonesia, tetapi karena posisi saya sekarang berada di Eropa, saya harus hidup mengikuti waktu Eropa. Demikian juga dalam kehidupan rohani. Kita dapat mengetahui waktu Tuhan, tetapi kita juga harus berada di posisi yang Tuhan tentukan. Galatia 4:4 berkata, “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.” Kata “genap” menunjukkan sebuah waktu yang telah mencapai kepenuhannya. Yesus datang bukan hanya pada waktu yang benar, tetapi juga berada pada posisi yang benar untuk menggenapi kehendak Bapa.

Hari ini jangan hanya mengejar waktu Tuhan, tetapi carilah posisi Tuhan. Bisa jadi waktunya sudah tiba, tetapi kita masih berdiri di tempat yang salah. Musim baru sudah dibuka, tetapi kita masih bertahan pada posisi lama. Waktu Tuhan dan posisi kita harus bertemu. Ketika kita berdiri di tempat yang Tuhan tentukan, berjalan dalam ketaatan, dan tidak keluar dari kehendak-Nya, maka apa yang terlihat terlambat akan menjadi tepat pada waktunya. Jangan hanya bertanya, “Kapan Tuhan?” Tanyakan juga, “Di mana Tuhan mau aku berdiri?” Sebab sering kali mujizat bukan hanya ditentukan oleh waktunya, tetapi juga oleh posisi kita, posisi hati dan posisi kehidupan.


BHS

Jumat, 07 Agustus 2026

Perbuatan yang Tidak Terduga

  “Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya." Ayub 5:9 

Sering kali kita ingin Tuhan bekerja sesuai dengan peta yang sudah kita buat. Kita sudah menentukan kapan harus terjadi, melalui siapa harus datang, dari mana pertolongan muncul, dan seperti apa bentuk jawaban Tuhan. Tetapi Allah berkata melalui perjalanan hidup kita: “Aku tidak harus bekerja menurut cara yang kamu pikirkan.” Ayub tidak pernah menyangka bahwa perjalanan penderitaannya akan menjadi kesaksian bagi generasi-generasi setelahnya. Ia hanya sedang menjalani hari yang berat. Tetapi di balik sesuatu yang tidak ia mengerti, Allah sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang dapat ia lihat.

“Tidak terduga” berarti Tuhan tidak bisa dikurung oleh pengalaman masa lalu kita. Jangan karena Tuhan pernah menolong melalui satu pintu, kita kemudian menganggap Dia harus selalu membuka pintu yang sama. Jangan karena berkat pernah datang melalui seseorang, kita menganggap orang itu satu-satunya sumber. Jangan karena Tuhan pernah memakai sebuah metode, kita menjadikan metode itu sebagai hukum bagi pekerjaan-Nya. Allah tetap Allah. Dia memiliki seribu cara untuk melakukan satu kehendak-Nya.

Kadang-kadang Tuhan sengaja membawa kita ke tempat di mana semua kemungkinan manusia habis, supaya kita menemukan bahwa kemungkinan Allah belum habis. Ketika Abraham melihat tubuhnya dan Sara yang sudah tua, janji itu kelihatan mustahil. Ketika Musa berdiri di depan Laut Teberau, jalan keluar tidak terlihat. Ketika Daud berada di gua, kerajaan yang dijanjikan terasa jauh. Tetapi Tuhan bekerja melalui jalan yang tidak mereka prediksi. Ketika manusia berkata, “Tidak ada jalan,” Tuhan belum tentu berkata demikian.

Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa apa yang tidak sesuai dengan rencanamu berarti Tuhan tidak bekerja. Bisa jadi justru karena Tuhan sedang bekerja, Dia mengacaukan prediksimu. Bisa jadi pintu yang tertutup sedang mengubah arah perjalananmu. Bisa jadi penundaan sedang mematangkan karaktermu. Bisa jadi musim tersembunyi sedang mempersiapkanmu untuk sesuatu yang belum mampu kamu tanggung hari ini. Iman bukan hanya percaya ketika kita tahu apa yang Tuhan lakukan; iman adalah tetap percaya ketika kita tidak tahu apa yang sedang Tuhan lakukan.


BHS

Kamis, 06 Agustus 2026

Tak Habis RahmatNya

 "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23)

Yeremia menyatakan ayat ini ketika segala sesuatu di sekelilingnya telah runtuh. Yerusalem terbakar, Bait Allah dihancurkan, dan pengharapan bangsa seolah lenyap. Namun di tengah puing-puing itu, ia menemukan satu kebenaran yang tidak dapat dihancurkan: rahmat Allah tidak pernah ikut runtuh bersama keadaan. Keadaan dapat berubah, manusia dapat mengecewakan, dan kekuatan dapat habis, tetapi hati Bapa tetap penuh belas kasihan. Inilah alasan mengapa orang percaya tetap memiliki pengharapan, sekalipun berjalan di lembah yang paling gelap.

Kata "rahmat" berasal dari bahasa Ibrani raḥamim, yang berakar pada kata "rahim." Ini menggambarkan kasih Allah yang paling dalam—kasih yang melindungi, memelihara, dan menghidupkan. Rahmat bukan sekadar rasa iba, melainkan kuasa Allah yang mendekap, memulihkan, dan memberi kesempatan baru. Bahkan ketika kita gagal karena kelemahan sendiri, rahmat-Nya tetap mencari kita, mengangkat kita, dan membentuk kita kembali menjadi pribadi yang sesuai dengan tujuan-Nya. Allah tidak pernah kehabisan rahmat untuk mereka yang mau kembali kepada-Nya.

Setiap pagi adalah deklarasi dari surga bahwa Tuhan belum selesai dengan hidup kita. Fajar yang baru bukan hanya pergantian waktu, tetapi tanda bahwa persediaan rahmat Allah telah diperbarui. Dia tidak memberikan sisa-sisa belas kasihan dari hari kemarin, melainkan anugerah yang segar dan cukup untuk menghadapi tantangan hari ini. Apa yang tidak mampu diselesaikan oleh kekuatan manusia, dapat diselesaikan oleh rahmat Tuhan. Di tempat kemampuan kita berakhir, di situlah rahmat-Nya mulai bekerja dengan kuasa yang sempurna.

Jangan biarkan kegagalan masa lalu mendefinisikan masa depanmu. Selama rahmat Tuhan masih mengalir, tidak ada kehidupan yang terlalu rusak untuk dipulihkan, tidak ada panggilan yang terlalu jauh untuk dipulihkan, dan tidak ada musim yang terlalu gelap untuk diterangi. Rahmat-Nya bukan hanya membuat kita bertahan, tetapi juga membawa kita masuk ke dalam penggenapan janji-janji-Nya. Karena itu, bangkitlah setiap pagi dengan iman. Jika rahmat-Nya tidak habis, maka pengharapanmu pun tidak boleh habis.


BHS

Rabu, 05 Agustus 2026

Ditanam dengan Sengaja

 "Mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita." (Mazmur 92:14)

Banyak orang ingin segera bertumbuh, tetapi lupa bahwa setiap pertumbuhan selalu diawali dengan proses ditanam. Kata Ibrani shatul menggambarkan pohon yang ditanam dengan sengaja oleh seorang penanam, bukan pohon liar yang tumbuh tanpa arah. Demikian pula hidup kita. Tuhan tidak menempatkan kita secara kebetulan di keluarga, gereja, komunitas, atau tempat pelayanan tertentu. Di balik setiap penempatan ada tangan Allah yang penuh hikmat. Sebelum Tuhan membuat kita berbuah, Dia terlebih dahulu menanam kita di tempat yang tepat.

Lihatlah kehidupan Yusuf. Ketika dijual sebagai budak ke Mesir, semua orang mengira hidupnya hancur. Namun sebenarnya Tuhan sedang menanam Yusuf di tempat yang tepat untuk menggenapi rencana-Nya. Penjara bukan akhir hidup Yusuf, melainkan tempat pembentukan karakter. Istana bukan tujuan yang dicapai secara kebetulan, melainkan hasil dari proses penanaman yang panjang. Apa yang tampak sebagai keterlambatan di mata manusia ternyata adalah persiapan Allah untuk musim yang lebih besar.

Hal yang sama terjadi dalam sejarah pelayanan Hudson Taylor. Bertahun-tahun ia melayani di Tiongkok dengan hasil yang tampak kecil, menghadapi penyakit, penolakan, dan kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Namun ia memilih tetap tinggal di tempat Tuhan menanamnya. Kesetiaannya melahirkan sebuah gerakan misi yang kemudian menjangkau ribuan pekerja Injil dan membawa banyak orang mengenal Kristus. Buah yang besar lahir karena ia tidak mencabut dirinya sendiri dari tempat penanaman Tuhan.

Karena itu, jangan terburu-buru meninggalkan tempat di mana Tuhan sedang membentuk Anda hanya karena prosesnya terasa sulit. Pohon yang terus dipindahkan tidak akan pernah berakar kuat. Percayalah, jika Tuhan yang menanam, maka Tuhan juga yang akan menyiram, menumbuhkan, dan membuat hidup kita berbuah pada waktunya. Tugas kita bukan mencari tempat yang paling nyaman, melainkan tetap setia di tempat yang Tuhan tetapkan sampai tujuan-Nya digenapi melalui hidup kita.


BHS

Selasa, 04 Agustus 2026

Mengapa tidak semua mengerti ?

 "Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu. Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu." (Mazmur 92:6-7)

Ada saat-saat ketika sangat sulit menjelaskan perkara-perkara rohani kepada orang yang cara berpikirnya masih dikuasai oleh hal-hal jasmani. Bukan karena  kurang pintar, tetapi karena selalu menilai segala sesuatu hanya dari apa yang dapat dilihat, dihitung, dan dibuktikan. Mazmur 92 tidak mengatakan bahwa orang bodoh tidak memiliki pengetahuan,  melainkan orang bodoh tidak dapat memahami kedalaman rancangan Allah. Mereka melihat peristiwa, tetapi tidak melihat tangan Tuhan. Mereka melihat proses, tetapi tidak melihat tujuan kekal yang sedang Allah kerjakan.

Itulah sebabnya Paulus berkata, "Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan." (1 Korintus 2:14). Pikiran yang dikuasai oleh kedagingan selalu mencari penjelasan logis, sedangkan Roh Kudus membawa kita melihat dari perspektif Kerajaan Allah. Apa yang bagi dunia tampak sebagai penundaan, Tuhan sebut sebagai pembentukan. Apa yang tampak sebagai kehilangan, Tuhan sedang mempersiapkan penuaian. Salib yang dianggap sebagai kekalahan justru menjadi jalan menuju kemenangan.

Karena itu, jangan kecewa ketika tidak semua orang mengerti langkah iman yang Tuhan taruh di hatimu. Nuh dianggap gila saat membangun bahtera, Abraham tampak tidak masuk akal ketika meninggalkan negerinya, dan para murid dianggap bodoh karena meninggalkan semuanya untuk mengikuti Yesus. Namun mereka tidak hidup berdasarkan apa yang terlihat, melainkan berdasarkan apa yang telah Tuhan firmankan. Semakin intim seseorang dengan Tuhan, semakin ia mampu membaca rancangan-Nya yang dalam.

jangan minta Tuhan hanya mengubah keadaanmu. Mintalah agar Roh Kudus memperbarui cara berpikirmu. Sebab ketika pikiran diperbarui, kita tidak lagi hidup dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang Tuhan lihat. Di situlah kita mulai memahami bahwa setiap musim, bahkan yang paling sulit sekalipun, sedang dipakai Allah untuk menggenapi rancangan-Nya yang besar dan mulia.


BHS

Senin, 03 Agustus 2026

Kekuatan didalam Ketenangan

 "Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." — Yesaya 30:15

Dunia mengajarkan bahwa kekuatan lahir dari kesibukan, kecepatan, dan kemampuan mengendalikan segala sesuatu. Namun firman Tuhan justru berkata sebaliknya: "Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Kekuatan sejati bukan pertama-tama berasal dari otot, pengalaman, atau strategi, melainkan dari hati yang tenang di hadapan Allah. Orang yang terus dikuasai kecemasan akan kehilangan kejernihan dalam mengambil keputusan, tetapi orang yang tenang mampu mendengar suara Tuhan dengan jelas.

Kata "tinggal tenang" dalam bahasa Ibrani adalah shaqat, yang menggambarkan hati yang tenteram, tidak diguncang oleh keadaan. Ini bukan berarti tidak memiliki masalah, tetapi memilih untuk tidak membiarkan masalah menguasai hati. Ketenangan bukanlah hasil dari keadaan yang baik, melainkan buah dari kepercayaan kepada Allah yang tidak pernah berubah. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita mampu berkata kepada diri sendiri, "Tenanglah, hai jiwaku, Tuhan tetap memegang kendali."

Lihatlah Yesus ketika badai mengamuk di Danau Galilea. Murid-murid panik, tetapi Yesus tetap tidur dengan tenang. Mengapa? Karena damai-Nya tidak ditentukan oleh ombak, tetapi oleh hubungan-Nya dengan Bapa. Setelah itu, dari ketenangan itu keluarlah kuasa. Yesus bangkit, menghardik angin dan danau, dan badai pun reda. Ketenangan mendahului kuasa. Hati yang tenang menjadi tempat Allah menyatakan kekuatan-Nya.

Hari ini, mungkin badai kehidupan sedang menghantam: persoalan keluarga, pelayanan, pekerjaan, atau masa depan. Jangan biarkan jiwamu dikuasai ketakutan. Berhentilah sejenak di hadapan Tuhan. Saat jiwamu tenang dan tetap percaya, Tuhan akan memberikan kekuatan baru untuk menghadapi setiap keadaan. Tenanglah, hai jiwaku. Sebab di dalam ketenangan bersama Tuhan, selalu ada kekuatan yang baru.


BHS

Minggu, 02 Agustus 2026

Kebiasaan Buruk Dapat Merusak Tujuan Tuhan

 Tangkaplah bagi kami rubah-rubah, rubah-rubah kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, sebab kebun-kebun anggur kami sedang berbunga." (Kidung Agung 2:15)

Sering kali kita berjaga-jaga terhadap dosa besar, tetapi lupa bahwa yang paling sering merusak kehidupan rohani adalah "rubah-rubah kecil." Seekor rubah tampak kecil dan tidak berbahaya, namun ketika dibiarkan masuk ke kebun anggur, ia merusak tanaman yang sedang bertumbuh. Demikian pula, tujuan Tuhan dalam hidup kita sering kali tidak dihancurkan oleh satu kegagalan besar, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap biasa.

Kebiasaan menunda ketaatan, doa yang mulai diabaikan, firman yang jarang dibaca, sikap mudah mengeluh, kompromi kecil terhadap dosa, atau hidup tanpa disiplin rohani adalah rubah-rubah kecil. Awalnya tampak tidak berarti, tetapi sedikit demi sedikit menggerogoti kehidupan rohani hingga buah yang seharusnya dihasilkan menjadi rusak.

Perhatikan bahwa kebun anggur dalam ayat ini sedang berbunga. Artinya, justru ketika kehidupan mulai bertumbuh dan panggilan Tuhan mulai terlihat, rubah-rubah kecil datang untuk merusaknya. Iblis sering tidak perlu menjatuhkan seseorang dengan satu serangan besar; cukup membuatnya memelihara kebiasaan kecil yang salah sampai tujuan Tuhan perlahan memudar. Hari ini, Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk mengusir "singa" atau "beruang", tetapi juga menangkap rubah-rubah kecil. Periksalah kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dianggap sepele. Sebab ketika rubah-rubah kecil disingkirkan, kehidupan akan tetap berbuah, karakter akan semakin serupa Kristus, dan tujuan Tuhan dapat digenapi dengan penuh.


BHS