"Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." — Yesaya 30:15
Dunia mengajarkan bahwa kekuatan lahir dari kesibukan, kecepatan, dan kemampuan mengendalikan segala sesuatu. Namun firman Tuhan justru berkata sebaliknya: "Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Kekuatan sejati bukan pertama-tama berasal dari otot, pengalaman, atau strategi, melainkan dari hati yang tenang di hadapan Allah. Orang yang terus dikuasai kecemasan akan kehilangan kejernihan dalam mengambil keputusan, tetapi orang yang tenang mampu mendengar suara Tuhan dengan jelas.
Kata "tinggal tenang" dalam bahasa Ibrani adalah shaqat, yang menggambarkan hati yang tenteram, tidak diguncang oleh keadaan. Ini bukan berarti tidak memiliki masalah, tetapi memilih untuk tidak membiarkan masalah menguasai hati. Ketenangan bukanlah hasil dari keadaan yang baik, melainkan buah dari kepercayaan kepada Allah yang tidak pernah berubah. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin kita mampu berkata kepada diri sendiri, "Tenanglah, hai jiwaku, Tuhan tetap memegang kendali."
Lihatlah Yesus ketika badai mengamuk di Danau Galilea. Murid-murid panik, tetapi Yesus tetap tidur dengan tenang. Mengapa? Karena damai-Nya tidak ditentukan oleh ombak, tetapi oleh hubungan-Nya dengan Bapa. Setelah itu, dari ketenangan itu keluarlah kuasa. Yesus bangkit, menghardik angin dan danau, dan badai pun reda. Ketenangan mendahului kuasa. Hati yang tenang menjadi tempat Allah menyatakan kekuatan-Nya.
Hari ini, mungkin badai kehidupan sedang menghantam: persoalan keluarga, pelayanan, pekerjaan, atau masa depan. Jangan biarkan jiwamu dikuasai ketakutan. Berhentilah sejenak di hadapan Tuhan. Saat jiwamu tenang dan tetap percaya, Tuhan akan memberikan kekuatan baru untuk menghadapi setiap keadaan. Tenanglah, hai jiwaku. Sebab di dalam ketenangan bersama Tuhan, selalu ada kekuatan yang baru.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar