“Dengan hikmat rumah didirikan, dengan pengertian ia ditegakkan, dan dengan pengetahuan kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.” Amsal 24:3–4
Tepat hari ini, delapan tahun usia pernikahan saya dan istri. Tuhan mengaruniakan kepada kami sebuah keluarga yang tidak sempurna. Namun, justru di tengah ketidaksempurnaan itulah kami semakin melihat kesempurnaan kasih Tuhan. Delapan tahun ini mengajarkan saya bahwa berkat bukan hanya sesuatu yang diterima, tetapi sesuatu yang harus dihitung, disyukuri, dan dikelola dengan benar. Sebab, tidak semua orang yang menerima berkat mampu memelihara berkatnya. Pernikahan bukan sekadar menemukan orang yang tepat, tetapi belajar menjadi pribadi yang terus dibentuk Tuhan untuk membangun rumah tangga yang benar.
Hikmat membangun rumah. Rumah yang dimaksud bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga kehidupan, hati, dan karakter kita. Segala sesuatu yang kokoh harus dibangun di atas dasar yang benar. Tanpa hikmat Tuhan, seseorang bisa memiliki banyak pencapaian, tetapi kehilangan arah hidup; memiliki banyak harta, tetapi tidak memiliki damai sejahtera. Hikmat membuat kita mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya terlihat menarik, mana yang harus dikejar dan mana yang harus dilepaskan. Jangan hanya sibuk membangun kehidupan yang terlihat hebat di mata manusia, tetapi abaikan kehidupan batin yang benar di hadapan Tuhan. Sebab, apa yang dibangun tanpa hikmat mungkin terlihat megah, tetapi belum tentu mampu bertahan menghadapi badai.
Pengertian menegakkan rumah. Membangun membutuhkan hikmat, tetapi mempertahankan dan menegakkan membutuhkan pengertian. Banyak orang memiliki awal yang baik, tetapi tidak semuanya mampu bertahan dalam proses. Pengertian menolong kita memahami maksud Tuhan, mengenali kelemahan diri, dan melihat kehidupan dari sudut pandang kebenaran-Nya. Tanpa pengertian, kita mudah salah menafsirkan proses, menganggap teguran sebagai penolakan, dan menganggap penantian sebagai kegagalan. Kedewasaan rohani bukan hanya tentang seberapa banyak Firman yang kita ketahui, tetapi seberapa benar kita memahami dan menerapkannya dalam kehidupan. Tuhan tidak hanya ingin membangun sesuatu di dalam diri kita; Dia juga ingin menegakkannya supaya kita tidak mudah goyah ketika keadaan berubah.
Pengetahuan mengisi setiap ruang dengan harta yang berharga. Rumah yang sudah dibangun dan ditegakkan masih harus diisi. Demikian juga kehidupan kita: hati yang telah mengalami Tuhan tetap harus terus diisi dengan kebenaran Firman-Nya. Sebab, hati tidak pernah benar-benar kosong; apa yang terus kita dengar, pikirkan, renungkan, dan izinkan masuk akan membentuk isi kehidupan kita. Jika hati terus diisi ketakutan, kepahitan, iri hati, dan kekhawatiran, hal-hal itulah yang akan memengaruhi perkataan serta keputusan kita. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi Firman, iman, kasih, dan kebenaran, kehidupan kita akan memancarkan karakter Kristus. Jangan biarkan ruang hatimu dipenuhi oleh sesuatu yang tidak memiliki nilai kekekalan. Hitunglah apa yang sudah masuk ke dalam hatimu, lalu kelolalah dengan bijaksana, karena apa yang memenuhi hati pada akhirnya akan memengaruhi arah hidupmu.
Pertanyaannya bukan hanya seberapa banyak berkat yang sudah kita terima, tetapi bagaimana kita mengelola setiap berkat tersebut. Hikmat membangun, pengertian menegakkan, dan pengetahuan mengisi. Ketiganya menunjukkan bahwa kehidupan yang kokoh tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan melalui proses yang terus-menerus bersama Tuhan. Jangan hanya menghitung berkat yang terlihat di tanganmu; hitung juga apa yang sedang bertumbuh di dalam hatimu. Jangan hanya memperbesar kapasitas untuk menerima, tetapi bangunlah kedewasaan untuk mengelola. Sebab, Tuhan bukan hanya rindu menambahkan berkat dalam hidup kita, tetapi juga membentuk hidup kita menjadi tempat yang layak untuk mengelola berkat-Nya.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar