Tuhan memandang dari surga untuk melihat apakah ada orang yang berakal budi dan mencari Dia. Mazmur 14:2
Kata Ibrani yang digunakan adalah maskil, yang berkaitan dengan pengertian dan tindakan yang bijaksana. Ini bukan tentang seberapa tinggi pendidikan seseorang, berapa banyak gelar yang dimiliki, atau seberapa hebat kemampuan intelektualnya. Orang yang berakal budi adalah orang yang mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, bukan sekadar dari apa yang terlihat oleh mata, apa yang masuk akal bagi manusia, atau apa yang menguntungkan dirinya. Sebab, sesuatu yang terlihat benar dari perspektif manusia belum tentu benar dari perspektif Allah.
Daud memberikan teladan tentang hal ini. Ketika menghadapi musuh, Daud bertanya kepada Tuhan apakah ia harus maju berperang (1 Samuel 23:2, 4; 2 Samuel 5:19). Daud bukan orang yang tidak memiliki pengalaman atau kemampuan berperang. Namun, ia menyadari bahwa perspektif manusia terbatas, sedangkan Tuhan melihat jauh melampaui apa yang bisa dilihat manusia. Daud tidak hanya ingin mengetahui situasi yang sedang dihadapinya; ia ingin melihat situasi itu dari sudut pandang Allah. Daud memahami bahwa kemenangan bukan hanya tentang kemampuan mengalahkan musuh, tetapi tentang melihat keadaan, memahami waktu, dan mengambil keputusan sesuai dengan perspektif Tuhan.
Bahaya terbesar dalam kehidupan rohani adalah ketika kita mulai menilai segala sesuatu hanya berdasarkan perspektif sendiri. Kita melihat masalah sebagai jalan buntu, sementara Tuhan mungkin sedang membuka jalan yang belum kita lihat. Kita melihat kelemahan sebagai keterbatasan, sementara Tuhan sedang membentuk ketergantungan kita kepada-Nya. Kita melihat penundaan sebagai kegagalan, sementara Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu dalam proses. Masalahnya tidak selalu terletak pada situasi yang kita hadapi, tetapi pada sudut pandang yang kita gunakan untuk memahaminya. Ketika perspektif kita tidak selaras dengan perspektif Allah, kita bisa salah membaca keadaan, salah menilai orang, bahkan salah mengambil keputusan sekalipun kita merasa memiliki alasan yang kuat.
Tuhan mencari orang yang berakal budi, yaitu orang yang bersedia membiarkan perspektif Allah mengoreksi cara pandangnya sendiri. Kedewasaan rohani bukan hanya ketika kita mampu melakukan banyak hal bagi Tuhan, tetapi ketika kita belajar melihat segala sesuatu sebagaimana Tuhan melihatnya. Roma 12:2 mengajarkan agar kita mengalami pembaruan budi sehingga dapat membedakan kehendak Allah. Jangan terburu-buru menyimpulkan berdasarkan apa yang kamu lihat; belajarlah melihat dari sudut pandang Allah. Jangan biarkan keadaan menentukan cara pandangmu; biarkan kebenaran Tuhan menerangi keadaanmu. Sebab, ketika perspektifmu berubah sesuai dengan perspektif Allah, cara kamu memahami masalah, melihat orang lain, dan mengambil keputusan pun akan berubah.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar