Rabu, 30 September 2026

Ketika Tuhan Tidak Menyingkirkan Singa

  Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mencelakakan aku...Daniel 6:22

Daniel dilemparkan ke dalam gua singa bukan karena ia bersalah, tetapi karena kesetiaannya kepada Tuhan. Menariknya, Tuhan tidak mengangkat Daniel keluar dari gua pada saat itu juga. Tuhan juga tidak menyingkirkan singa-singa itu dari dalam gua. Tuhan memilih cara yang berbeda: Tuhan mengatupkan mulut singa-singa itu. Masalahnya tetap ada, tempatnya tetap sama, tetapi kuasa masalah itu terhadap Daniel dihentikan.

Sering kali ketika kita menghadapi masalah, doa pertama kita adalah, “Tuhan, singkirkan masalah ini.” Kita ingin pintu yang tertutup segera terbuka, orang yang menyakiti kita segera pergi, keadaan segera berubah, dan semua tekanan segera selesai. Tetapi kadang-kadang Tuhan tidak mengubah situasinya, Tuhan mengubah dampak situasi itu terhadap kita. Seperti Daniel—ia tetap berada di dalam gua, tetapi singa kehilangan kemampuan untuk mencelakakannya. Tidak semua mujiza berarti Tuhan mengeluarkan kita dari gua; ada mujizat ketika Tuhan membuat kita tetap aman di dalam gua.

Daniel 6:23 berkata bahwa “tidak terdapat luka apapun padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.” Perhatikan: iman Daniel tidak membuatnya bebas dari gua, tetapi imannya membuatnya tidak dikuasai oleh keadaan di dalam gua. Ada musim ketika Tuhan tidak langsung mengubah keadaan di sekeliling kita karena Ia sedang menunjukkan bahwa kuasa-Nya lebih besar daripada keadaan itu. Singa masih ada, tetapi mulutnya tertutup. Tekanan masih ada, tetapi tidak menghancurkan. Tantangan masih ada, tetapi tidak menentukan akhir cerita.

Jadi, jangan selalu mengukur pertolongan Tuhan dari seberapa cepat masalahmu hilang. Bisa jadi hari ini Tuhan sedang bekerja dengan cara yang lebih dalam: Ia sedang membungkam apa yang seharusnya menghancurkanmu. Tetap percaya, tetap berdoa, tetap berdiri. Gua itu bukan tempat terakhir Daniel. Tuhan yang menutup mulut singa juga Tuhan yang membawa Daniel keluar dari gua dengan kesaksian yang lebih besar.


BHS

Selasa, 29 September 2026

Seberapa Terang ?

“Ia telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”  1 Petrus 2:9

Kita tidak hanya dipanggil untuk keluar dari kegelapan; kita dipanggil untuk menjadi terang. Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia.” Tetapi pertanyaannya adalah: seberapa terang hidup kita? Karena terang tidak pernah dinilai dari pengakuannya, tetapi dari apa yang diteranginya. Kita bisa berbicara tentang terang, menyanyikan tentang terang, bahkan berkhotbah tentang terang, tetapi dunia akan mengenal Kristus ketika Kristus benar-benar terlihat melalui kehidupan kita. Terang tidak berdebat dengan kegelapan—terang hanya menyala, dan ketika terang datang, kegelapan kehilangan tempatnya.

Ada sebuah prinsip sederhana tentang api: semakin banyak kayu kering diletakkan di atas api, semakin besar nyalanya. Begitu juga dengan kehidupan kita bersama Tuhan. Api Tuhan tidak membutuhkan kita untuk membuatnya menjadi api; tetapi kehidupan yang diserahkan kepada Tuhan menyediakan bahan bakar bagi api itu untuk terus menyala. Doa, ketaatan, pengorbanan, menyangkal diri, mengampuni, memilih benar ketika tidak ada yang melihat, semuanya adalah “kayu” yang kita letakkan di atas mezbah. Sering kali kita berdoa, “Tuhan, nyalakan aku!” tetapi pertanyaan Tuhan mungkin justru, “Apa yang masih engkau tahan untuk kauletakkan di atas mezbah?”

Corrie ten Boom pernah mengalami kegelapan yang tidak mudah dibayangkan. Ia kehilangan keluarganya dan mengalami kekejaman kamp konsentrasi Nazi karena menolong orang Yahudi. Bertahun-tahun kemudian, ia berhadapan dengan seorang mantan penjaga kamp yang pernah menjadi bagian dari penderitaannya. Orang itu datang kepadanya dan meminta pengampunan. Corrie berkata bahwa ketika melihat tangan orang itu terulur, ia merasakan kebencian dan ketidakmampuan untuk mengampuni. Namun ia memilih mengulurkan tangannya juga. Di situlah terang menjadi terang. Bukan ketika kita berada di tempat yang nyaman, tetapi ketika di tempat paling gelap kita tetap memilih untuk membawa karakter Kristus. Kegelapan tidak dapat mengalahkan terang yang benar-benar menyala.

Mungkin Tuhan sedang membawa kita kembali kepada mezbah bukan untuk mengambil sesuatu dari kita, tetapi untuk membuat hidup kita lebih terang. Jangan hanya meminta Tuhan memakai hidup kita; berikan hidup kita kepada-Nya. Jangan hanya meminta api; berikan kayunya. Jangan hanya ingin dipakai Tuhan di depan banyak orang; izinkan Tuhan membakar kesombongan, kepahitan, kompromi, ketakutan, dan segala sesuatu yang menghalangi terang-Nya. Karena dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sekadar berkata, “Saya memiliki terang.” Dunia membutuhkan manusia yang ketika masuk ke dalam kegelapan, kegelapan itu mulai berubah karena Kristus di dalam dirinya. Maka pertanyaannya hari ini bukan lagi, “Apakah saya memiliki terang?” tetapi: “Seberapa terang Kristus sedang bercahaya melalui hidup saya?”


BHS

Senin, 28 September 2026

Ketaatan Jangan lahir dari Transaksi

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16:7

Ketaatan yang sejati lahir dari hati yang mengasihi Tuhan dan firman-Nya, bukan dari keinginan untuk mendapatkan balasan. Ketaatan yang transaksional selalu dimulai dengan pertanyaan: “Kalau aku taat, aku dapat apa?” Aku memberi supaya diberkati. Aku melayani supaya dihargai. Aku berkorban supaya Tuhan membalas. Aku melakukan kehendak Tuhan selama ada sesuatu yang bisa aku dapatkan dari ketaatanku. Pada titik itu, Tuhan bukan lagi menjadi pusat ketaatan; balasan yang aku harapkan menjadi pusatnya. Ananias dan Safira memberikan sebagian dari hasil penjualan tanah mereka, tetapi ingin mendapatkan pengakuan seolah-olah telah memberikan semuanya. Masalahnya bukan pada jumlah yang mereka berikan, tetapi pada motivasi hati mereka. 

Ketaatan yang transaksional selalu menghitung harga dan balasan. Ia berkata, “Seberapa banyak yang harus aku berikan, dan apa yang akan aku terima?” Bahkan hubungan dengan Tuhan dapat berubah menjadi sebuah transaksi: aku melakukan sesuatu untuk Tuhan supaya Tuhan melakukan sesuatu untukku. Tetapi Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda: “Janganlah kamu mencari apa yang akan kamu makan dan apa yang akan kamu minum dan janganlah hatimu bimbang. Semua itu dicari juga oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Lukas 12:29–30. Tuhan tidak memanggil kita untuk mengikuti-Nya karena keuntungan yang kita dapatkan, tetapi karena Dia sendiri adalah harta kita.

Ketaatan sejati menghentikan pertanyaan, “Aku dapat apa?” dan menggantinya dengan, “Apa yang menyenangkan hati Tuhan?” Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15. Perhatikan urutannya: kasih terlebih dahulu, kemudian ketaatan. Kita tidak menaati supaya dikasihi Tuhan; kita menaati karena telah mengasihi Tuhan. 1 Yohanes 5:3 berkata, “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya.” Jadi ketaatan bukan alat untuk membeli berkat Tuhan. Ketaatan adalah respons kasih kepada Pribadi yang sudah lebih dahulu mengasihi kita. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “Apakah aku taat?”, tetapi “Mengapa aku taat?” Kita dapat melayani, memberi, berkhotbah, menyembah, berkorban, dan melakukan banyak hal untuk Tuhan, tetapi tetap menyimpan transaksi di dalam hati: “Tuhan, karena aku sudah melakukan ini, apa yang akan Engkau berikan kepadaku?” Tetapi hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan berkata seperti Habakuk: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga... namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” (Habakuk 3:17–18). Inilah ketaatan yang tidak bergantung pada balasan. Aku tetap taat bukan karena apa yang Tuhan berikan, tetapi karena siapa Tuhan bagiku. Sebab ketika hati benar-benar mengasihi Tuhan, ketaatan tidak lagi menjadi transaksi , ketaatan menjadi buah dari kasih.


BHS 

Minggu, 27 September 2026

Dibalik Penantian ada Manusia Roh yang dibentuk

 “Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.” Ibrani 6:15

Menunggu adalah salah satu cara Tuhan melatih manusia roh. Kata yang dipakai untuk “menanti dengan sabar” adalah makrothumeō, yang menggambarkan ketekunan dalam rentang waktu yang panjang,tetap bertahan ketika apa yang Tuhan katakan belum terlihat. Manusia daging ingin semuanya segera; manusia roh belajar tetap percaya meskipun waktu berjalan. Iman tidak hanya diuji ketika kita menghadapi masalah; iman juga diuji ketika Tuhan belum memberikan jawaban. Karena itu, musim menunggu bukan musim yang sia-sia. Di dalam penantian, Tuhan sedang melatih roh kita untuk tidak dikendalikan oleh keadaan, emosi, dan waktu.

Sering kali kita menginginkan janji Tuhan, tetapi tidak menginginkan proses yang membentuk kita untuk membawa janji itu. Abraham menerima janji, tetapi harus melewati tahun-tahun penantian sebelum melihat penggenapannya. Tuhan bukan hanya mempersiapkan apa yang akan kita terima; Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk apa yang akan kita terima. Penantian mematikan kebutuhan kita untuk mengontrol segala sesuatu dan mengajar kita mempercayai Pribadi yang memberikan janji. Kalau kita tidak bisa menunggu Tuhan, kita akan tergoda untuk menciptakan sesuatu yang Tuhan tidak pernah minta kita lahirkan. Ketidaksabaran sering membuat manusia mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Tuhan.

Manusia roh belajar hidup bukan dari apa yang terlihat, tetapi dari apa yang Tuhan katakan. Abraham melihat tubuhnya yang semakin tua, tetapi ia tetap berpegang kepada janji Allah. Roma 4:20–21 berkata bahwa Abraham tidak bimbang terhadap janji Allah, tetapi “dengan penuh keyakinan” bahwa Allah berkuasa melaksanakan apa yang telah dijanjikan-Nya. Menunggu berarti membiarkan firman Tuhan menjadi lebih kuat daripada keadaan kita. Ketika waktu berkata, “terlambat,” manusia roh berkata, “Allah tetap setia.” Ketika keadaan berkata, “mustahil,” manusia roh berkata, “Allah sanggup.” Manusia roh tidak membutuhkan keadaan yang berubah terlebih dahulu untuk tetap percaya; ia percaya karena mengenal siapa yang telah berfirman.

Karena itu, jangan membenci musim menunggu. Bisa jadi Tuhan tidak sedang menahan janji-Nya; Tuhan sedang memperbesar manusia roh di dalam kita. Penantian memperbesar kapasitas iman, memurnikan motivasi, menundukkan jiwa kepada roh, dan mengajar kita bergantung sepenuhnya kepada Allah. Ada sesuatu yang hanya bisa dibentuk ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan secepat yang kita inginkan. Orang yang hanya kuat ketika menerima akan mudah jatuh ketika menunggu; tetapi manusia roh belajar tetap berdiri karena sumber hidupnya bukan pada hasil, melainkan pada Tuhan. Abraham menunggu, dan akhirnya memperoleh apa yang dijanjikan. Jangan hanya minta Tuhan mempercepat janji; mintalah Tuhan membentuk manusia roh yang sanggup membawa janji itu.


BHS

Jumat, 25 September 2026

Kebutuhan Dasar Jiwa Manusia

“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa.” Mazmur 19:8 

Kata “menyegarkan” berasal dari kata Ibrani shuv, yang berarti mengembalikan, memulihkan, dan membawa kembali. Firman Tuhan bukan sekadar membuat jiwa merasa nyaman; Firman membawa jiwa kembali kepada keadaan yang seharusnya. Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya, “Apa yang sedang saya rasakan?” tetapi, “Dengan apa saya sedang memberi makan jiwa saya?” Jiwa membutuhkan sesuatu yang bukan hanya menghibur, tetapi memulihkan.

Sering kali kita memberi makan jiwa dengan kesenangan, hiburan, gengsi, pengakuan, dan kekuasaan. Semua itu dapat memberi kepuasan sementara, tetapi tidak pernah mampu menjadi sumber kehidupan batin. Hiburan dapat mengalihkan luka, prestise dapat membuat kita merasa berharga, dan kekuasaan dapat membuat kita merasa kuat—tetapi semuanya berhenti pada permukaan. Ketika hal-hal sementara dijadikan sumber utama, jiwa justru semakin lapar. Apa yang seharusnya hanya dinikmati dapat berubah menjadi berhala yang terus menuntut lebih banyak, tetapi tidak pernah benar-benar mengenyangkan.

Itulah sebabnya seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi tetap kosong, tertawa tanpa sukacita, dikelilingi banyak orang tetapi tetap kesepian, dan menerima pengakuan tetapi terus haus akan validasi. Watchman, berjaga-jagalah atas jiwamu! Jangan percaya setiap suara dari dalam dirimu hanya karena itu adalah perasaanmu. Kita dapat mencari kepuasan di tempat yang tidak pernah mampu mengenyangkan. Namun, pergumulan jiwa tidak selalu berarti kurang berdoa atau kurang membaca Alkitab; manusia itu kompleks, dan bantuan psikologis maupun medis dapat menjadi bagian dari pemeliharaan Tuhan. Tetapi tidak ada hiburan, prestise, kekuasaan, atau pencapaian yang dapat menggantikan Firman dan hadirat Allah sebagai sumber kehidupan batin.

Di dalam jiwa yang paling dalam ada kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh apa pun yang diciptakan. Daud berkata, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42:2. Jiwa manusia tidak diciptakan hanya untuk menikmati pemberian Tuhan; jiwa diciptakan untuk menikmati Tuhan sendiri. Kita sering mencari something more, padahal yang dibutuhkan jiwa adalah Someone, Tuhan sendiri. Jiwa tidak terutama membutuhkan lebih banyak tentang Tuhan; jiwa membutuhkan Tuhan. Karena itu, jangan beri makan jiwamu dengan sesuatu yang hanya membuatnya lupa bahwa ia lapar. Kembalilah kepada Firman dan hadirat-Nya, sebab hanya Tuhan yang sanggup menyegarkan dan memulihkan jiwa.


BHS

Rabu, 23 September 2026

HadiratNya Selalu membuat Perbedaan

“Dan tabut TUHAN itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, tiga bulan lamanya. Dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.”  2 Samuel 6:11

Rumah Obed-Edom bukan hanya berbicara tentang sebuah bangunan, tetapi mengingatkan kita tentang rumah yang lebih dalam: rumah hati. Tabut Tuhan tinggal di rumah Obed-Edom, dan kehadiran itu membawa perubahan. Demikian juga hati kita seharusnya menjadi tempat di mana hadirat Tuhan terus tinggal. Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya pernah mengalami hadirat Tuhan?” tetapi, “Apakah hati saya menjadi tempat di mana hadirat Tuhan terus tinggal?” Jangan hanya mencari hadirat Tuhan untuk dikunjungi; jadikan hatimu tempat hadirat Tuhan tinggal.

Kita sering datang kepada Tuhan untuk mengalami hadirat-Nya, tetapi setelah ibadah selesai, kita kembali hidup seolah-olah Tuhan tidak ada. Hadirat Tuhan menjadi pengalaman sesaat, bukan kediaman tetap. Ada perbedaan antara dikunjungi dan didiami. Obed-Edom mengalami tabut Tuhan yang tinggal di rumahnya. Demikian juga Tuhan tidak mencari hati yang hanya sesekali tersentuh oleh hadirat-Nya; Dia menghendaki hati yang menjadi kediaman-Nya. Jangan biarkan hati menjadi tempat Tuhan hanya datang; jadikan hati tempat Tuhan tinggal.

Ketika tabut Tuhan tinggal di rumah Obed-Edom, rumah itu berubah. Demikian juga ketika hadirat Tuhan benar-benar tinggal di dalam hati, hidup kita tidak mungkin tetap sama. Hadirat-Nya mulai mengatur pikiran, membersihkan motivasi, menundukkan keinginan, menjaga perkataan, dan mengarahkan langkah. Hadirat Tuhan bukan hanya membuat kita merasakan sesuatu; hadirat Tuhan membuat sesuatu berubah di dalam kita. Hati yang menjadi kediaman Tuhan akan menghasilkan kehidupan yang membawa dampak di luar.

Karena itu, jagalah rumah hati ini. Jangan biarkan apa pun mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Tabut harus tetap berada di dalam rumah; hadirat Tuhan harus tetap berada di dalam hati. Obed-Edom mengalami perubahan karena tabut Tuhan tinggal di rumahnya; kita pun akan mengalami perubahan ketika hadirat Tuhan tinggal di hati kita. Yang Tuhan cari bukan hanya rumah yang dikunjungi-Nya, tetapi hati yang menjadi tempat kediaman-Nya.


BHS

Selasa, 22 September 2026

Hati-Hati dengan Serangan Balik

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5:8

Dalam sepak bola, counter attack terjadi ketika lawan melihat celah dan bergerak cepat untuk menyerang balik. Demikian juga secara rohani. Kita tidak pernah tahu kapan serangan itu datang, tetapi kita tahu bahwa lawan kita sedang mencari kesempatan. Alkitab tidak berkata, “mungkin Iblis akan mencari,” tetapi berkata bahwa ia berjalan keliling dan mencari orang yang dapat ditelannya. Setelah mencobai Yesus, Iblis bahkan “mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik” (Lukas 4:13). Musuh mencari momentum. Ia menunggu saat kita lengah.

Karena itu, spiritual awareness sangat penting. Kita tidak boleh hanya sadar ketika sedang diserang. Kita harus sadar sebelum serangan terjadi. Dalam sepak bola, pemain yang kehilangan awareness terhadap pergerakan lawan bisa tiba-tiba kebobolan melalui counter attack. Demikian juga dalam kehidupan rohani. Ketika kita berhenti berjaga, kehilangan fokus, menyimpan kekecewaan, membiarkan kemarahan, kepahitan, ketakutan, atau kompromi tinggal di dalam hati, kita sedang membuka ruang bagi musuh. Serangan terbesar kadang bukan ketika kita sedang lemah, tetapi ketika kita merasa aman dan berhenti berjaga.

Karena itu pertanyaannya bukan hanya, “Apakah musuh akan menyerang?” Jawabannya: ia sedang mencari kesempatan. Pertanyaannya adalah, “Apakah sekarang aku sedang memberikan kesempatan kepadanya?” Apakah ada celah dalam hatimu? Apakah ada luka yang belum dibereskan? Apakah ada dosa yang mulai dikompromikan? Apakah ada kekecewaan yang mulai menguasai pikiranmu? Jangan tunggu sampai counter attack terjadi. Kenali celah sebelum lawan memanfaatkannya. Tetap sadar. Tetap berjaga. Tetap peka terhadap Roh Kudus. Karena kita tidak tahu kapan musuh memilih waktu untuk menyerang, tetapi kita bisa memilih untuk selalu siap berdiri.

Hati-hati dengan serangan balik. Jangan terlalu sibuk menyerang sampai lupa menjaga pertahanan. Jangan terlalu menikmati kemenangan sampai kehilangan kewaspadaan. Musuh sedang mencari waktu yang baik; jangan biarkan hatimu menjadi waktu yang baik baginya. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”Amsal 4:23


BHS

Senin, 21 September 2026

Memikirkan Perkara yg Diatas

 “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3:2 

Pikiran adalah salah satu medan peperangan terbesar dalam kehidupan kita. Banyak kebohongan masuk bukan melalui keadaan, tetapi melalui pikiran. Ketakutan, kekhawatiran, rasa tidak mampu, dan berbagai suara negatif dapat perlahan memenuhi pikiran kita sampai akhirnya kita mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak pernah Tuhan katakan.

Paulus berkata, “Pikirkanlah perkara yang di atas.” Kata “pikirkanlah” berbicara tentang mengarahkan dan menetapkan pikiran kita kepada perkara-perkara yang berasal dari Kristus. Kita tidak dipanggil untuk membiarkan keadaan, masalah, atau suara dunia menentukan cara kita berpikir. Firman Tuhan harus menjadi standar yang membentuk cara kita melihat kehidupan.

Ketika pikiran kita dipenuhi Firman, tidak ada ruang bagi kebohongan untuk tinggal. Firman mengingatkan kita siapa Tuhan, siapa kita di dalam Kristus, dan apa yang telah Tuhan katakan. Semakin kita memenuhi pikiran dengan kebenaran, semakin kita mampu mengenali kebohongan. Karena itu, jangan biarkan pikiran menjadi ruang kosong yang dapat diisi oleh suara apa saja. Isi pikiranmu dengan Firman.

Apa yang terus-menerus kita pikirkan akan memengaruhi cara kita hidup. Karena itu, arahkan pikiran kepada Kristus dan biarkan Firman-Nya memenuhi ruang batin kita. Di marketplace, Firman membentuk cara kita bekerja dan berbisnis dengan integritas; di sekolah, Firman membentuk cara anak-anak dan generasi muda melihat diri, masa depan, dan pilihan mereka; dan bagi setiap orang percaya, Firman menjadi dasar dalam menghadapi tekanan, mengambil keputusan, dan merespons kehidupan. Jangan biarkan pikiran menjadi ruang kosong yang diisi oleh ketakutan, kekhawatiran, opini manusia, dan kebohongan dunia. Penuhi pikiranmu dengan Firman, karena ketika Firman memenuhi pikiran, kebenaran akan memenuhi kehidupan dan kebohongan kehilangan tempat untuk tinggal.


BHS

Minggu, 20 September 2026

Jangan Tawar Hati ditengah Tekanan

“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”Amsal 24:10

Ada sesuatu yang menarik dari ayat ini. Salomo tidak berkata, “Jika engkau mengalami kesesakan, engkau akan kehilangan kekuatan.” Tidak. Yang dikatakan adalah “jika engkau tawar hati.” Artinya, masalahnya bukan hanya pada tekanan yang datang, tetapi pada apa yang terjadi di dalam hati kita ketika tekanan itu datang. Dalam bahasa Ibrani, “tawar hati” memiliki gambaran tentang sesuatu yang mengendur, melemah, atau kehilangan pegangan. Jadi ketika tekanan datang, jangan lepaskan peganganmu kepada Tuhan. Jangan biarkan keadaan di luar membuat hatimu menyerah di dalam.

Justru sering kali tekanan adalah tempat di mana kekuatan kita dibangun. Besi tidak menjadi kuat ketika dibiarkan begitu saja; ia ditempa melalui panas dan tekanan. Demikian juga iman. Ada musim ketika Tuhan mengizinkan kita melewati tekanan bukan karena Dia meninggalkan kita, tetapi karena melalui proses itu Dia sedang membentuk ketekunan, karakter, dan kedewasaan kita. Yakobus 1:3-4 mengatakan bahwa ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan. Jadi ketika tekanan datang, jangan langsung berkata, “Tuhan, mengapa ini terjadi?” Belajarlah berkata, “Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk di dalam aku melalui semua ini?”

Lihat kehidupan Smith Wigglesworth, salah satu tokoh penting dalam gerakan Pentakosta awal. Ia lahir dalam keluarga miskin, mulai bekerja sejak usia enam tahun, memiliki pendidikan formal yang sangat terbatas, dan baru dikenal luas ketika usianya sekitar 48 tahun. Namun keterbatasan masa lalunya tidak menjadi alasan untuk berhenti mengejar Tuhan. Setelah mengalami baptisan Roh Kudus pada 1907, pelayanannya berkembang luas dan ia kemudian dikenal sebagai penginjil kesembuhan. Dalam pelayanan tahun 1922 di Australia, laporan-laporan sezamannya mencatat banyak orang yang memberikan kesaksian tentang kesembuhan dan pertobatan dalam pertemuan-pertemuannya. Kesaksian-kesaksian tersebut adalah laporan sejarah dari sumber gerakan Pentakosta dan tidak semuanya dapat diverifikasi secara independen, tetapi kisah hidupnya jelas menunjukkan satu hal: keterbatasan bukan alasan untuk menjadi tawar hati.

Hari ini mungkin ada tekanan dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, keuangan, kesehatan, atau masa depan. Tetapi ingat Amsal 24:10: jangan tawar hati! Jangan mengambil keputusan permanen hanya karena sedang berada dalam tekanan sementara. Jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum datang. Jangan berhenti percaya hanya karena keadaan belum berubah. Hari tekanan bukan hari untuk melepaskan Tuhan; justru hari tekanan adalah hari untuk berpegang lebih kuat kepada Tuhan. Sebab ketika kekuatan kita habis, kasih karunia-Nya tidak pernah habis. Tekanan boleh datang, air mata boleh jatuh, tetapi hati kita tetap berkata: “Aku tidak akan menyerah. Tuhan masih memegang hidupku.”


Happy Monday Guys

BHS

Jumat, 18 September 2026

Dengarlah Nasehat dari Hikmat Allah

“Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak.” Amsal 24:6. 

Alkitab tidak melarang kita mencari nasihat; justru kita diperintahkan untuk memiliki banyak penasihat. Tetapi ada satu hal yang harus kita waspadai: tidak semua orang yang banyak bicara memiliki hikmat dari Tuhan. Ada orang yang bisa memberi pendapat dengan sangat meyakinkan, tetapi perkataannya justru membawa kita keluar dari kehendak Allah. Amsal 11:14 berkata, “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah rakyat, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.” Banyak penasihat bukan berarti banyak suara yang harus kita ikuti. Banyak penasihat berarti banyak sumber hikmat yang harus kita uji di hadapan Tuhan.

Hati-hati, sebab nasihat yang salah bisa membawa kita ke arah yang salah tanpa kita sadar. Rehabeam pernah mendapatkan nasihat dari para tua-tua, tetapi ia menolak nasihat mereka dan memilih nasihat orang-orang muda yang ada bersamanya. Hasilnya? Kerajaan terpecah (1 Raja-raja 12:6–19). Karena itu jangan hanya bertanya, “Apa pendapatmu?” tetapi tanyakan juga, “Apakah orang ini mengenal Tuhan? Apakah hidupnya takut akan Tuhan? Apakah perkataannya selaras dengan Firman?” Amsal 9:10 berkata, “Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat.” Orang yang tidak takut Tuhan mungkin memiliki pengalaman, pendidikan, koneksi, bahkan keberhasilan, tetapi belum tentu memiliki hikmat untuk menuntun hidup kita. Jangan serahkan arah hidupmu kepada orang yang tidak tunduk kepada Tuhan.

Kehidupan John Wesley. Dalam perjalanan pelayanannya, Wesley dikenal memiliki komunitas dan orang-orang yang menolongnya bertumbuh dalam disiplin rohani, penginjilan, dan kehidupan kudus. Kebangunan rohani tidak lahir dari seorang manusia yang berjalan sendirian, tetapi dari kehidupan yang terus dibentuk oleh Firman, doa, komunitas, dan nasihat rohani. Kita membutuhkan orang lain, tetapi kita tidak membutuhkan sembarang suara. Carilah penasihat yang ketika berbicara tidak hanya mengandalkan logika manusia, tetapi membawa kita kembali kepada Tuhan. Seperti Amsal 15:22 berkata, “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.”

Jadi, carilah penasihat yang banyak, tetapi carilah penasihat yang takut akan Tuhan. Jangan mudah terpesona oleh orang yang pandai berbicara; lihat buah hidupnya. Jangan hanya mencari orang yang mengatakan apa yang ingin kita dengar; carilah orang yang berani mengatakan apa yang perlu kita dengar. Dan ketika banyak nasihat sudah kita terima, bawa semuanya kembali kepada Tuhan. Manusia bisa memberi nasihat, tetapi Tuhan yang memberi hikmat. “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah” (Yakobus 1:5). Hati-hati dengan suara yang keras tetapi kosong dari hikmat Tuhan. Lebih baik sedikit suara yang takut akan Tuhan daripada banyak suara yang membawa kita menjauh dari Tuhan.


BHS

Kamis, 17 September 2026

Cari Tuhan sebelum Pengetahuan

Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. amsal 1:7

Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Artinya, pengetahuan yang benar dimulai dari Tuhan. Kita sering melakukan yang sebaliknya: ketika menghadapi masalah, kita langsung mencari jawaban, bertanya kepada banyak orang, membuka internet, mencari berbagai pendapat, baru kemudian datang kepada Tuhan. Padahal Alkitab mengajarkan urutannya berbeda: cari Tuhan terlebih dahulu, karena Dia adalah sumber segala pengetahuan dan hikmat.

Tuhan tidak hanya mengetahui sebagian dari hidup kita, Dia mengetahui semuanya. “Sebab TUHAN memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian” (Amsal 2:6). Jadi ketika kita mencari Tuhan, kita sedang datang kepada sumbernya. Jangan hanya bertanya, “Apa jawabannya?” tetapi bertanyalah, “Tuhan, apa yang Engkau katakan tentang ini?” Karena jawaban manusia bisa terbatas, tetapi Tuhan melihat keseluruhan hidup kita.

Inilah sebabnya takut akan Tuhan menjadi permulaan pengetahuan. Ketika kita menghormati Tuhan dan datang kepada-Nya terlebih dahulu, Tuhan mulai memberikan hikmat untuk mengerti apa yang harus kita lakukan. Yakobus 1:5 berkata bahwa jika kita kekurangan hikmat, kita harus meminta kepada Allah. Jadi kita tidak perlu malu berkata, “Tuhan, aku tidak tahu.” Justru ketika kita mengakui bahwa kita tidak tahu dan datang kepada Dia, di situlah proses mendapatkan hikmat dimulai.

Hari ini, jangan buru-buru mencari jawaban sebelum mencari Tuhan. Jangan mulai dengan Google, mulai dengan Tuhan. Jangan mulai dengan pendapat manusia, mulai dengan Firman. Jangan mulai dengan kepanikan, mulai dengan doa. Karena Tuhan bukan hanya punya jawaban untuk masalah kita , Tuhan adalah sumber pengetahuan dan hikmat itu sendiri. Carilah Tuhan terlebih dahulu, dan biarkan Dia menunjukkan apa yang harus kita ketahui dan bagaimana kita harus berjalan.


BHS

Rabu, 16 September 2026

Janganlah Takut

Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau Yesaya 41:13

Kita hidup di zaman yang membuat banyak orang mudah takut. Berita perang, konflik antarbangsa, ekonomi yang tidak menentu, harga kebutuhan yang meningkat, ancaman kehilangan pekerjaan, masa depan anak-anak, bahkan perkembangan teknologi dan AI yang mengubah begitu banyak hal,semuanya dapat membuat hati kita bertanya, “Bagaimana masa depan saya?” Tetapi di tengah dunia yang terus berubah, Tuhan memberikan satu pesan yang tidak berubah: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” Perhatikan, Tuhan tidak berkata bahwa tidak akan ada masalah. Tuhan memberikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada jaminan bahwa masalah tidak datang: jaminan bahwa kita tidak menghadapinya sendirian.

Yesaya 41:13 berkata, “Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” Ada dua hal yang Tuhan lakukan: Ia memegang dan Ia berbicara. Ketika Tuhan memegang tangan kita, kita tidak perlu berjalan dengan kekuatan sendiri. Dan ketika Tuhan berkata, “Jangan takut,” Dia sedang mengingatkan kita bahwa ketakutan tidak boleh menjadi suara yang menentukan langkah kita. Mungkin keadaan belum berubah, tetapi tangan Tuhan tidak pernah kehilangan kendali. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi kita tahu siapa yang memegang kita hari ini.

Ada sebuah kisah nyata tentang Ernest Shackleton, penjelajah Antarktika, yang pada 1914 memimpin ekspedisi dengan kapal Endurance. Kapalnya terjebak dan akhirnya hancur oleh tekanan es, membuat seluruh timnya harus bertahan dalam kondisi yang sangat ekstrem. Mereka menghadapi dingin, kelaparan, dan ketidakpastian tentang apakah mereka akan selamat. Namun Shackleton terus memimpin mereka, membawa mereka melewati perjalanan yang sangat berbahaya hingga akhirnya seluruh awak berhasil diselamatkan. Kisah itu mengingatkan kita bahwa keberanian bukan berarti tidak menghadapi keadaan yang menakutkan. Keberanian adalah terus melangkah ketika keadaan menakutkan, karena kita percaya ada tangan yang menuntun kita. Dalam hidup kita pun mungkin ada “es” yang sedang menghimpit, tetapi Tuhan berkata: Jangan takut.

Hari ini, jangan biarkan berita menjadi lebih keras daripada suara Tuhan. Jangan biarkan keadaan ekonomi lebih besar daripada imanmu. Jangan biarkan ketidakpastian masa depan mencuri damai sejahteramu. Yesaya 41:13 bukan sekadar perintah untuk tidak takut; ini adalah alasan mengapa kita tidak perlu takut: “Aku ini TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu.” Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi kita tahu siapa yang memegang tangan kita. Karena itu, bangunlah hari ini dengan iman dan katakan: “Aku tidak takut terhadap masa depan, karena Tuhan memegang tanganku. Aku tidak berjalan sendirian. Akulah yang ditolong oleh Tuhan.”


BHS

Selasa, 15 September 2026

Ketidakpercayaaan Membunuh Janji Tuhan

 “Tetapi perwira yang menjadi ajudan raja menjawab abdi Allah itu, katanya: ‘Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?’ Jawab abdi Allah: ‘Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan dari padanya.’” 2 Raja-raja 7:2

Ada sebuah tragedi dalam ayat ini: Tuhan sudah berfirman, terobosan sudah dijanjikan, tetapi orang yang mendengar janji itu tidak percaya. Melalui nabi Elisa, Tuhan berkata bahwa keesokan harinya kelaparan akan berakhir dan makanan akan berlimpah. Namun panglima itu melihat keadaan, menghitung dengan logikanya, lalu berkata, “Masakan hal itu mungkin terjadi?” Ia tidak mampu mempercayai bahwa Tuhan dapat melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia. Masalahnya bukan Tuhan tidak sanggup melakukan mujizat; masalahnya adalah hati manusia menolak percaya kepada apa yang Tuhan sudah katakan.

Yang paling menyedihkan adalah perkataan Elisa: “Engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan dari padanya.” Dia tidak kehilangan kesempatan untuk melihat mujizat dia justru akan menyaksikannya dengan matanya sendiri. Tetapi dia kehilangan kesempatan untuk mengalaminya. Ketidakpercayaan tidak selalu membuat kita tidak melihat pekerjaan Tuhan; kadang-kadang ketidakpercayaan membuat kita berdiri sangat dekat dengan mujizat, melihat orang lain menikmatinya, sementara kita sendiri tidak mengambil bagian di dalamnya. Karena itu, jangan hanya minta Tuhan memberikan janji; mintalah Tuhan memberikan hati yang percaya ketika janji itu belum terlihat.

Percayalah kepada perkataan Tuhan. Yesaya 55:11 berkata, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki.” Apa yang keluar dari mulut Tuhan tidak pernah sia-sia. Firman-Nya mempunyai tujuan dan kuasa untuk menggenapi apa yang Dia kehendaki. Keadaan boleh berkata “tidak mungkin”, manusia boleh berkata “mustahil”, tetapi Firman Tuhan tetap memiliki kata terakhir. Jangan jadikan keadaan hari ini sebagai ukuran terhadap janji Tuhan untuk hari esok.

Smith Wigglesworth, salah satu penginjil kesembuhan yang menonjol dalam gerakan Pentakosta awal, dikenal karena penekanannya pada iman kepada Firman Tuhan. Dalam sebuah kesaksian pelayanan di Australia pada 1927, seorang perempuan bernama M. Legate Pople menceritakan bahwa ia telah lama menderita dan sebelumnya tidak tertarik pada pelayanan Wigglesworth. Setelah temannya pergi ke pertemuan dan bersaksi mengalami kesembuhan, ia sendiri mulai mencari Tuhan dan meminta didoakan. Dalam kesaksiannya, ia mengatakan bahwa setelah didoakan ia dapat bangun dan berjalan, sesuatu yang sebelumnya tidak mampu ia lakukan. Kisah ini berasal dari laporan kesaksian yang diterbitkan pada masa itu; kita dapat menyebutnya sebagai kesaksian, bukan sebagai verifikasi medis independen.

Jangan menjadi orang yang hanya melihat janji Tuhan digenapi dalam kehidupan orang lain. Percayalah kepada Firman-Nya, pegang perkataan-Nya, dan berjalan dalam iman. Apa yang Tuhan katakan tidak akan kembali dengan sia-sia. Jangan sampai ketidakpercayaan membuatmu melihat apa yang Tuhan kerjakan, tetapi kehilangan kesempatan untuk merasakannya. 


BHS

Senin, 14 September 2026

Kelaparan akan Firman yang membawa Kejutan

Empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: ”Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? [4] Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati. 2 Raja-raja 7:3-4 TB

Dalam 2 Raja-raja 7:3–4, empat orang kusta berada dalam kondisi yang sangat terdesak. Mereka lapar, lemah, dan berada di ambang kematian. Tetapi kelaparan membuat mereka tidak mau diam. Mereka berkata, “Mengapa kita duduk-duduk di sini sampai kita mati?” Mereka menyadari bahwa kalau tetap tinggal di tempat yang sama, mereka akan mati. Ada kelaparan yang membuat seseorang berhenti, tetapi ada kelaparan yang membuat seseorang bergerak mencari kehidupan. Demikian juga secara rohani: ketika kita benar-benar lapar akan Firman, kita tidak akan puas hanya dengan apa yang sudah kita tahu. Kita akan mencari Tuhan, membuka Firman, berdoa, menyembah, dan mengejar pewahyuan-Nya. Karena kalau kita berhenti makan secara rohani, sesuatu di dalam diri kita mulai mati.

Keempat orang kusta itu kemudian bergerak menuju perkemahan orang Aram. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temukan. Tetapi ketika mereka sampai di sana, Tuhan ternyata sudah menyediakan makanan, pakaian, emas, dan perak. Mereka pergi karena lapar, tetapi menemukan provision yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan. Kelaparan mereka menuntun mereka kepada tempat penyediaan Tuhan. Ini juga prinsip rohani: ketika kita lapar akan Firman, Tuhan sering membawa kita kepada pewahyuan di tempat-tempat yang tidak kita duga. Tuhan dapat berbicara melalui proses, melalui padang gurun, melalui orang yang tidak kita sangka, bahkan melalui situasi yang awalnya kita anggap sebagai ancaman. Jangan batasi cara Tuhan berbicara hanya karena pewahyuan itu tidak datang melalui cara yang biasa.

Hari ini banyak orang tidak kehilangan Firman karena Tuhan berhenti berbicara, tetapi karena mereka sudah tidak lapar untuk mendengar. Ketika rasa lapar hilang, kita berhenti mencari. Ketika kita berhenti mencari, kita berhenti menemukan. Dan ketika kita berhenti menerima pewahyuan, kehidupan rohani perlahan menjadi rutinitas. Kalau kita tidak makan, tubuh kita mati; kalau kita tidak makan Firman, manusia roh kita akan melemah. Kalau kita berhenti menyembah Tuhan, hati kita tetap akan mencari sesuatu untuk disembah. Karena itu Tuhan sedang membangkitkan kembali kelaparan di dalam gereja, bukan sekadar kelaparan akan berkat, tetapi kelaparan akan Firman, kelaparan akan hadirat, dan kelaparan untuk mengenal Tuhan.

Jangan duduk sampai mati. Bangkit dan cari Tuhan! Empat orang kusta itu tidak memiliki kepastian tentang apa yang akan mereka temukan, tetapi mereka memiliki satu hal: kelaparan yang membuat mereka bergerak. Dan ketika mereka bergerak, mereka menemukan bahwa Tuhan sudah lebih dahulu menyediakan apa yang mereka perlukan. Kelaparan akan Firman menuntun kita ke tempat di mana Tuhan telah menyediakan pewahyuan. Apa yang sedang Tuhan sediakan mungkin belum terlihat dari tempat kita sekarang. Tetapi ketika kita mulai mencari, berjalan, membaca Firman, berdoa, dan menyembah, Tuhan akan membawa kita ke tempat di mana mata kita terbuka dan kita berkata: “Ternyata Tuhan sudah menyediakan sesuatu di sini.”


BHS

Minggu, 13 September 2026

Ketika Tuhan Terlambat - Lazarus

 “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”  Yohanes 11:21

Ada masa ketika kita merasa Tuhan terlambat. Lazarus sakit, tetapi Yesus sengaja tinggal lebih lama. Ketika Yesus datang, Lazarus sudah empat hari berada di dalam kubur. Marta berkata, “Tuhan, kalau Engkau datang lebih cepat, Lazarus tidak akan mati.” Namun Yesus tidak terlambat. Ia datang pada waktu yang memungkinkan kemuliaan Allah dinyatakan dengan cara yang lebih besar.

Dalam hidup kita pun ada musim ketika Tuhan seolah-olah membiarkan sesuatu mati. Keinginan kita, ambisi kita, dosa kita, ego kita, bahkan cara lama kita dalam menjalani hidup. Sering kali keadaan yang kita anggap buruk justru dipakai Tuhan untuk mematikan sesuatu yang selama ini tidak mampu kita lepaskan. Tuhan tidak selalu mengubah keadaan dengan segera, karena terkadang Ia sedang mengubah kita melalui keadaan.

Jangan takut ketika Tuhan membawa kita melewati proses kematian. Sebab sesuatu yang harus mati bukan berarti sesuatu itu harus hilang selamanya. Ada hal-hal yang harus mati supaya sesuatu yang baru dapat dibangkitkan. Lazarus keluar dari kubur bukan sebagai Lazarus yang sedang sakit, tetapi sebagai Lazarus yang telah mengalami kuasa kebangkitan. Ketika Tuhan terlihat terlambat, percayalah ,Dia sedang mempersiapkan kebangkitan yang lebih besar.

Apa yang sedang Tuhan matikan dalam hidupmu hari ini? Jangan buru-buru meminta Tuhan menghidupkannya kembali. Mungkin yang Tuhan inginkan bukan menghidupkan kembali kehidupan yang lama, tetapi membangkitkan sesuatu yang baru, lebih murni, lebih kuat, dan lebih sesuai dengan kehendak-Nya.


BHS

Kamis, 10 September 2026

Perkataan Firman memiliki Kuasa

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  Amsal 18:21

Tuhan menciptakan dunia melalui perkataan. “Berfirmanlah Allah…” lalu apa yang tidak ada menjadi ada. Karena itu, perkataan memiliki kuasa. Memang kita bukan Tuhan dan perkataan kita bukan menciptakan dari ketiadaan seperti Firman Allah, tetapi perkataan yang kita lepaskan dapat membangun atau menghancurkan, menghidupkan atau mematikan, membangkitkan iman atau menyalakan ketakutan.

Perhatikan: atmosfer sering mengikuti perkataan yang paling dominan. Satu perkataan yang penuh iman dapat menguatkan seseorang yang hampir menyerah. Sebaliknya, satu perkataan yang negatif dapat menghancurkan keberanian seseorang. Di dalam keluarga, pelayanan, dan komunitas, perkataan kita sedang membangun sesuatu. Kita tidak boleh berkata, “Saya cuma ngomong.” Tidak ada perkataan yang benar-benar “cuma ngomong” ketika perkataan itu masuk ke dalam hati seseorang.

Karena itu, jangan gunakan mulut kita untuk memperbesar masalah, tetapi gunakan mulut kita untuk memperbesar Tuhan di tengah masalah. Jangan terus berkata, “Tidak mungkin,” ketika Tuhan berkata Dia sanggup. Jangan terus berkata, “Saya gagal,” ketika Tuhan masih mengatakan ada masa depan. Perkataan iman tidak selalu langsung mengubah keadaan, tetapi perkataan iman mengubah manusia yang sedang menghadapi keadaan.

Hari ini sadarilah: setiap kali kita membuka mulut, kita sedang melepaskan sesuatu. Kita dapat melepaskan ketakutan atau iman, kutuk atau berkat, kematian atau kehidupan. Maka jangan sembarangan dengan perkataanmu. Apa yang keluar dari mulutmu sedang membangun atmosfer di sekitarmu.


BHS 

Rabu, 09 September 2026

Berkat yang membuat Hati Menyimpang

“Orang Israel melakukan seperti yang dikatakan Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain.”  Keluaran 12:35-36

Israel keluar dari Mesir bukan hanya dengan kebebasan, tetapi juga dengan emas dan perak. Tuhan memperlengkapi mereka dengan kelimpahan. Tetapi padang gurun bukanlah tempat untuk memamerkan emas. Tuhan punya tujuan atas berkat itu: dipersembahkan untuk membangun Kemah Suci, tempat hadirat-Nya.

Namun di Keluaran 32, emas yang seharusnya dipakai untuk menyembah Tuhan justru dilebur menjadi lembu emas. Inilah bahaya berkat: sesuatu yang berasal dari Tuhan dapat membuat hati kita perlahan-lahan berpaling dari Tuhan. Hati yang menyimpang tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Sering kali dimulai ketika kita mulai lebih menikmati pemberian Tuhan daripada Pribadi yang memberi pemberian itu. Kita mulai mengejar berkat, tetapi kehilangan kerinduan kepada Sang Pemberi berkat.

Karena itu, berkat selalu menjadi ujian bagi hati. Ketika belum memiliki apa-apa, kita mudah berkata, “Tuhan adalah segalanya.” Tetapi ketika Tuhan memberikan uang, jabatan, keberhasilan, rumah, pelayanan, atau pengaruh, apakah hati kita masih sama? Jangan sampai tangan kita semakin penuh tetapi hati kita semakin jauh. Jangan sampai berkat yang Tuhan berikan untuk membangun Kerajaan-Nya justru kita gunakan untuk membangun kerajaan kita sendiri.

Maka jangan hanya berdoa, “Tuhan, berkatilah aku,” tetapi berdoalah, “Tuhan, ketika Engkau memberkati aku, jangan biarkan hatiku menyimpang.” Sebab yang Tuhan cari bukan sekadar tangan yang penuh, tetapi hati yang tetap setia. Berkat yang benar bukan hanya membuat kita memiliki lebih banyak, tetapi membuat kita semakin mengasihi, menyembah, dan mempersembahkan lebih banyak kepada Tuhan.


BHS

Selasa, 08 September 2026

Berhentilah berlari dari Panggilan Tuhan

“Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing."  Kejadian 32:24

Malam itu Yakub sedang dalam perjalanan untuk bertemu Esau. Masa lalunya sedang mengejarnya. Seumur hidupnya Yakub selalu berlari—lari dari Esau, pergi kepada Laban, kemudian lari lagi dari Laban. Ketika menghadapi masalah, responsnya adalah mencari jalan keluar. Tetapi malam itu berbeda. Tuhan tidak membiarkan Yakub berlari lagi. Tuhan menghentikannya dan bergulat dengannya sampai fajar. Seolah-olah Tuhan berkata, “Yakub, cukup. Jangan lari lagi. Kali ini hadapi Aku.”

Dalam pergumulan itu Tuhan menyentuh pangkal paha Yakub hingga ia menjadi pincang. Bagian tubuh yang membuatnya kuat untuk berjalan dan berlari justru disentuh Tuhan. Tuhan mematahkan kekuatan Yakub bukan untuk menghancurkannya, tetapi untuk menghentikan pola hidup lamanya. Selama ini Yakub mengandalkan kecerdikan, strategi, dan kekuatannya sendiri. Tetapi malam itu ia belajar: ada kemenangan yang tidak lahir dari kemampuan kita untuk melawan, tetapi dari kemampuan kita untuk berserah kepada Tuhan.

Menariknya, setelah Tuhan menyentuh Yakub, Tuhan bertanya, “Siapakah namamu?” (Kejadian 32:27). Tuhan tentu tahu siapa namanya. Pertanyaan itu bukan karena Tuhan tidak tahu, tetapi karena Yakub harus mengakui siapa dirinya. Dan ketika ia berkata, “Yakub,” Tuhan memberikan identitas yang baru: “Namamu tidak akan disebut lagi Yakub, tetapi Israel.” (Kejadian 32:28). Tuhan bukan hanya menghentikan langkahnya—Tuhan mengubah identitasnya.

Yakub keluar dari malam itu dengan kaki yang pincang. Ia tidak lagi bisa berjalan seperti sebelumnya. Tetapi justru di situlah perubahan dimulai. Ia kehilangan kekuatannya, tetapi menemukan identitasnya. Ia kehilangan kemampuan untuk berlari, tetapi menemukan kemampuan untuk berjalan bersama Tuhan. Ada luka yang Tuhan izinkan bukan untuk mempermalukan kita, tetapi untuk menjadi pengingat bahwa kita pernah berjumpa dengan Tuhan.

Berhentilah berlari. Berhenti lari dari masa lalu. Berhenti lari dari luka. Berhenti lari dari panggilan Tuhan. Berhenti mencoba menyelesaikan semuanya dengan kekuatan sendiri. Mungkin Tuhan sedang menghentikanmu bukan karena Dia ingin membuatmu kalah, tetapi karena Dia ingin membuatmu berubah. Karena selama Yakub terus berlari, ia tetap menjadi Yakub. Tetapi ketika Tuhan menghentikan Yakub, Israel mulai dilahirkan.


BHS

Senin, 07 September 2026

Tidak ada pilihan kecuali Tuhan

 “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42:2 

Gambaran yang sering muncul dalam pikiran kita ketika membaca ayat ini adalah seekor rusa yang sedang berada di padang rumput hijau, lalu datang ke sungai yang sejuk dan meminum air dengan tenang. Tetapi gambaran yang lebih dekat dengan konteks Mazmur 42 adalah rusa yang berada dalam kondisi terdesak—berada di tempat yang kering dan membutuhkan air untuk bertahan hidup. Kerinduannya bukan sekadar, “Aku ingin minum,” tetapi, “Aku membutuhkan air, karena tanpa air aku akan mati.” Di situlah Daud menggambarkan kondisi jiwanya terhadap Tuhan.

Kata “merindukan” dalam bahasa Ibrani menggunakan kata עָרַג (‘arag), yang berarti to long for, pant, yearn ,merindukan dengan sangat dalam, bahkan seperti terengah-engah karena kebutuhan yang mendesak. Kata ini menggambarkan kerinduan yang begitu kuat sampai tubuh seolah-olah ikut mencari apa yang dibutuhkan. Jadi, Daud tidak sedang berbicara tentang kerinduan yang sentimental atau sekadar perasaan emosional kepada Tuhan. Ini adalah longing of the soul, jiwa yang sadar bahwa ada sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh apa pun selain Tuhan sendiri.

Ada perbedaan antara “aku ingin Tuhan” dan “aku membutuhkan Tuhan.” Keinginan masih memberi ruang bagi pilihan lain. Tetapi kebutuhan membuat kita berkata, “Tidak ada pilihan lain.” Kita bisa kehilangan banyak hal dan masih melanjutkan hidup, tetapi ketika jiwa kehilangan Tuhan, ada sesuatu yang paling mendasar di dalam diri kita yang sedang mati. Daud sedang berada di tempat yang kering, dan justru di tempat itulah ia menyadari bahwa tidak ada keberhasilan, kenyamanan, manusia, pelayanan, pengalaman, atau berkat yang dapat menggantikan hadirat Tuhan. Only God can satisfy the longing of the soul.

Mungkin Tuhan sedang membawa kita ke sebuah musim di mana semua “sumber air” yang lain tidak lagi memuaskan. Bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk mengajar kita mengenali satu kerinduan yang paling dalam: Tuhan sendiri. Rusa tidak mencari air karena air itu indah, tetapi karena hidupnya bergantung kepada air itu. Demikian juga kita: jangan sampai Tuhan hanya menjadi salah satu pilihan di antara banyak pilihan. Biarlah jiwa kita sampai pada titik di mana kita dapat berkata, “Tuhan, aku tidak hanya menginginkan Engkau. Aku membutuhkan Engkau. Tidak ada pilihan lain. Hanya Engkau yang dapat memuaskan jiwaku.”


BHS

Minggu, 06 September 2026

Pencernakan yang menolak

 “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4:3–4

Semalam anak saya yang kecil muntah-muntah. Setiap kali dimasukkan minuman, susu, bahkan obat, tubuhnya seperti menolak dan langsung mengeluarkannya kembali. Saat melihat itu, Roh Kudus mengingatkan saya tentang kehidupan rohani kita. Ada kalanya bukan karena tidak ada makanan rohani, tetapi karena ada sesuatu di dalam diri kita yang menolak makanan yang diberikan Tuhan. Firman Tuhan datang untuk memberi kehidupan, tetapi tidak selalu datang dalam bentuk yang kita sukai atau sesuai dengan selera kita.

Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang mencari pengajar sesuai dengan keinginannya. Kita cenderung memilih khotbah yang menghibur, ayat yang menyenangkan, dan pesan yang membuat kita merasa nyaman. Tetapi ketika Firman mulai menegur, mengoreksi, meminta kita bertobat, mengampuni, menyangkal diri, dan taat—sering kali hati kita berkata, “Saya tidak mau menerima ini.” Kita hanya mau mendengar apa yang sesuai dengan keinginan kita, bukan apa yang Tuhan ingin kerjakan dalam hidup kita.

Masalahnya bukan selalu pada makanan rohaninya, tetapi pada kondisi pencernaan rohani kita. Hati yang terbiasa hanya menerima sesuatu yang sesuai dengan keinginan daging akan kesulitan menerima Firman yang keras tetapi menyembuhkan. Kita tidak boleh hanya bertanya, “Apakah saya suka mendengar Firman ini?” Tetapi kita harus bertanya, “Apakah saya mau membiarkan Firman ini mengubah saya?” Karena Firman Tuhan bukan diberikan hanya untuk menyenangkan telinga kita, tetapi untuk membentuk kehidupan kita.

Jangan menjadi orang percaya yang hanya mau “makan” Firman yang sesuai selera, tetapi belajarlah memiliki pencernaan rohani yang sehat. Terimalah Firman ketika menghibur kita, tetapi juga ketika menegur kita. Terimalah ketika menguatkan kita, tetapi juga ketika memotong dan mengoreksi kita. Jangan mencari Firman yang sesuai dengan hidup kita; biarkan hidup kita disesuaikan dengan Firman Tuhan. Sebab kedewasaan rohani bukan diukur dari seberapa banyak Firman yang kita dengar, tetapi dari seberapa banyak Firman yang sanggup kita terima, cerna, dan hidupi.


BHS

Rabu, 02 September 2026

Ikatan Perjanjian dengan Tuhan

 “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?”  Amos 3:3

Perjalanan bersama selalu dimulai dari sebuah kesepakatan. Amos menggambarkan dua orang yang tidak mungkin berjalan bersama menuju arah dan tujuan yang sama tanpa terlebih dahulu menetapkan sebuah perjanjian. Ini bukan sekadar janji dalam pengertian kata-kata, tetapi sebuah agreement, sebuah keselarasan hati, arah, dan tujuan. Perjanjian membuat dua orang berkata, “Aku memilih untuk berjalan bersamamu.”

Mengikat perjanjian berarti menyatukan langkah. Ketika dua orang sudah sepakat, mereka tidak lagi berjalan menurut agenda masing-masing. Mereka belajar menyesuaikan langkah, menghormati arah yang telah disepakati, dan tetap berjalan sekalipun perjalanan menjadi tidak mudah. Dalam perjanjian ada komitmen: aku tidak hanya berjalan bersamamu ketika jalannya menyenangkan, tetapi aku tetap memilih berjalan ketika perjalanan menuntut pengorbanan.

Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk menerima berkat-Nya, tetapi untuk berjalan dalam perjanjian dengan-Nya. Mengikat perjanjian dengan Tuhan berarti menyelaraskan hidup kita dengan kehendak-Nya, ketika Tuhan berkata pergi, kita pergi; ketika Tuhan berkata berhenti, kita berhenti; ketika Tuhan berkata tunggu, kita belajar menunggu. Perjanjian membuat kita berhenti bertanya, “Apa yang aku mau?” dan mulai bertanya, “Apa yang Engkau kehendaki, Tuhan?”

Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengundang kita untuk memperbarui kembali perjanjian itu. Bukan sekadar mengatakan, “Tuhan, aku mau bersama-Mu,” tetapi mengambil keputusan untuk berjalan dalam satu arah dengan Dia. Karena dua orang tidak dapat berjalan bersama tanpa kesepakatan, demikian pula kita tidak dapat berjalan dalam tujuan Tuhan sambil terus mempertahankan agenda kita sendiri. Mengikat perjanjian berarti berkata: “Tuhan, hidupku adalah milik-Mu. Langkahku mengikuti langkah-Mu. Tujuanku mengikuti tujuan-Mu. Ke mana pun Engkau membawa aku, aku memilih untuk berjalan bersama-Mu.”


BHS

Selasa, 01 September 2026

Tambahan Minyak

 “Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.” Matius 25:3-4

Keduanya sama-sama membawa pelita. Keduanya menunggu mempelai dan sama-sama terlihat siap. Tetapi ada satu hal yang membedakan mereka: yang bijaksana membawa minyak tambahan. Artinya, yang membedakan bukan apa yang terlihat di luar, tetapi apa yang mereka persiapkan di dalam. Di akhir zaman ini, Tuhan tidak hanya mencari orang yang pernah menyala, tetapi orang yang memiliki persediaan minyak untuk tetap menyala.

Minyak tambahan berbicara tentang persiapan untuk musim yang panjang. Kita tidak tahu kapan revival akan datang, kapan jawaban doa diberikan, atau kapan janji Tuhan digenapi. Karena itu, pengalaman kemarin tidak cukup untuk hari ini. Kita membutuhkan extra prayer, extra worship, extra Word, extra obedience, extra consecration. Kita harus bersedia berjalan the extra mile ,berdoa lebih lama, menunggu lebih lama, taat lebih jauh, dan tetap percaya ketika belum melihat apa-apa.

Banyak orang berhenti bukan karena Tuhan tidak bekerja, tetapi karena minyak mereka habis di tengah penantian. Revival mungkin belum datang, jawaban doa mungkin belum terlihat, tetapi jangan berhenti mengumpulkan minyak. Seperti para revivalist yang berdoa dan mencari Tuhan jauh sebelum api revival terlihat, kita juga dipanggil untuk membangun kehidupan rahasia bersama Tuhan. Extra mile hari ini mungkin sedang mempersiapkan kita untuk api yang lebih besar besok.

Kita melihat prinsip ini dalam kehidupan para revivalist. Evan Roberts dalam Welsh Revival 1904–1905 tidak tiba-tiba dipakai Tuhan pada saat kebangunan rohani itu pecah. Ada proses panjang doa, pencarian Tuhan, dan kerinduan yang mendalam sebelum revival itu meledak. Ia pernah menekankan kebutuhan akan hati yang sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Tuhan. Revival sering kali terlihat seperti api yang tiba-tiba turun, tetapi biasanya ada “minyak tambahan” yang sudah lama dikumpulkan dalam ruang tersembunyi. doa yang tidak terlihat, ketaatan yang tidak diketahui orang, dan kehidupan yang terus mencari wajah Tuhan ketika belum ada yang melihat hasilnya.

Jadi, jangan hanya bawa pelita tapi bawalah minyak tambahan! Jangan puas dengan iman yang cukup untuk hari ini. Ketika Tuhan meminta kita berjalan lebih jauh, berdoa lebih lama, memberi lebih banyak, dan menunggu lebih sabar, go the extra mile! Karena kita tidak tahu kapan Mempelai datang, kapan revival pecah, atau kapan jawaban doa turun. Pastikan ketika waktunya tiba, api kita masih menyala karena kita masih memiliki minyak.


BHS