Selasa, 15 September 2026

Ketidakpercayaaan Membunuh Janji Tuhan

 “Tetapi perwira yang menjadi ajudan raja menjawab abdi Allah itu, katanya: ‘Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?’ Jawab abdi Allah: ‘Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan dari padanya.’” 2 Raja-raja 7:2

Ada sebuah tragedi dalam ayat ini: Tuhan sudah berfirman, terobosan sudah dijanjikan, tetapi orang yang mendengar janji itu tidak percaya. Melalui nabi Elisa, Tuhan berkata bahwa keesokan harinya kelaparan akan berakhir dan makanan akan berlimpah. Namun panglima itu melihat keadaan, menghitung dengan logikanya, lalu berkata, “Masakan hal itu mungkin terjadi?” Ia tidak mampu mempercayai bahwa Tuhan dapat melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia. Masalahnya bukan Tuhan tidak sanggup melakukan mujizat; masalahnya adalah hati manusia menolak percaya kepada apa yang Tuhan sudah katakan.

Yang paling menyedihkan adalah perkataan Elisa: “Engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan dari padanya.” Dia tidak kehilangan kesempatan untuk melihat mujizat dia justru akan menyaksikannya dengan matanya sendiri. Tetapi dia kehilangan kesempatan untuk mengalaminya. Ketidakpercayaan tidak selalu membuat kita tidak melihat pekerjaan Tuhan; kadang-kadang ketidakpercayaan membuat kita berdiri sangat dekat dengan mujizat, melihat orang lain menikmatinya, sementara kita sendiri tidak mengambil bagian di dalamnya. Karena itu, jangan hanya minta Tuhan memberikan janji; mintalah Tuhan memberikan hati yang percaya ketika janji itu belum terlihat.

Percayalah kepada perkataan Tuhan. Yesaya 55:11 berkata, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki.” Apa yang keluar dari mulut Tuhan tidak pernah sia-sia. Firman-Nya mempunyai tujuan dan kuasa untuk menggenapi apa yang Dia kehendaki. Keadaan boleh berkata “tidak mungkin”, manusia boleh berkata “mustahil”, tetapi Firman Tuhan tetap memiliki kata terakhir. Jangan jadikan keadaan hari ini sebagai ukuran terhadap janji Tuhan untuk hari esok.

Smith Wigglesworth, salah satu penginjil kesembuhan yang menonjol dalam gerakan Pentakosta awal, dikenal karena penekanannya pada iman kepada Firman Tuhan. Dalam sebuah kesaksian pelayanan di Australia pada 1927, seorang perempuan bernama M. Legate Pople menceritakan bahwa ia telah lama menderita dan sebelumnya tidak tertarik pada pelayanan Wigglesworth. Setelah temannya pergi ke pertemuan dan bersaksi mengalami kesembuhan, ia sendiri mulai mencari Tuhan dan meminta didoakan. Dalam kesaksiannya, ia mengatakan bahwa setelah didoakan ia dapat bangun dan berjalan, sesuatu yang sebelumnya tidak mampu ia lakukan. Kisah ini berasal dari laporan kesaksian yang diterbitkan pada masa itu; kita dapat menyebutnya sebagai kesaksian, bukan sebagai verifikasi medis independen.

Jangan menjadi orang yang hanya melihat janji Tuhan digenapi dalam kehidupan orang lain. Percayalah kepada Firman-Nya, pegang perkataan-Nya, dan berjalan dalam iman. Apa yang Tuhan katakan tidak akan kembali dengan sia-sia. Jangan sampai ketidakpercayaan membuatmu melihat apa yang Tuhan kerjakan, tetapi kehilangan kesempatan untuk merasakannya. 


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar