“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4:3–4
Semalam anak saya yang kecil muntah-muntah. Setiap kali dimasukkan minuman, susu, bahkan obat, tubuhnya seperti menolak dan langsung mengeluarkannya kembali. Saat melihat itu, Roh Kudus mengingatkan saya tentang kehidupan rohani kita. Ada kalanya bukan karena tidak ada makanan rohani, tetapi karena ada sesuatu di dalam diri kita yang menolak makanan yang diberikan Tuhan. Firman Tuhan datang untuk memberi kehidupan, tetapi tidak selalu datang dalam bentuk yang kita sukai atau sesuai dengan selera kita.
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang mencari pengajar sesuai dengan keinginannya. Kita cenderung memilih khotbah yang menghibur, ayat yang menyenangkan, dan pesan yang membuat kita merasa nyaman. Tetapi ketika Firman mulai menegur, mengoreksi, meminta kita bertobat, mengampuni, menyangkal diri, dan taat—sering kali hati kita berkata, “Saya tidak mau menerima ini.” Kita hanya mau mendengar apa yang sesuai dengan keinginan kita, bukan apa yang Tuhan ingin kerjakan dalam hidup kita.
Masalahnya bukan selalu pada makanan rohaninya, tetapi pada kondisi pencernaan rohani kita. Hati yang terbiasa hanya menerima sesuatu yang sesuai dengan keinginan daging akan kesulitan menerima Firman yang keras tetapi menyembuhkan. Kita tidak boleh hanya bertanya, “Apakah saya suka mendengar Firman ini?” Tetapi kita harus bertanya, “Apakah saya mau membiarkan Firman ini mengubah saya?” Karena Firman Tuhan bukan diberikan hanya untuk menyenangkan telinga kita, tetapi untuk membentuk kehidupan kita.
Jangan menjadi orang percaya yang hanya mau “makan” Firman yang sesuai selera, tetapi belajarlah memiliki pencernaan rohani yang sehat. Terimalah Firman ketika menghibur kita, tetapi juga ketika menegur kita. Terimalah ketika menguatkan kita, tetapi juga ketika memotong dan mengoreksi kita. Jangan mencari Firman yang sesuai dengan hidup kita; biarkan hidup kita disesuaikan dengan Firman Tuhan. Sebab kedewasaan rohani bukan diukur dari seberapa banyak Firman yang kita dengar, tetapi dari seberapa banyak Firman yang sanggup kita terima, cerna, dan hidupi.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar