Empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: ”Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? [4] Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati. 2 Raja-raja 7:3-4 TB
Dalam 2 Raja-raja 7:3–4, empat orang kusta berada dalam kondisi yang sangat terdesak. Mereka lapar, lemah, dan berada di ambang kematian. Tetapi kelaparan membuat mereka tidak mau diam. Mereka berkata, “Mengapa kita duduk-duduk di sini sampai kita mati?” Mereka menyadari bahwa kalau tetap tinggal di tempat yang sama, mereka akan mati. Ada kelaparan yang membuat seseorang berhenti, tetapi ada kelaparan yang membuat seseorang bergerak mencari kehidupan. Demikian juga secara rohani: ketika kita benar-benar lapar akan Firman, kita tidak akan puas hanya dengan apa yang sudah kita tahu. Kita akan mencari Tuhan, membuka Firman, berdoa, menyembah, dan mengejar pewahyuan-Nya. Karena kalau kita berhenti makan secara rohani, sesuatu di dalam diri kita mulai mati.
Keempat orang kusta itu kemudian bergerak menuju perkemahan orang Aram. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temukan. Tetapi ketika mereka sampai di sana, Tuhan ternyata sudah menyediakan makanan, pakaian, emas, dan perak. Mereka pergi karena lapar, tetapi menemukan provision yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan. Kelaparan mereka menuntun mereka kepada tempat penyediaan Tuhan. Ini juga prinsip rohani: ketika kita lapar akan Firman, Tuhan sering membawa kita kepada pewahyuan di tempat-tempat yang tidak kita duga. Tuhan dapat berbicara melalui proses, melalui padang gurun, melalui orang yang tidak kita sangka, bahkan melalui situasi yang awalnya kita anggap sebagai ancaman. Jangan batasi cara Tuhan berbicara hanya karena pewahyuan itu tidak datang melalui cara yang biasa.
Hari ini banyak orang tidak kehilangan Firman karena Tuhan berhenti berbicara, tetapi karena mereka sudah tidak lapar untuk mendengar. Ketika rasa lapar hilang, kita berhenti mencari. Ketika kita berhenti mencari, kita berhenti menemukan. Dan ketika kita berhenti menerima pewahyuan, kehidupan rohani perlahan menjadi rutinitas. Kalau kita tidak makan, tubuh kita mati; kalau kita tidak makan Firman, manusia roh kita akan melemah. Kalau kita berhenti menyembah Tuhan, hati kita tetap akan mencari sesuatu untuk disembah. Karena itu Tuhan sedang membangkitkan kembali kelaparan di dalam gereja, bukan sekadar kelaparan akan berkat, tetapi kelaparan akan Firman, kelaparan akan hadirat, dan kelaparan untuk mengenal Tuhan.
Jangan duduk sampai mati. Bangkit dan cari Tuhan! Empat orang kusta itu tidak memiliki kepastian tentang apa yang akan mereka temukan, tetapi mereka memiliki satu hal: kelaparan yang membuat mereka bergerak. Dan ketika mereka bergerak, mereka menemukan bahwa Tuhan sudah lebih dahulu menyediakan apa yang mereka perlukan. Kelaparan akan Firman menuntun kita ke tempat di mana Tuhan telah menyediakan pewahyuan. Apa yang sedang Tuhan sediakan mungkin belum terlihat dari tempat kita sekarang. Tetapi ketika kita mulai mencari, berjalan, membaca Firman, berdoa, dan menyembah, Tuhan akan membawa kita ke tempat di mana mata kita terbuka dan kita berkata: “Ternyata Tuhan sudah menyediakan sesuatu di sini.”
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar