Rabu, 09 September 2026

Berkat yang membuat Hati Menyimpang

“Orang Israel melakukan seperti yang dikatakan Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain.”  Keluaran 12:35-36

Israel keluar dari Mesir bukan hanya dengan kebebasan, tetapi juga dengan emas dan perak. Tuhan memperlengkapi mereka dengan kelimpahan. Tetapi padang gurun bukanlah tempat untuk memamerkan emas. Tuhan punya tujuan atas berkat itu: dipersembahkan untuk membangun Kemah Suci, tempat hadirat-Nya.

Namun di Keluaran 32, emas yang seharusnya dipakai untuk menyembah Tuhan justru dilebur menjadi lembu emas. Inilah bahaya berkat: sesuatu yang berasal dari Tuhan dapat membuat hati kita perlahan-lahan berpaling dari Tuhan. Hati yang menyimpang tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Sering kali dimulai ketika kita mulai lebih menikmati pemberian Tuhan daripada Pribadi yang memberi pemberian itu. Kita mulai mengejar berkat, tetapi kehilangan kerinduan kepada Sang Pemberi berkat.

Karena itu, berkat selalu menjadi ujian bagi hati. Ketika belum memiliki apa-apa, kita mudah berkata, “Tuhan adalah segalanya.” Tetapi ketika Tuhan memberikan uang, jabatan, keberhasilan, rumah, pelayanan, atau pengaruh, apakah hati kita masih sama? Jangan sampai tangan kita semakin penuh tetapi hati kita semakin jauh. Jangan sampai berkat yang Tuhan berikan untuk membangun Kerajaan-Nya justru kita gunakan untuk membangun kerajaan kita sendiri.

Maka jangan hanya berdoa, “Tuhan, berkatilah aku,” tetapi berdoalah, “Tuhan, ketika Engkau memberkati aku, jangan biarkan hatiku menyimpang.” Sebab yang Tuhan cari bukan sekadar tangan yang penuh, tetapi hati yang tetap setia. Berkat yang benar bukan hanya membuat kita memiliki lebih banyak, tetapi membuat kita semakin mengasihi, menyembah, dan mempersembahkan lebih banyak kepada Tuhan.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar