“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”Amsal 24:10
Ada sesuatu yang menarik dari ayat ini. Salomo tidak berkata, “Jika engkau mengalami kesesakan, engkau akan kehilangan kekuatan.” Tidak. Yang dikatakan adalah “jika engkau tawar hati.” Artinya, masalahnya bukan hanya pada tekanan yang datang, tetapi pada apa yang terjadi di dalam hati kita ketika tekanan itu datang. Dalam bahasa Ibrani, “tawar hati” memiliki gambaran tentang sesuatu yang mengendur, melemah, atau kehilangan pegangan. Jadi ketika tekanan datang, jangan lepaskan peganganmu kepada Tuhan. Jangan biarkan keadaan di luar membuat hatimu menyerah di dalam.
Justru sering kali tekanan adalah tempat di mana kekuatan kita dibangun. Besi tidak menjadi kuat ketika dibiarkan begitu saja; ia ditempa melalui panas dan tekanan. Demikian juga iman. Ada musim ketika Tuhan mengizinkan kita melewati tekanan bukan karena Dia meninggalkan kita, tetapi karena melalui proses itu Dia sedang membentuk ketekunan, karakter, dan kedewasaan kita. Yakobus 1:3-4 mengatakan bahwa ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan. Jadi ketika tekanan datang, jangan langsung berkata, “Tuhan, mengapa ini terjadi?” Belajarlah berkata, “Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk di dalam aku melalui semua ini?”
Lihat kehidupan Smith Wigglesworth, salah satu tokoh penting dalam gerakan Pentakosta awal. Ia lahir dalam keluarga miskin, mulai bekerja sejak usia enam tahun, memiliki pendidikan formal yang sangat terbatas, dan baru dikenal luas ketika usianya sekitar 48 tahun. Namun keterbatasan masa lalunya tidak menjadi alasan untuk berhenti mengejar Tuhan. Setelah mengalami baptisan Roh Kudus pada 1907, pelayanannya berkembang luas dan ia kemudian dikenal sebagai penginjil kesembuhan. Dalam pelayanan tahun 1922 di Australia, laporan-laporan sezamannya mencatat banyak orang yang memberikan kesaksian tentang kesembuhan dan pertobatan dalam pertemuan-pertemuannya. Kesaksian-kesaksian tersebut adalah laporan sejarah dari sumber gerakan Pentakosta dan tidak semuanya dapat diverifikasi secara independen, tetapi kisah hidupnya jelas menunjukkan satu hal: keterbatasan bukan alasan untuk menjadi tawar hati.
Hari ini mungkin ada tekanan dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, keuangan, kesehatan, atau masa depan. Tetapi ingat Amsal 24:10: jangan tawar hati! Jangan mengambil keputusan permanen hanya karena sedang berada dalam tekanan sementara. Jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum datang. Jangan berhenti percaya hanya karena keadaan belum berubah. Hari tekanan bukan hari untuk melepaskan Tuhan; justru hari tekanan adalah hari untuk berpegang lebih kuat kepada Tuhan. Sebab ketika kekuatan kita habis, kasih karunia-Nya tidak pernah habis. Tekanan boleh datang, air mata boleh jatuh, tetapi hati kita tetap berkata: “Aku tidak akan menyerah. Tuhan masih memegang hidupku.”
Happy Monday Guys
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar