“Dan tabut TUHAN itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, tiga bulan lamanya. Dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.” 2 Samuel 6:11
Rumah Obed-Edom bukan hanya berbicara tentang sebuah bangunan, tetapi mengingatkan kita tentang rumah yang lebih dalam: rumah hati. Tabut Tuhan tinggal di rumah Obed-Edom, dan kehadiran itu membawa perubahan. Demikian juga hati kita seharusnya menjadi tempat di mana hadirat Tuhan terus tinggal. Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya pernah mengalami hadirat Tuhan?” tetapi, “Apakah hati saya menjadi tempat di mana hadirat Tuhan terus tinggal?” Jangan hanya mencari hadirat Tuhan untuk dikunjungi; jadikan hatimu tempat hadirat Tuhan tinggal.
Kita sering datang kepada Tuhan untuk mengalami hadirat-Nya, tetapi setelah ibadah selesai, kita kembali hidup seolah-olah Tuhan tidak ada. Hadirat Tuhan menjadi pengalaman sesaat, bukan kediaman tetap. Ada perbedaan antara dikunjungi dan didiami. Obed-Edom mengalami tabut Tuhan yang tinggal di rumahnya. Demikian juga Tuhan tidak mencari hati yang hanya sesekali tersentuh oleh hadirat-Nya; Dia menghendaki hati yang menjadi kediaman-Nya. Jangan biarkan hati menjadi tempat Tuhan hanya datang; jadikan hati tempat Tuhan tinggal.
Ketika tabut Tuhan tinggal di rumah Obed-Edom, rumah itu berubah. Demikian juga ketika hadirat Tuhan benar-benar tinggal di dalam hati, hidup kita tidak mungkin tetap sama. Hadirat-Nya mulai mengatur pikiran, membersihkan motivasi, menundukkan keinginan, menjaga perkataan, dan mengarahkan langkah. Hadirat Tuhan bukan hanya membuat kita merasakan sesuatu; hadirat Tuhan membuat sesuatu berubah di dalam kita. Hati yang menjadi kediaman Tuhan akan menghasilkan kehidupan yang membawa dampak di luar.
Karena itu, jagalah rumah hati ini. Jangan biarkan apa pun mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Tabut harus tetap berada di dalam rumah; hadirat Tuhan harus tetap berada di dalam hati. Obed-Edom mengalami perubahan karena tabut Tuhan tinggal di rumahnya; kita pun akan mengalami perubahan ketika hadirat Tuhan tinggal di hati kita. Yang Tuhan cari bukan hanya rumah yang dikunjungi-Nya, tetapi hati yang menjadi tempat kediaman-Nya.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar