Rasul Paulus the Apostle adalah contoh nyata seseorang yang melewati musim ujian yang panjang. Ia mengalami kapal karam, dipenjara, dianiaya, bahkan sering hidup dalam kelaparan dan kedinginan. Dalam 2 Korintus 11:27 ia menulis bahwa ia pernah hidup “dalam kelaparan dan kehausan, dalam kedinginan dan tanpa pakaian.” Namun semua penderitaan itu tidak menghentikan panggilan Tuhan dalam hidupnya. Justru melalui musim ujian itu, Tuhan sedang membentuk dan menajamkan hidup Paulus untuk tugas yang jauh lebih besar bagi Kerajaan-Nya.
Sering kali kita juga masuk ke musim yang melemahkan, musim di mana doa terasa berat, jalan terasa sempit, dan kekuatan seakan berkurang. Tetapi Alkitab mengingatkan bahwa ujian bukanlah tanda kegagalan iman. Sebaliknya, ujian adalah alat Tuhan untuk memurnikan dan memperkuat iman kita. Seperti tertulis dalam Yakobus 1:2–3, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Musim ujian adalah tempat di mana karakter rohani ditempa.
Kemenangan yang dilihat orang di depan umum hampir selalu memiliki cerita yang tersembunyi di belakangnya. Di balik kemenangan publik selalu ada private pain ,air mata yang tidak terlihat, doa yang dipanjatkan dalam kesunyian, dan pergumulan yang hanya diketahui oleh Tuhan. Paulus sendiri memahami hal ini ketika ia berkata dalam 2 Korintus 4:17 bahwa penderitaan ringan yang sekarang ini sedang mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang jauh lebih besar. Artinya, Tuhan sering memakai musim ujian untuk mempersiapkan kita bagi kemuliaan yang lebih besar di masa depan.
Karena itu jangan cepat menyerah ketika sedang berada dalam musim ujian. Bisa jadi Tuhan sedang menajamkan hidupmu untuk sesuatu yang lebih besar daripada yang dapat kamu lihat hari ini. Seperti yang pernah dikatakan oleh A. W. Tozer, “It is doubtful whether God can bless a man greatly until He has hurt him deeply.” Tuhan tidak pernah membuang musim penderitaan; Ia memakainya untuk membentuk hati yang siap memikul kemuliaan-Nya.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar