Senin, 16 Maret 2026

Tinggalkan Terafimmu

             Dalam Kitab Hakim-hakim 17:5 kita melihat gambaran yang sangat tajam tentang hati yang mendua. Mikha membuat sebuah kuil di rumahnya, membuat efod, dan juga membuat terafim. Efod adalah simbol penyembahan kepada Allah Israel, sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan imam. Tetapi di tempat yang sama ia juga menaruh terafim, patung berhala yang disembah. Dua sistem penyembahan berdiri berdampingan. Di satu sisi ada simbol Tuhan, di sisi lain ada berhala.

Inilah bentuk hati yang terbagi. Mikha tidak sepenuhnya meninggalkan Tuhan, tetapi ia juga tidak sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Ia ingin tetap terlihat menyembah Allah, tetapi ia juga ingin mempertahankan sesuatu yang memberi rasa aman menurut caranya sendiri. Efod tetap ada, tetapi terafim juga tidak dibuang. Penyembahan kepada Tuhan bercampur dengan sesuatu yang lain.

Padahal Tuhan sudah berkata dengan sangat jelas dalam Kitab Keluaran 20:3, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Tuhan tidak pernah menerima penyembahan yang bercampur. Dia tidak berbagi takhta dengan apa pun. Ketika hati mencoba memegang Tuhan dan berhala sekaligus, sebenarnya hati itu sudah tidak lagi sepenuhnya milik Tuhan.

Kisah Mikha menjadi cermin bagi banyak kehidupan rohani. Seseorang bisa memiliki “efod”—pelayanan, ibadah, aktivitas rohani—tetapi di dalam hatinya masih ada “terafim” yang disimpan. Hal-hal yang diam-diam kita pertahankan selain Tuhan. Tuhan tidak hanya melihat bentuk ibadah kita; Dia melihat apakah hati kita utuh atau terbagi. Sebab Tuhan tidak mencari penyembah yang mendua hati, tetapi hati yang sepenuhnya hanya milik-Nya


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar