Sering kali kita berpikir bahwa peperangan terbesar adalah melawan iblis di luar sana. Namun kebenarannya, kemenangan atas iblis sudah diselesaikan oleh Kristus lebih dari 2000 tahun yang lalu. Di kayu salib, kuasa kegelapan telah dipatahkan. Jadi peperangan kita hari ini bukan untuk menang, tetapi untuk hidup dari kemenangan itu. Iblis sudah dikalahkan di kayu salib, tetapi diri harus ditaklukkan setiap hari—karena di situlah kemenangan itu menjadi nyata.
Rasul Paulus mengajarkan bahwa peperangan utama sekarang terjadi di dalam diri ,pikiran, perasaan, dan kehendak. Dalam 2 Korintus, ia berkata: “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” Ini menunjukkan bahwa setiap hari ada proses aktif: menolak pikiran yang salah, mengalahkan perasaan yang tidak selaras dengan kebenaran, dan memilih kehendak Tuhan di atas keinginan diri. Peperangan ini tidak terlihat, tetapi sangat menentukan arah hidup.
Paulus sendiri jujur tentang pergumulannya. Dalam Roma, ia berkata: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Ini menunjukkan bahwa bahkan seorang rasul pun harus terus belajar menaklukkan dirinya. Kemenangan rohani bukan berarti tidak ada pergumulan, tetapi tetap memilih kebenaran di tengah pergumulan.
Karena itu, hidup Kristen adalah kehidupan disiplin rohani: menyangkal diri, memperbaharui pikiran, dan berjalan dalam Roh setiap hari. Kita tidak sedang berjuang untuk mengalahkan iblis, Yesus sudah melakukannya. Kita sedang belajar menundukkan diri agar hidup kita selaras dengan kemenangan itu. Saat pikiran ditaklukkan, perasaan ditundukkan, dan kehendak diserahkan, maka hidup kita menjadi bukti bahwa salib benar-benar berkuasa.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar