Rabu, 18 Maret 2026

Sumur yang tidak lagi keluar air

           Gambaran sumur yang tidak lagi mengalir bukan sekadar tentang kekeringan, itu adalah tragedi rohani. Sesuatu yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ruang tertutup. Sumur itu masih ada bentuknya, masih dikenali, bahkan mungkin masih dihormati, tetapi esensinya sudah hilang. Air tidak lagi mengalir. Dan ketika aliran berhenti, sumur itu perlahan berubah fungsi—bukan lagi tempat memberi hidup, tetapi tempat mengurung kehidupan.

Inilah potret hidup yang terjebak dalam hal-hal lama. Sesuatu yang dulu benar-benar dari Tuhan, dulu penuh api, dulu mengalir—tetapi tidak lagi diperbaharui. Kita masih memegangnya, masih mempertahankannya, bahkan menyebutnya sebagai “Tuhan”, padahal yang kita genggam hanyalah bentuk tanpa hadirat. Di titik ini, kita tidak sadar bahwa kita sedang hidup dari masa lalu, bukan dari aliran Tuhan yang sekarang.

Seperti Yusuf yang dimasukkan ke dalam penjara (Kejadian 39:20), banyak orang tidak sadar bahwa mereka juga sedang “dipenjara”—bukan oleh dosa yang kelihatan, tetapi oleh sesuatu yang tampak rohani. Inilah jebakan roh agamawi: ketika sesuatu yang dulunya hidup menjadi sistem, menjadi pola, menjadi rutinitas yang tidak lagi mengandung kehidupan. Kita merasa aman karena masih ada “sumur”, padahal sumur itu sudah tidak mengalir. Dan tanpa disadari, kita tidak sedang tinggal di sumber, kita sedang tinggal di penjara.

Kedalaman panggilan Tuhan adalah ini: bukan sekadar kembali ke sumur, tetapi memastikan sumur itu tetap mengalir. Tuhan tidak pernah statis. Hadirat-Nya selalu bergerak, selalu segar, selalu baru. Maka kunci kebebasan adalah kerendahan hati untuk melepaskan apa yang sudah tidak mengalir, walaupun itu pernah dipakai Tuhan. Ketika kita berani meninggalkan bentuk tanpa kehidupan dan kembali kepada Pribadi yang hidup, di situlah sumur itu dibuka kembali, dan aliran kehidupan kembali membebaskan kita.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar