Ada musim di mana hidup terasa seperti menabur dengan air mata,sunyi, berat, dan tidak terlihat hasilnya. Namun firman Tuhan berkata dalam Mazmur 126:5 bahwa “orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai.” Ini bukan sekadar janji penghiburan, tetapi hukum rohani: setiap air mata yang lahir dari ketaatan dan pengorbanan tidak pernah sia-sia. Di balik setiap tangisan, ada benih yang sedang ditanam dalam tanah yang dalam.
Ketika seseorang mengandung pengorbanan, sesungguhnya ia sedang mengandung sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Pengorbanan bukan tanda kehilangan, tetapi tanda kehamilan rohani. Sama seperti seorang ibu yang mengandung dalam diam, tidak semua orang melihat prosesnya, namun kehidupan sedang dibentuk di dalamnya. Dan pada waktunya, apa yang tersembunyi itu akan lahir sebagai kemuliaan.
Yesus sendiri mengingatkan dalam Matius 24:7-8 bahwa bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan itu adalah “permulaan penderitaan”—birth pains, sakit bersalin. Dunia melihatnya sebagai kekacauan, tetapi secara rohani itu adalah tanda bahwa sesuatu sedang akan dilahirkan. Rasa sakit bukan akhir; itu adalah tanda bahwa kelahiran sudah dekat.
Karena itu, jangan menyerah di musim air mata. Jika hari-hari ini terasa berat, bisa jadi engkau sedang berada di ambang kelahiran. Tetaplah setia, tetaplah mengandung dalam iman, karena kemuliaan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari proses. Apa yang engkau tabur dalam air mata hari ini, akan engkau tuai dalam sorak-sorai dan apa yang engkau kandung dalam pengorbanan, akan engkau lahirkan sebagai kemuliaan.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar