Selasa, 12 Mei 2026

Jalan Kehambaan

        Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; Matius 20:26-27 TB

Tuhan memang memanggil kita untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Namun jalan untuk menjadi “kepala” dalam Kerajaan Allah sangat berbeda dengan sistem dunia. Dunia mengajarkan seseorang untuk meninggikan diri, mencari posisi, dan mengejar penghormatan. Tetapi Yesus justru berkata bahwa siapa yang ingin menjadi terbesar harus belajar menjadi pelayan. Jalan kehambaan adalah jalan menuju promosi Tuhan. Kerajaan Allah dibangun bukan di atas ambisi manusia, tetapi di atas hati yang rela merendahkan diri dan melayani.

Banyak orang ingin dipakai Tuhan secara besar bukan?  tetapi apakah banyak yang mau hidup dalam kerendahan hati dan melalui jalan kehambaan?. Tidak semua orang mau tetap setia ketika tidak dihargai, tetap mengasihi ketika disalahpahami, atau tetap melayani tanpa mencari pengakuan. Padahal justru di situlah Tuhan membentuk motivasi hati seseorang. Kerajaan Allah tidak mempercayakan otoritas kepada orang yang mengejar kemuliaan diri, tetapi kepada mereka yang telah mati terhadap ego dan kepentingan pribadi. Semakin seseorang belajar menjadi hamba, semakin Tuhan dapat mempercayakan otoritas Kerajaan kepadanya

Yesus sendiri menjadi teladan utama. Ia adalah Raja di atas segala raja, tetapi memilih membasuh kaki murid-murid-Nya dan datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Salib menunjukkan bahwa dalam Kerajaan Allah, kerendahan hati selalu mendahului kemuliaan. Seperti perkataan C. S. Lewis, “Humility is not thinking less of yourself, but thinking of yourself less.” Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri secara palsu, tetapi hidup dengan hati yang menempatkan Tuhan dan orang lain lebih utama daripada diri sendiri.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar