Mazmur 50:2 berkata, “Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.”
Dari dahulu Sion dikenal sebagai tempat hadirat Tuhan dinyatakan. Bukan sekadar gunung secara fisik, tetapi lambang dari perjumpaan dengan Allah. Ada undangan sorga bagi setiap orang percaya untuk terus naik lebih tinggi, masuk kepada hadirat yang lebih dalam, lebih pekat, dan lebih intim dengan Tuhan. Sebab di sana, manusia tidak hanya mencari jawaban, tetapi menemukan keindahan pribadi-Nya sendiri. Dan ketika seseorang mulai terpikat kepada keindahan Tuhan, dunia perlahan kehilangan daya tariknya.
Ibrani 12:22 berkata, “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi...” Ini adalah panggilan untuk naik mendekat kepada Tuhan. Banyak orang ingin tangan Tuhan, tetapi sedikit yang sungguh mengejar wajah-Nya. Padahal di puncak hadirat, hati manusia dipulihkan, mata rohani dibukakan, dan jiwa kembali menemukan arah hidupnya. Semakin dekat kepada Tuhan, semakin terang hidup kita di tengah dunia yang gelap.
“Orang yang menikmati hadirat Tuhan tidak perlu berjuang mencari terang dunia, sebab wajah Tuhan sendiri akan menjadi cahaya yang menerangi hidupnya.”
Ketika Musa naik ke gunung dan tinggal dalam hadirat Tuhan, wajahnya bercahaya. Demikian juga hidup orang yang tinggal dalam hadirat-Nya akan memancarkan terang tanpa dipaksa. Tuhan sendiri menjadi benteng, perlindungan, dan sinar kehidupan bagi mereka yang tinggal dekat dengan-Nya. Di tengah zaman yang penuh kegelapan, ketakutan, dan kebisingan dunia, Tuhan sedang memanggil gereja-Nya kembali naik ke Sion — bukan untuk sekadar menerima berkat, tetapi untuk menikmati Pribadi-Nya. Sebab di hadirat-Nya ada kepenuhan sukacita dan keindahan yang tidak dapat diberikan dunia.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar