Sering kali kita mendengar kalimat, “Tuhan mengasihimu.” Kalimat itu begitu akrab di telinga orang percaya. Kita menyanyikannya dalam lagu, mendengarnya dalam khotbah, bahkan mengucapkannya kepada orang lain. Tetapi pertanyaannya: kapan terakhir kali kita benar-benar mengalami kasih Tuhan secara pribadi? Tidak sedikit orang mengenal konsep kasih Bapa, tetapi hatinya tetap kering, letih, dan merasa jauh. Mengerti kasih Tuhan secara pikiran tidak selalu berarti hidup dalam pengalaman kasih itu. Padahal Tuhan tidak pernah rindu hubungan yang hanya sebatas teori. Ia rindu anak-anak-Nya mengalami pelukan kasih-Nya setiap hari. Seperti tertulis di
yeremiah 31:3, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.”
Kasih Tuhan adalah kasih yang tetap tinggal bahkan ketika manusia berubah. Kasih-Nya tidak dibangun di atas performa kita, tetapi di atas hati-Nya sebagai Bapa. Ada musim di mana kita jatuh, kecewa, lelah melayani, bahkan merasa tidak layak datang kepada Tuhan. Namun justru di saat itulah Tuhan mendekat dan berkata, “Aku masih mengasihimu.” Banyak orang mengejar mujizat, lawatan, dan urapan, tetapi lupa bahwa inti dari semuanya adalah hubungan kasih dengan Bapa. Tuhan tidak hanya ingin kita bekerja bagi-Nya; Ia ingin kita tinggal dekat di hati-Nya. Seperti perkataan Charles Spurgeon: “Tidak ada yang lebih menguatkan jiwa selain mengetahui bahwa kita dikasihi oleh Tuhan.”
Hari ini, jangan hanya mengingat kasih Tuhan sebagai sebuah doktrin. Datanglah kembali dan alami kasih-Nya secara nyata. Duduklah di hadapan-Nya. Biarkan Roh Kudus melembutkan hati yang mungkin sudah terlalu lama sibuk, keras, dan penuh beban. Kasih Tuhan masih sama seperti pertama kali Ia memanggilmu. Ia tidak lelah mengejar dan memulihkanmu. Mungkin dunia membuatmu merasa ditolak, tetapi Bapa tetap membuka tangan-Nya. Mari kembali mengalami kasih yang kekal itu, kasih yang menyembuhkan, memulihkan, dan menghidupkan kembali api di hati kita.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar