"Berfirmanlah Tuhan kepada Gideon: 'Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.'" Hakim-Hakim 7:2
Sebelum peperangan dimulai, Tuhan melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh manusia. Masalah terbesar Israel bukanlah orang Midian, melainkan potensi kesombongan yang tersembunyi di dalam hati mereka. Tuhan tahu bahwa jika mereka menang dengan jumlah yang besar, mereka bisa saja berkata, "Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku." Karena itu Tuhan mengurangi jumlah mereka hingga hanya tersisa 300 orang. Tuhan lebih memilih pasukan yang kecil daripada hati yang besar dalam kesombongan.
Memegahkan diri adalah kecenderungan manusia yang paling halus. Ketika doa dijawab, pelayanan berhasil, usaha berkembang, atau pintu-pintu terbuka, hati manusia mudah mulai mengambil kredit atas apa yang sebenarnya dikerjakan oleh Tuhan. Tanpa disadari, fokus bergeser dari anugerah Tuhan kepada kemampuan diri sendiri. Apa yang semula menjadi kesaksian tentang kebaikan Tuhan berubah menjadi panggung untuk meninggikan diri.
Karena itulah Tuhan begitu menghargai kerendahan hati. Orang yang rendah hati tidak menyangkal kemampuan yang Tuhan berikan, tetapi ia menyadari bahwa semua yang dimilikinya berasal dari Tuhan. Ia tidak berkata, "Aku berhasil karena aku hebat," melainkan, "Aku berhasil karena Tuhan berbelas kasihan kepadaku." "Ketika kita mulai memegahkan diri, kita mengambil kemuliaan yang bukan milik kita; tetapi ketika kita merendahkan diri, kita memberi tempat bagi Tuhan untuk dimuliakan."
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar