Amsal 25:11 (TB)
"Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak."
Tidak semua hal yang Tuhan tunjukkan harus langsung diceritakan. Ada pewahyuan yang memang perlu dibagikan, tetapi ada juga yang harus disimpan sampai waktunya tiba. Yusuf adalah contoh seseorang yang menerima mimpi dari Tuhan, tetapi karena masih muda dan belum matang, ia menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Mimpi itu memang berasal dari Tuhan, tetapi waktu penyampaiannya belum tepat. Akibatnya, perkataan yang seharusnya membawa pengharapan justru memicu iri hati, kebencian, dan penolakan. Yusuf memiliki pewahyuan yang benar, tetapi belum memahami pentingnya waktu.
Sebaliknya, Maria memberikan teladan yang berbeda. Ketika menerima kabar yang luar biasa dari Tuhan melalui malaikat, Alkitab mencatat bahwa ia menyimpan dan merenungkan semua perkara itu di dalam hatinya. Maria tidak terburu-buru mencari pengakuan manusia atau membicarakan apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidupnya. Ia mengerti bahwa tidak semua janji harus diumumkan saat diterima. Ada musim untuk menerima, ada musim untuk menyimpan, dan ada musim untuk melihat penggenapannya. Kerendahan hati dan kedewasaan sering kali terlihat dari kemampuan seseorang menjaga apa yang Tuhan percayakan kepadanya.
Banyak orang kehilangan sesuatu bukan karena Tuhan tidak berbicara, tetapi karena mereka terlalu cepat berbicara tentang apa yang Tuhan katakan. Tidak setiap pewahyuan membutuhkan publikasi. Terkadang benih yang baru ditanam harus terlebih dahulu berakar di dalam tanah sebelum terlihat oleh banyak orang. Mintalah hikmat untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Sebab perkataan yang tepat pada waktunya adalah seperti apel emas di pinggan perak, tetapi perkataan yang benar pada waktu yang salah dapat menjadi sumber kesalahpahaman dan perlawanan. Orang yang dewasa bukan hanya tahu apa yang harus dikatakan, tetapi juga tahu kapan harus mengatakannya.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar