"Lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria... Lalu Ia berkata kepada orang itu: 'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.'" (Lukas 17:16,19)
Sepuluh orang kusta menerima mujizat yang sama, tetapi hanya satu yang kembali kepada Yesus. Menariknya, orang Samaria ini tidak hanya datang mengucapkan terima kasih. Alkitab mencatat bahwa ia tersungkur di depan kaki Yesus. Kata ini menggambarkan postur penyembahan, penghormatan, dan penundukan diri yang dalam. Ia meletakkan wajahnya ke tanah di hadapan Sang Juruselamat. Ia memahami bahwa berkat yang diterimanya tidak lebih penting daripada Pribadi yang memberikannya. Ketika yang lain menikmati kesembuhan, orang Samaria ini memilih untuk kembali dan menghormati Yesus.
Kepada sembilan orang lainnya, Yesus tidak mengucapkan apa-apa selain mempertanyakan keberadaan mereka. Namun kepada orang yang tersungkur ini, Yesus berkata, "Imanmu telah menyelamatkan engkau." Dalam beberapa terjemahan, makna kata Yunani sozo yang digunakan di sini bukan hanya menunjuk pada kesembuhan fisik, tetapi juga keselamatan, pemulihan, dan keutuhan. Kesembuhan mengubah tubuhnya, tetapi penyembahan dan penghormatan kepada Yesus membawa dia kepada sesuatu yang lebih dalam: kehidupan yang dipulihkan secara utuh.
Ada berkat yang kita terima karena kasih karunia Tuhan, tetapi ada dimensi keintiman dan keutuhan yang lahir ketika kita datang kembali untuk menyembah-Nya. Orang Samaria itu mengajarkan bahwa mujizat terbesar bukanlah kulit yang sembuh dari kusta, melainkan hati yang tersungkur di hadapan Tuhan. Ketika seseorang mengambil posisi hormat, syukur, dan penyembahan di kaki Yesus, Tuhan tidak hanya memulihkan sebagian hidupnya, Dia memulihkan hidup itu secara utuh.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar