"Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala." (1 Yohanes 5:21)
Berhala tidak selalu berbentuk patung. Berhala adalah apa pun yang merebut takhta hati yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Apa yang paling kita pikirkan, paling kita kejar, dan paling kita takut kehilangan sering kali itulah yang sebenarnya kita sembah. Uang, pekerjaan, pelayanan, keluarga, bisnis, jabatan, bahkan mimpi dan ambisi dapat berubah menjadi berhala ketika semuanya lebih kita utamakan daripada Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan berfirman, "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." (Keluaran 20:3). Tuhan tidak hanya menginginkan aktivitas penyembahan kita; Dia menuntut takhta hati kita sepenuhnya.
Bangsa Israel tidak meninggalkan Tuhan dalam satu malam. Kejatuhan selalu dimulai dari kompromi kecil yang dibiarkan. Mereka mulai mengagumi budaya bangsa-bangsa di sekitar mereka, lalu bergaul dengan ilah-ilah asing, hingga akhirnya sujud kepada Baal. Mazmur 106 menggambarkan bagaimana mereka melupakan karya-karya Tuhan dan berpaling kepada allah lain. Penyembahan berhala selalu dimulai ketika kekaguman kepada Tuhan digantikan oleh ketertarikan kepada dunia. Apa yang kita kagumi pada akhirnya akan menentukan apa yang kita sembah.
Renungkan pertanyaan ini: Apa berhalaku hari ini? Apa yang paling sulit kulepaskan jika Tuhan memintanya? Apa yang paling menguasai pikiranku ketika aku bangun pagi dan sebelum aku tidur malam? Jangan sampai kita masih menyebut Yesus sebagai Juruselamat, tetapi hati kita sebenarnya diperintah oleh sesuatu yang lain. Berhala tidak selalu membuat kita meninggalkan gereja, tetapi berhala perlahan membuat kita meninggalkan hadirat Tuhan.
Hari ini Roh Kudus sedang memanggil umat-Nya untuk kembali. Runtuhkan setiap berhala sebelum berhala itu meruntuhkan panggilanmu. Bakar setiap kompromi sebelum kompromi itu memadamkan api Tuhan dalam hidupmu. Ketika berhala jatuh, Raja Kemuliaan kembali bertakhta. Dan ketika Kristus kembali menjadi pusat hidup kita, kuasa-Nya mengalir, kekudusan-Nya dinyatakan, dan kebangunan rohani dimulai dari dalam hati yang sepenuhnya menjadi milik-Nya.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar