"Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun yang ada padanya akan diambil." (Matius 25:29)
Sekilas ayat ini terdengar tidak adil. Namun dalam Perumpamaan Talenta, masalahnya bukan karena hamba itu memiliki sedikit, melainkan karena ia malas. Ia tidak mengembangkan apa yang dipercayakan kepadanya. Talenta itu dikubur, bukan dipakai untuk menghasilkan buah.
Kehidupan John Wesley menjadi bukti prinsip ini. Selama lebih dari 50 tahun ia berkhotbah sekitar 40.000 kali dan menempuh ratusan ribu kilometer dengan menunggang kuda untuk memberitakan Injil. Ia tidak mengubur karunia yang Tuhan berikan. Kesetiaannya melahirkan kebangunan rohani yang mengubah Inggris dan menjangkau banyak bangsa. Tuhan terus menambahkan pengaruh karena ia terus mengembangkan apa yang dipercayakan kepadanya.
Kemalasan sering kali tidak terlihat dalam bentuk tidur atau bermalas-malasan. Kemalasan rohani dapat muncul ketika seseorang terus menunda ketaatan, enggan belajar Firman, tidak mau melayani, atau puas dengan keadaan rohaninya saat ini. Orang yang malas selalu memiliki alasan, tetapi orang yang setia selalu menemukan cara untuk bertumbuh. Tuhan tidak pernah memberkati alasan, tetapi Dia memberkati ketaatan dan kerja keras yang lahir dari hati yang mengasihi-Nya.
Tuhan adalah Allah yang menyukai pertumbuhan dan produktivitas. Di dalam Kerajaan Allah tidak ada ruang bagi kemalasan. Tuhan tidak mencari orang yang paling berbakat, tetapi orang yang setia mengembangkan apa yang dipercayakan-Nya. Apa yang dikerjakan akan dilipatgandakan, tetapi apa yang dikubur karena malas pada akhirnya akan hilang. Jangan kubur talenta Anda. Kerjakan, kembangkan, dan biarkan Tuhan mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar