Senin, 13 Juli 2026

Berhentilah Sejenak dan Mengucap Syukur

"Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" — Mazmur 103:2

Ada saatnya kita harus berhenti. Bukan karena menyerah, tetapi karena terlalu lama berlari membuat kita lupa kepada Siapa kita berlari. Dunia mengajarkan kita untuk terus mengejar: lebih banyak, lebih tinggi, lebih cepat. Akibatnya, kita menjadi ahli meminta, tetapi miskin mengucap syukur. Kita mengingat doa yang belum dijawab, namun melupakan ratusan doa yang sudah Tuhan genapi. Hati yang kehilangan ucapan syukur perlahan akan kehilangan kepekaan terhadap hadirat Tuhan.

Iblis tidak selalu harus menghancurkan hidup seseorang dengan dosa besar. Cukup membuatnya lupa akan kasih karunia Tuhan. Ketika Israel melupakan bagaimana Tuhan membelah Laut Teberau, menurunkan manna, dan memimpin mereka dengan tiang awan dan tiang api, mereka mulai bersungut-sungut. Mereka lebih mengingat kesulitan hari ini daripada mukjizat kemarin. Keluhan adalah tanda memori rohani yang mulai hilang. Sebaliknya, syukur adalah bukti bahwa kita masih mengenali jejak tangan Tuhan dalam hidup kita.

Berhentilah sejenak. Lihatlah hidup kita. Jika hari ini kita masih bernapas, itu anugerah. Jika kita masih memiliki kesempatan bertobat, melayani, mengasihi keluarga, dan menyembah Tuhan, itu bukan karena kita kuat, tetapi karena kemurahan-Nya belum berakhir. Jangan hanya datang kepada Tuhan saat membutuhkan sesuatu. Datanglah untuk mengingat siapa Dia. Orang yang mengingat kasih karunia tidak akan mudah kecewa, dan orang yang hidup dalam ucapan syukur akan tetap berdiri teguh, bahkan ketika doa-doanya belum semuanya terjawab.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar