"Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa..." (1 Korintus 4:15)
Kita hidup di zaman ketika pengajaran tersedia di mana-mana. Dalam hitungan detik kita bisa mendengar puluhan khotbah, mengikuti banyak seminar, dan belajar dari berbagai hamba Tuhan. Namun, di tengah limpahnya pengajaran, Firman Tuhan justru berkata bahwa yang langka bukanlah guru, melainkan bapa. Pertanyaannya bukan lagi, "Siapa gurumu?" tetapi "Siapa bapamu?" Siapa yang mengenal hidupmu, menegur ketika engkau salah, mendoakanmu saat engkau lemah, membentuk karaktermu, dan berjalan bersamamu hingga engkau menjadi serupa dengan Kristus? Tanpa seorang bapa rohani, pengetahuan mudah menghasilkan kesombongan, tetapi kehidupan tidak pernah mengalami kedewasaan.
Rasul Paulus tidak hanya mengajar jemaat Korintus; ia melahirkan mereka melalui Injil. Ia memberikan hidupnya, bukan sekadar ilmunya. Seorang guru dapat mengisi pikiran, tetapi seorang bapa membentuk hati. Guru dapat menginspirasi dari kejauhan, tetapi bapa hadir di tengah proses. Guru menciptakan kekaguman, sedangkan bapa membangun warisan. Karena itu, gereja tidak hanya membutuhkan lebih banyak pengkhotbah yang fasih, tetapi lebih banyak bapa dan ibu rohani yang rela berkorban agar generasi berikutnya bertumbuh.
Hari ini Tuhan sedang memanggil gereja kembali kepada hati seorang bapa. Jangan puas hanya menjadi orang yang pandai mengajar, tetapi miskin dalam pewarisan kehidupan. Dan jangan hanya mencari guru yang memberi pengetahuan, tetapi carilah bapa yang membentuk hidupmu. Sebab masa depan gereja tidak ditentukan oleh banyaknya informasi yang kita dengar, melainkan oleh hadirnya bapa-bapa rohani yang melahirkan, membimbing, dan mewariskan iman kepada generasi berikutnya.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar