Kamis, 26 Februari 2026

Tuhan pemilik Waktu

        Waktu bukan sekadar angka di jam. Waktu adalah alat di tangan Tuhan. Dalam Efesus 5:16 tertulis: “Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Kata “pergunakanlah” dalam bahasa Yunani adalah exagorazō (ἐξαγοράζω), yang secara harfiah berarti menebus, membeli kembali, mengambil sesuatu dari pasar supaya tidak hilang. Ini bukan sekadar memakai waktu, tetapi menyelamatkan waktu dari kesia-siaan. Artinya, setiap kesempatan harus “dibeli kembali” untuk tujuan Tuhan. Waktu tidak boleh dibiarkan lewat tanpa makna ilahi.

Menebus waktu bukan soal menjadi sibuk atau produktif secara duniawi. Ini tentang memastikan setiap musim hidup kita selaras dengan rencana Tuhan. Karena Tuhan adalah pemilik waktu. Dalam Yoel 2:25 Tuhan berkata bahwa Ia memulihkan tahun-tahun yang hilang. Ini menunjukkan bahwa waktu ada di bawah otoritas-Nya. Bahkan dalam 2 Petrus 3:8 dikatakan satu hari bagi Tuhan seperti seribu tahun, dan seribu tahun seperti satu hari. Dia tidak dibatasi oleh waktu, Dia menguasainya. Karena itu kita tidak sedang melawan waktu hanya untuk kemaksimalan atau pencapaian. Kita menebus waktu supaya hidup kita menghidupi rencana-Nya. Orang yang mengerti ini tidak panik ketika terasa lambat dan tidak lengah ketika terasa cepat. Ia sadar setiap detik adalah ladang kekekalan.

Seperti tertulis dalam Pengkhotbah 3:11: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”Ketaatan membuat waktu menjadi indah. Ketika hidup kita selaras dengan kehendak-Nya, waktu bukan lagi ancaman, waktu menjadi alat Tuhan untuk membentuk, mempercepat, dan menggenapi destiny kita. 


BHS

Rabu, 25 Februari 2026

Persahabatan Yang Dari Tuhan

           Amsal 18:24 berkata bahwa ada sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara. Ini bukan sekadar bicara tentang relasi sosial, tetapi tentang pertemanan yang lahir dari rancangan Tuhan. Persahabatan ilahi tidak terjadi hanya karena hobi yang sama, latar belakang yang sama, atau lingkungan yang sama. Itu terjadi karena Tuhan yang mempertemukan, menyatukan hati, dan mengikat dalam tujuan-Nya. Ada tangan Tuhan di balik setiap perjumpaan yang ilahi.

Kita melihat gambaran ini dalam kisah Daud dan Yonatan. Jiwa mereka terpaut bukan karena kepentingan politik, tetapi karena perjanjian rohani. Yonatan mengenali urapan atas Daud, dan ia memilih berdiri mendukung panggilan Tuhan dalam hidup sahabatnya. Persahabatan ilahi selalu berakar pada pengenalan akan kehendak Tuhan, bukan pada keuntungan pribadi. Ia lahir dari roh yang sama, visi yang sama, dan kasih yang murni.

Melalui sahabat ilahi, kita ditajamkan. Besi menajamkan besi. Tuhan sering memakai seorang sahabat untuk menegur kita, menguatkan kita, bahkan meluruskan arah kita. Tidak jarang, ketika kita berdoa meminta jawaban, Tuhan tidak langsung mengirim suara dari langit, Dia mengirim seorang sahabat. Lewat nasihatnya, doanya, kehadirannya, kita menemukan jawaban. Sahabat ilahi adalah salah satu cara Tuhan menyatakan kasih dan penyertaan-Nya secara nyata.

Karena itu, hargailah orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekelilingmu. Jangan anggap remeh mereka yang setia berjalan bersamamu, baik di musim sulit maupun di musim kemenangan. Bisa jadi, merekalah alat Tuhan untuk menjaga panggilanmu tetap menyala.

Doakan mereka, jaga perjanjian hati, dan bangun relasi yang berakar pada Tuhan. Sebab persahabatan ilahi bukan kebetulan ,itu bagian dari strategi surga atas hidupmu.


BHS 

Selasa, 24 Februari 2026

Berhenti Berlari dan Hadapi

            Shalom , pagi ini masih merenungkan seputar ketakutan yang sering menghantui kita .Kehidupan Yakub itu seperti orang yang terus berlari. Lari karena kesalahan. Lari karena takut dibunuh Esau (Kejadian 27:41). Lari karena panik menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri. Kadang kita juga begitu. Kita salah ambil keputusan, lalu bukannya bereskan, malah menghindar. Kita takut ditolak, takut dihukum, takut kehilangan. Padahal firman Tuhan berkata, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Artinya, lari bukan gaya hidup anak Tuhan.

Sampai satu titik, sebelum bertemu kembali dengan Esau, Yakub sangat ketakutan. Dia membagi rombongannya jadi dua karena berpikir kalau satu diserang, yang lain bisa selamat (Kejadian 32:7–8). Itu mentalitas orang yang masih mengandalkan strategi karena takut. Tapi malam itu, sesuatu berubah. Di tempat yang bernama Peniel (Kejadian 32:30), dia bergulat dengan Tuhan. Dan ketika pangkal pahanya dipukul sampai terpelecok (Kejadian 32:25), itu seperti Tuhan sedang berkata: “Sudah cukup. Stop running.”

Kadang Tuhan izinkan “kaki kita dipatahkan” bukan secara fisik, tapi secara ego, ambisi, dan rasa percaya diri yang salah. Supaya kita berhenti lari dan mulai bersandar. Amsal 28:13 berkata, “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Tuhan tidak suruh kita lari dari masalah. Tuhan ajak kita menghadapinya bersama Dia. Luka Yakub justru menjadi titik balik identitasnya. Dari Yakub menjadi Israel (Kejadian 32:28).

Pesannya jelas: jangan lari lagi. Jangan lari dari masa lalu. Jangan lari dari panggilan. Jangan lari dari tanggung jawab. Mazmur 56:4 berkata, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.” Bukan: waktu aku takut, aku kabur. Takut itu manusiawi, tapi lari bukan solusi. Hadapi bersama Tuhan. Bergumul, doa, jujur, berdiri. Karena kemenangan bukan milik orang yang cepat lari, tapi orang yang mau tinggal dan percaya.

Mungkin hari ini ada “Esau” di depanmu—konflik, hutang, kesalahan, percakapan yang tertunda, pelayanan yang kamu hindari. Tuhan tidak berkata, “Cari jalan lain.” Tuhan berkata, “Aku menyertai engkau.” Seperti janji-Nya di Kejadian 28:15, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi.” Jadi berhenti lari. Hadapi. Tidak sendiri—bersama Tuhan. Karena saat kita berhenti berlari dan mulai berjalan bersama-Nya, di situlah identitas dan destiny dipulihkan.



BHS

Senin, 23 Februari 2026

Mengalahkan Ketakutan

             Ketakutan bukan sekadar emosi, tetapi roh yang berusaha melumpuhkan iman. Firman Tuhan berkata dalam 2 Timotius 1:7, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Artinya jelas: ketakutan bukan berasal dari Bapa. Jika sumbernya bukan dari Tuhan, maka kita tidak boleh menerimanya sebagai bagian dari identitas kita. Kita tidak dipanggil untuk hidup dikuasai rasa gentar, tetapi dipenuhi Roh yang membangkitkan.

Ketakutan adalah musuh besar iman. Mengapa? Karena takut secara tidak sadar menyatakan bahwa Tuhan tidak cukup mampu. Ketika kita takut berlebihan, kita sedang membesarkan masalah dan mengecilkan Allah. Padahal iman berkata, “Jika Tuhan di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Ketakutan membisikkan kemungkinan terburuk, tetapi iman berdiri di atas janji Tuhan yang tidak pernah gagal. Akibat dari ketakutan sangat nyata: panik, kebingungan, dan keputusan yang salah arah. Dalam kepanikan, seseorang bisa melangkah tanpa hikmat. Dalam kebingungan, seseorang bisa kehilangan fokus panggilan. Ketakutan membuat seseorang bereaksi, bukan bertindak dengan pimpinan Roh. Dan ketika keputusan diambil dari ketakutan, sering kali itu menjauhkan seseorang dari destiny yang sudah Tuhan siapkan sejak semula.

Karena itu kita membutuhkan roh keberanian. Bukan keberanian karena kemampuan diri, bukan percaya diri yang bersumber dari kekuatan manusia. Keberanian sejati lahir dari kesadaran bahwa Bapa menyertai kita. Seperti yang dikatakan kepada Yosua dalam Kitab Yosua 1:9, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu… sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi.” Keberanian alkitabiah berakar pada penyertaan, bukan pada kapasitas.

Hari ini, jika ada ketakutan yang mencoba mencuri langkahmu, tolak itu. Ingat kembali siapa Bapamu. Roh yang ada di dalam kita bukan roh ketakutan, tetapi Roh yang membangkitkan, menguatkan, dan meneguhkan. Destiny tidak ditentukan oleh besarnya badai, tetapi oleh besarnya iman kepada Dia yang memegang arah hidup kita



BHS 

Minggu, 22 Februari 2026

Panggilan Sejati

                 Di dalam Kitab Yeremia 1:5 Tuhan berkata, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.” Ini berbicara tentang pengenalan dari pihak Tuhan. Ia mengenal kita lebih dahulu. Ia mengenal nama kita, potensi kita, bahkan kegagalan kita sebelum itu terjadi. Tetapi ketika kita membaca Injil Matius 7:23 dan Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu,” kita harus mengerti: yang dipersoalkan bukan apakah Tuhan tahu tentang kita, tetapi apakah ada relasi yang sejati antara kita dengan Dia.

Pengenalan dalam Alkitab bukan sekadar informasi, tetapi keintiman. Kata “mengenal” dalam konteks Ibrani dan Yunani sering menunjuk pada hubungan yang intim dan mendalam, bukan sekadar tahu data. Tuhan mengenal Yeremia bukan hanya sebagai manusia bernama Yeremia, tetapi sebagai pribadi yang dipanggil, dipisahkan, dan hidup dalam rencana-Nya. Sebaliknya, dalam Matius 7, orang-orang itu aktif secara rohani, bernubuat, mengusir setan, membuat mujizat, tetapi mereka tidak hidup dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan. Mereka bergerak dalam aktivitas, tetapi tidak tinggal dalam hubungan.

Inilah tragedi terbesar kekristenan: melayani tanpa mengenal, berbicara tentang Tuhan tanpa berjalan bersama Tuhan. Kita bisa fasih berkhotbah, memimpin doa, bahkan dipakai secara karismatik , tetapi hati kita jauh. Tuhan tidak mencari performa; Ia mencari kedekatan. Ia tidak terkesan pada karunia jika karakter dan ketaatan tidak menyertainya. Pengenalan akan Tuhan bukan soal seberapa banyak kita melakukan sesuatu bagi-Nya, tetapi seberapa dalam kita hidup bersama-Nya.

Pengenalan akan Tuhan selalu melahirkan keselarasan. Orang yang sungguh mengenal Tuhan akan semakin serupa dengan hati-Nya, mencintai apa yang Ia cintai, membenci apa yang Ia benci. Pengenalan itu membentuk arah hidup. Ia mengubah ambisi, menguduskan motivasi, dan menata ulang prioritas. Tanpa pengenalan, pelayanan menjadi panggung. Dengan pengenalan, pelayanan menjadi persembahan. kita dipanggil bukan sekedar menjadi sesuatu atau seseorang , kita dipanggil untuk mengenal. panggilan yang sejati akan selalu menuntun kepada sebuah pengenalan. 

Fase hidup ini bukan sekadar mencari tahu apa panggilan kita, tetapi mengenal Pribadi yang memanggil. Sebab panggilan tanpa pengenalan akan berubah menjadi beban. Tetapi ketika kita mengenal Dia, dalam doa, dalam firman, dalam ketaatan sehari-hari ,kita tidak lagi hidup untuk membuktikan sesuatu, melainkan untuk menyenangkan hati-Nya. Dan pada akhirnya, yang kita rindukan bukan hanya berkata “Tuhan, Tuhan,” tetapi mendengar Dia berkata, “Aku mengenal engkau, hai hambaku yang setia ”


BHS

Jumat, 20 Februari 2026

Pengertian akan Membawa Hasil

         Banyak orang melakukan hal yang sama, tetapi hasilnya berbeda karena pengertiannya berbeda. Dua orang bisa sama-sama berkhotbah, tetapi yang satu menyampaikan informasi, yang lain menyampaikan beban hati Tuhan. Dua orang bisa sama-sama memberi persembahan, tetapi yang satu memberi karena kewajiban, yang lain memberi karena pewahyuan kasih. Secara lahiriah sama , secara rohani berbeda.

Dalam perumpamaan penabur di Matius 13:23, Yesus menekankan satu kata penting: mengerti. Benih tidak berbuah hanya karena ditabur, tetapi karena dimengerti. Firman yang hanya didengar menghasilkan pengetahuan. Firman yang dimengerti menghasilkan buah. Di sinilah banyak orang terjebak , aktif, sibuk, melayani, tetapi tidak sungguh memahami hati Tuhan di balik tindakan itu.

Amsal berkata bahwa yang terutama adalah pengertian. Artinya, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi seberapa kita memahami mengapa kita melakukannya. Pengertian membawa kedalaman. Tanpa pengertian, pelayanan menjadi rutinitas. Tanpa pengertian, memberi menjadi formalitas. Tanpa pengertian, berkhotbah menjadi kata-kata kosong. jadi sama-sama melakukan pekerjaaan hasilnya akan sangat berbeda jika ditambah pengertian yang benar.

Hari ini Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk aktif, tetapi untuk mengerti. Mintalah Roh Kudus memberi terang atas setiap hal yang kita lakukan. Ketika pengertian ilahi menyertai tindakan kita, maka hasilnya bukan sekadar baik dan keliahatan ramai ,tetapi lebih kepada berbuah, bertahan, dan memuliakan Tuhan.


BHS

Kamis, 19 Februari 2026

Menolong Ketidakpercayaan

        Shalom hari ini ada sebuah ayat yang akan kita baca di Injil Markus 9:23-24 TB  Jawab Yesus: ”Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak: ”Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” 

Kalimat ini “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” adalah doa yang lahir dari hati yang berani jujur. Ayah itu tidak datang dengan iman yang sempurna, tetapi dengan hati yang terbuka. Ia tidak menyembunyikan ketakutannya di balik kalimat rohani. Ia berani mengakui bahwa di dalam dirinya masih ada sisa keraguan. Justru kejujuran itulah yang menjadi pintu bagi kuasa Tuhan bekerja. Ketidakpercayaan mulai dipatahkan ketika kita berhenti berpura-pura kuat dan memilih datang apa adanya.

Ketidakpercayaan tidak selalu berbentuk penolakan terhadap Tuhan; sering kali ia tumbuh dari luka, kekecewaan, dan penantian yang panjang. Ia berbisik pelan, mempertanyakan kesetiaan Tuhan, dan perlahan melemahkan keberanian untuk berharap. Karena itu, obatnya bukan menjauh, melainkan mendekat. Berdoalah  bukan hanya ketika iman sedang kuat, tetapi justru ketika hati sedang goyah. Di dalam doa, kita tidak hanya meminta jawaban; kita menerima keberanian baru untuk tetap percaya.

Bacalah Firman setiap hari, sebab Firman menyalakan kembali keyakinan yang hampir padam. Seperti tertulis dalam Surat Roma 10:17, iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Ketika kita memenuhi pikiran dengan janji Tuhan, suara keraguan mulai kehilangan kekuatannya. Roh keberanian untuk percaya lahir dari persekutuan yang intim dengan Tuhan. Firman menjadi dasar yang kokoh ketika perasaan kita tidak stabil.

Hari ini, jangan takut datang kepada Tuhan dengan hati yang belum sempurna. Datanglah seperti ayah itu , jujur, terbuka, dan berharap. Katakan, “Tuhan, di bagian ini aku masih lemah, tetapi aku tetap memilih percaya.” Di situlah mujizat dimulai. Ketidakpercayaan tidak dikalahkan oleh usaha manusia, tetapi oleh hati yang berani bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Dan ketika kita terus berdoa dan berpegang pada Firman, roh keberanian untuk percaya akan bangkit, mengalahkan setiap keraguan yang pernah mengikat hati kita.


BHS

Rabu, 18 Februari 2026

Tepat Bukan Sekedar Cepat

               Shalom , pagi ini  roh kudus mengingatkan sebuah statement  , “Bukan kecepatan, tetapi ketepatan.” Di dalam Kitab Pengkhotbah 3:11 tertulis, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah terburu-buru. Ketika sesuatu terlihat lambat dalam hidup kita, sering kali bukan karena Tuhan diam, tetapi karena Tuhan sedang bekerja lebih dalam dari yang kita lihat. Ia lebih peduli pada pembentukan daripada percepatan. Sebab sesuatu yang dibangun cepat tanpa fondasi akan mudah runtuh, tetapi sesuatu yang dibentuk dalam waktu Tuhan akan kokoh menahan musim apa pun.

Lihat Abraham dalam Kitab Kejadian 16–21. Ketika janji terasa lama, ia mencoba mempercepatnya melalui Hagar. Itu cepat, tetapi tidak tepat. Namun ketika waktu Tuhan tiba, Kejadian 21:1 mencatat bahwa Tuhan melakukan tepat seperti yang dijanjikan-Nya. Penantian itu bukan waktu yang terbuang , itu waktu pembentukan iman. Setiap tahun penantian mengikis keraguan, memurnikan motivasi, dan menyiapkan hati untuk menerima janji tanpa kesombongan.

Daud juga demikian. Ia diurapi dalam Kitab 1 Samuel 16, tetapi takhta tidak langsung diberikan. Tahun-tahun di padang gurun bukan keterlambatan; itu sekolah karakter. Ketika ia menolak membunuh Saul (1 Samuel 24), ia sedang membuktikan bahwa ia lebih mencintai ketepatan Tuhan daripada kecepatan takdirnya. Padang gurun membentuk integritasnya, menajamkan penyembahannya, dan mematangkan kepemimpinannya. Tanpa proses itu, takhta justru bisa menghancurkannya.

Sering kali kita berdoa agar Tuhan mempercepat, tetapi Tuhan sedang memperdalam. Kita meminta hasil, tetapi Tuhan membentuk hati. Roma 5:3–4 mengajarkan bahwa penderitaan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Jadi ketika hidup terasa lambat, jangan buru-buru menyimpulkan Tuhan tidak bekerja. Justru di musim yang tampak sunyi itulah Tuhan sedang mengukir karakter, menguatkan akar, dan menyelaraskan langkah kita dengan kehendak-Nya. Karena dalam Kerajaan Allah, lambat di tangan Tuhan jauh lebih aman daripada cepat di luar kehendak-Nya.



BHS

Selasa, 17 Februari 2026

PenyertaanNya yang Terpenting

           Di dalam Kitab Keluaran 33:15 Berkatalah Musa kepada-Nya: ”Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.

kita melihat hati seorang pemimpin yang sudah tersentuh oleh kemuliaan. Musa berbicara dengan Tuhan “muka dengan muka,” lalu berkata, “Jika Engkau tidak menyertai kami, jangan suruh kami berangkat dari sini.” Itu bukan kalimat emosional; itu adalah keputusan rohani. Musa sudah mencicipi hadirat Tuhan. Ia tahu rasanya berdiri di Gunung Sinai ketika kemuliaan turun seperti api. Ia tahu apa artinya masuk Kemah Pertemuan dan mengalami Allah yang hidup. Dan setelah seseorang mengalami itu, ia tidak bisa kembali hidup biasa.

Musa mengerti bahwa penyertaan Tuhan bukan sekadar bonus perjalanan , itu adalah inti perjalanan. Tanah Perjanjian memang janji, tetapi hadirat Tuhan adalah sumbernya. Tanah bisa memberi susu dan madu, tetapi hanya hadirat yang memberi identitas dan arah. Musa sadar: tanpa Tuhan berjalan di tengah mereka, Israel hanyalah bangsa pengembara dengan ambisi rohani. Namun dengan Tuhan, bahkan padang gurun pun menjadi tempat kemuliaan dinyatakan.

Ketika seseorang sudah mencicipi hadirat Tuhan, seleranya berubah. Ia tidak lagi puas dengan keberhasilan luar. Ia tidak lagi terpesona oleh pencapaian semata. Ada lapar yang lebih dalam — lapar akan Tuhan sendiri. Musa bahkan berkata, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” Ia tidak berhenti pada pengalaman pertama. Penyertaan Tuhan membuatnya haus akan lebih lagi, karena hadirat bukan tujuan sekali jadi, tetapi perjalanan yang terus diperbarui.

Renungan bagi kita hari ini sederhana namun bagi saya pribadi sangat dalam dan harus selalu menjadi warning bagi kita ,apakah kita mengejar janji, atau mengejar Pribadi yang berjanji? Orang yang belum mencicipi hadirat akan mudah berkompromi demi hasil. Tetapi orang yang sudah tersentuh kemuliaan akan berkata seperti Musa, “Tanpa Engkau, aku tidak mau melangkah.” Sebab pada akhirnya, bukan destinasi yang menopang hidup kita , melainkan penyertaan Tuhan yang setia berjalan bersama kita.


BHS

Senin, 16 Februari 2026

Bangkitlah Lagi

                    Kitab Amsal 24:16 “Karena tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.”

Sering kali kita bertanya: mengapa orang benar bisa jatuh sampai tujuh kali? Bukankah orang benar seharusnya kuat dan tidak tergoyahkan? Namun Alkitab tidak pernah berkata bahwa orang benar tidak pernah jatuh. Justru ayat ini menegaskan kenyataan hidup: orang benar pun bisa tersandung, gagal, kecewa, bahkan membuat kesalahan. Angka “tujuh” berbicara tentang berulang kali, tentang proses, tentang musim ujian yang tidak hanya sekali. Tuhan tidak menyembunyikan fakta bahwa perjalanan iman memiliki pergumulan.

Perbedaannya bukan pada “jatuh”-nya, tetapi pada “bangkit”-nya. Orang fasik juga jatuh. Tetapi ketika orang benar jatuh, ia tidak menjadikan kejatuhan itu identitasnya. Ia kembali kepada Tuhan. Ia bertobat. Ia berdiri lagi. Ia tetap mengikut Tuhan. Sedangkan orang fasik jatuh dan memilih tinggal di sana , tidak mau berubah, tidak mau kembali, tidak mau merendahkan hati. Orang benar mungkin goyah, tetapi hatinya tetap melekat pada Tuhan.

Contohnya jelas dalam kehidupan Raja Daud. Ia pernah jatuh dalam dosa besar dengan Batsyeba. Itu bukan kesalahan kecil. Tetapi ketika ditegur, Daud merendahkan diri, bertobat, dan kembali mencari wajah Tuhan. Bandingkan dengan Raja Saul. Saul juga jatuh dalam ketidaktaatan, tetapi ia lebih sibuk mempertahankan citra daripada bertobat. Daud jatuh dan bangkit. Saul jatuh dan perlahan hancur.

Mungkin hari ini ada yang merasa sudah jatuh berkali-kali, dalam pelayanan, dalam karakter, dalam komitmen rohani. Jangan berhenti pada kejatuhanmu. Orang benar bukanlah orang yang tidak pernah gagal, tetapi orang yang selalu kembali kepada Tuhan. Jika engkau masih mau bangkit, masih mau bertobat, masih mau mengikuti Dia, itulah tanda bahwa engkau adalah orang benar. Bangkitlah lagi. Tuhan tidak pernah menolak hati yang kembali.


BHS 

Minggu, 15 Februari 2026

Ikuti KehendakNya

           Banyak orang berkata ingin berjalan dalam kehendak Tuhan, tetapi ketika Tuhan benar-benar menyatakan kehendak-Nya, sering kali hati kita justru menolak. Kita ingin rencana-Nya, tetapi tanpa kehilangan kenyamanan kita. Dalam Kejadian 12:1, Tuhan berkata kepada Abram, “Pergilah dari negerimu…” Itu bukan sekadar ajakan pindah tempat, melainkan panggilan untuk meninggalkan zona aman, identitas lama, dan segala sesuatu yang terasa pasti. Abram tidak diberi detail lengkap tentang tujuan akhirnya. Tidak ada peta, tidak ada jaminan tertulis, hanya suara Tuhan. Dan di situlah letak ujian terbesar: apakah ia mempercayai penjelasan, atau mempercayai Pribadi yang berbicara?

Abram memilih berjalan di tengah ketidakmengertian. Ia tidak menunggu semuanya jelas baru taat. Ia melangkah karena ia percaya. Inilah realitas iman: kita sering kali menginginkan kepastian sebelum ketaatan, padahal Tuhan meminta ketaatan sebelum kepastian. Berjalan bersama Tuhan bagi mayoritas kita terasa seperti risiko, risiko kehilangan kontrol, risiko disalahpahami, risiko gagal, bahkan risiko kehilangan apa yang kita anggap aman. Namun sebenarnya, risiko terbesar justru ketika kita menolak kehendak-Nya dan tetap tinggal di tempat yang Tuhan tidak pernah maksudkan untuk kita diami.

Kunci dari semuanya adalah trust. Percaya kepada Pribadi-Nya. Percaya bahwa hati-Nya baik. Percaya bahwa kehendak-Nya sempurna, sekalipun jalannya tidak kita mengerti. Trust berarti menaruh kehendak kita di bawah kehendak-Nya dan berkata, “Tuhan, sekalipun aku tidak tahu ke mana Engkau membawa aku, aku tahu siapa yang memegang hidupku.” Seperti seorang anak kecil yang menggenggam tangan ayahnya saat menyeberang jalan yang ramai,ia mungkin tidak mengerti arah, tetapi ia tenang karena mengenal tangan yang memegangnya.

Bayangkan seorang anak muda yang merasa Tuhan memanggilnya untuk melayani di kampusnya. Ia tahu itu berarti menghadapi ejekan, kehilangan kenyamanan, bahkan mungkin dijauhi teman. Atau seorang kepala keluarga yang harus memilih integritas daripada keuntungan finansial yang besar. Secara logika itu berisiko. Tetapi di titik itulah kehendak Tuhan dan kehendak manusia bertemu. Dan setiap kali kita memilih percaya, kita sedang berkata bahwa kita lebih yakin pada karakter Tuhan daripada pada ketakutan kita sendiri.

Akhirnya, berjalan dalam kehendak Tuhan bukan tentang seberapa banyak kita mengerti, tetapi seberapa dalam kita percaya. Abram tidak hanya meninggalkan tanahnya; ia menyerahkan kehendaknya. Dan karena itu, ia melihat janji Tuhan digenapi dalam hidupnya. Hari ini, ketika Tuhan berkata, “Pergilah,” mungkin itu bukan tentang berpindah tempat, tetapi tentang berpindah hati, dari kontrol kepada penyerahan, dari ketakutan kepada trust. Dan di sanalah perjalanan iman yang sejati dimulai.


BHS

Jumat, 13 Februari 2026

Pentingnya Koreksi

            Orang yang paling sulit berubah adalah orang yang tidak mau dikoreksi. Dan orang yang paling sulit sembuh adalah orang yang tidak merasa dirinya sakit. Kesadaran adalah pintu pertama menuju pemulihan. Tanpa kerendahan hati, tidak ada pertumbuhan. Tanpa pengakuan akan kebutuhan, tidak ada transformasi. Itulah sebabnya Alkitab menegaskan bahwa koreksi bukan tanda penolakan, melainkan tanda kasih. Amsal 3:11–12 berkata bahwa Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi-Nya. Teguran adalah bahasa kasih seorang Bapa.

Seringkali kita salah mengartikan koreksi sebagai serangan terhadap harga diri. Padahal justru di sanalah Tuhan sedang membentuk karakter kita. Ibrani 12:6 menegaskan, “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.” Disiplin bukan hukuman untuk menjatuhkan, tetapi proses untuk menguatkan. Emas dimurnikan dalam api, dan hati dimurnikan melalui teguran. Jika kita menolak koreksi, kita sebenarnya sedang menolak proses pembentukan.

Kesombongan membuat seseorang kebal terhadap suara peringatan. Hati yang keras selalu membela diri, mencari alasan, dan menutup telinga. Namun Wahyu 3:19 berkata, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” Kata “relakanlah” menunjukkan sikap aktif , membuka hati, bukan mengeraskannya. Kerendahan hati adalah kunci untuk mengalahkan kesombongan. Orang yang mau ditegur sedang memberi ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja lebih dalam.

Jangan takut dikoreksi. Justru di sanalah kita diproses menjadi lebih serupa Kristus. Amsal 27:6 berkata bahwa seorang kawan memukul dengan maksud baik. Teguran yang lahir dari kasih akan menghasilkan kehidupan. Nilai yang harus kita pegang adalah kerendahan hati, kepekaan, sikap mau belajar, dan hati yang mudah diajar. Sebab orang yang menerima teguran sedang berjalan menuju kedewasaan, tetapi orang yang menolaknya sedang menunda pertumbuhan. Hari ini, jika Tuhan menegurmu, jangan lari. Rendahkan hati , karena di sanalah engkau sedang dibentuk menjadi lebih baik.


BHS

Kamis, 12 Februari 2026

Mulai Dari Firman

               Kejadian 21:1 menegaskan satu hal yang tidak bisa digeser: “Tuhan memperhatikan Sara… dan Tuhan melakukan seperti yang dijanjikan-Nya.” Perhatikan polanya , Tuhan berfirman, Tuhan memperhatikan, Tuhan melakukan. Semuanya dimulai dari perkataan Tuhan. Bukan dari kesiapan Sara. Bukan dari kekuatan Abraham. Bahkan bukan dari iman mereka yang selalu stabil. Awalnya bukan manusia, tetapi suara Allah.

Sara mengandung bukan karena usahanya berhasil. Rahimnya tertutup secara alami, usianya telah lewat, dan secara logika itu mustahil. Namun yang mustahil menjadi nyata karena ada satu hal yang mendahului semuanya: Tuhan sudah berkata. Ketika Tuhan mengucapkan janji, realitas mulai bergerak menuju penggenapan. Firman Tuhan bukan sekadar informasi; firman-Nya adalah kuasa pencipta yang memulai sesuatu dari ketiadaan. Seperti pada awal penciptaan “Berfirmanlah Allah…” dan terang pun jadi , demikian juga dalam hidup orang percaya, setiap musim baru selalu diawali oleh suara-Nya.

Ini yang perlu kita tajamkan dalam hati: kesaksian hidup tidak lahir dari kemampuan kita mempertahankan Tuhan, tetapi dari kesetiaan Tuhan mempertahankan firman-Nya. Kita sering berpikir hasil tergantung pada kekuatan doa kita, kedewasaan iman kita, atau konsistensi kita. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa sumbernya bukan kita. Semua dimulai dari Dia. Jika Tuhan tidak berbicara, tidak ada yang bergerak. Jika Tuhan tidak berjanji, tidak ada yang bisa kita klaim. Iman kita bukan menciptakan janji; iman kita hanya merespons janji yang sudah lebih dulu diucapkan-Nya.

Sering kali jarak antara janji dan penggenapan terasa panjang. Ada musim menunggu, ada masa diam, ada fase di mana tidak ada tanda-tanda yang terlihat. Tetapi Kejadian 21 membuktikan bahwa diamnya Tuhan bukan berarti lupa. Ketika waktunya tiba, Dia memperhatikan dan Dia melakukan. Tuhan tidak pernah lalai atas firman-Nya sendiri. Waktu boleh berjalan, usia boleh bertambah, keadaan boleh terlihat tertutup , namun firman Tuhan tidak pernah kedaluwarsa.

Pagi ini, mari kembali kepada fondasi yang benar: hidup orang percaya dimulai dari perkataan Tuhan. Pelayanan dimulai dari perkataan Tuhan. Panggilan dimulai dari perkataan Tuhan. Masa depan dimulai dari perkataan Tuhan. Bukan karena kita mampu, tetapi karena Dia telah mengatakannya. Dan ketika Tuhan sudah berkata, langit dan bumi akan bekerja sama untuk menggenapinya. Tugas kita bukan menciptakan hasil, tetapi berpegang pada suara-Nya. Karena satu kalimat dari Tuhan cukup untuk mengubah sejarah hidup kita selamanya.


BHS

Rabu, 11 Februari 2026

Selalu Sadari

                   Suatu kali Yakub, dalam keadaan sangat lelah, tertidur dan bermimpi. Ia melihat sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit, dan malaikat-malaikat Allah naik turun di atasnya. Di sana Tuhan berdiri dan menyatakan janji-Nya kepada Yakub. Ketika ia terbangun, ia berkata, “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” (Kejadian 28:12–16). Sebuah pernyataan yang begitu dalam , Tuhan hadir, tetapi manusia bisa saja tidak menyadarinya. Betapa sering hal yang sama terjadi dalam hidup kita.

Yakub kemudian berkata lagi, “Alangkah dahsyatnya tempat ini! Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” (Kejadian 28:17). Kesadaran akan hadirat Tuhan mengubah cara pandangnya terhadap tempat itu. Tempat biasa menjadi tempat kudus. Tanah biasa menjadi gerbang surga. Ketika kita memiliki awareness, rohani akan hadirat-Nya , hidup yang terasa biasa pun menjadi penuh makna, arah, dan kekuatan. Hadirat Tuhan bukan soal perasaan, tetapi soal pengenalan dan kepekaan hati.

Sebelum Yesus naik ke surga, Ia berjanji bahwa akan datang Pribadi yang sama untuk menyertai kita. Yesus berkata, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” (Yohanes 14:16). Kata “Penolong yang lain” dalam bahasa Yunani adalah allos, yang berarti “yang lain dari jenis yang sama” Pribadi yang sama dalam esensi dan natur. Roh Kudus bukan sekadar kuasa, tetapi Pribadi ilahi yang membawa kehadiran Yesus sendiri. Bahkan Yesus berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20).

Dua belas murid memiliki kesempatan berjalan bersama Yesus secara fisik. Namun kita hari ini memiliki kesempatan berjalan bersama Yesus melalui Roh Kudus . Pribadi yang sama, hadir dalam dan bersama kita. Kesadaran akan kehadiran-Nya adalah titik kemenangan kita. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan ada di sini, di tengah pergumulan, pelayanan, dan keseharian kita, maka kita tidak lagi berjalan sendiri. “Karena di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.” (Kisah Para Rasul 17:28). Di tengah kesibukan sekolah, pekerjaan, mengurus anak, bahkan saat berkendara di jalan ,sadari kehadiran-Nya selalu. Hadirat-Nya bukan hanya untuk mimbar atau ruang doa, tetapi untuk setiap detik kehidupan. Saat kita sadar Dia ada, damai menggantikan cemas, iman menggantikan takut, dan kekuatan menggantikan lelah. Di sanalah letak kemenangan kita.


BHS

Selasa, 10 Februari 2026

Pagi Yang Penting

           Shalom, hari ini kita belajar dari Mazmur 64:1–10. Sering kali kita tertipu oleh apa yang terlihat , kita sibuk menghadapi orangnya, situasinya, atau masalah yang tampak di permukaan ,padahal yang paling berbahaya justru yang tidak terlihat. Daud menyadari bahwa ancaman terbesar bukan pedang yang terhunus, tetapi rencana tersembunyi, bisikan licik, dan serangan diam-diam yang dirancangkan untuk menjatuhkan. Yang tidak kasatmata itulah yang menyerang pikiran, merusak damai sejahtera, dan melemahkan iman secara perlahan. Perubahan suasana hati yang tiba-tiba, tekanan mendadak, penundaan yang mengacaukan fokus ,semuanya bisa menjadi bagian dari peperangan yang tidak kita lihat. Kita sering terlalu fokus pada yang kelihatan, padahal peperangan sesungguhnya terjadi di dimensi rohani. Karena itu kita harus berjaga, peka, dan berseru kepada Tuhan sebagai perlindungan kita.

Daud menggambarkan serangan itu dengan bahasa yang sangat kuat. Dalam Mazmur 64:3–4 (NIV) dikatakan: “They sharpen their tongues like swords and aim cruel words like deadly arrows. They shoot from ambush at the innocent; they shoot suddenly, without fear.”
Ada “deadly arrows” , panah-panah mematikan yang dilepaskan secara tiba-tiba dan dari tempat tersembunyi. Panah itu tidak selalu berupa serangan fisik; bisa berupa perkataan, tuduhan, intimidasi, atau tekanan rohani yang diarahkan untuk melemahkan iman dan menggagalkan hari kita. Panah dilepaskan secara diam-diam, dari ambush, dari tempat tersembunyi. Itulah sebabnya kita perlu memiliki kepekaan rohani.

Namun Mazmur ini tidak berhenti pada ancaman. Tuhan tidak membiarkan anak-anak-Nya tanpa pembelaan. Ayat 8–10 menunjukkan bahwa Tuhan sendiri yang akan membalikkan keadaan dan membuat kebenaran-Nya nyata. Ini sejalan dengan janji dalam Yesaya 54:17: “Tidak ada senjata yang ditempa terhadap engkau yang akan berhasil.” Senjata boleh dibentuk, panah boleh dilepaskan, tetapi tidak akan berhasil menghancurkan tujuan Tuhan atas hidup kita. Kita tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam iman dan keyakinan bahwa Tuhan adalah perisai kita.

Karena itu pagi hari bukan sekadar pergantian waktu pagi adalah momen penentuan arah rohani. Ratapan 3:22–23 berkata dengan jelas “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Perhatikan kalimatnya: tak berkesudahan, tak habis-habisnya, selalu baru tiap pagi. Artinya setiap hari benar-benar hari yang baru di hadapan Tuhan. Bukan pengulangan kemarin, bukan sisa kegagalan kemarin, bukan bayang-bayang kesalahan kemarin. Sebelum kita melangkah keluar rumah, sebelum kita menghadapi jadwal, tekanan, atau tantangan, Tuhan sudah lebih dulu menyediakan kasih setia yang segar untuk hari itu. Jika kita masih diberi fajar, itu berarti masih ada anugerah yang dicurahkan dan masih ada tujuan yang harus digenapi. Pagi adalah reset ilahi ,bukan karena kemarin tanpa masalah, tetapi karena rahmat Tuhan jauh lebih besar daripada sisa beban kemarin. Karena setiap hari adalah hari yang baru, maka setiap hari juga membutuhkan covering yang baru. Kita tidak bisa mengandalkan doa kemarin untuk peperangan hari ini. Ada “panah-panah” yang bisa dilepaskan setiap hari , serangan yang mencoba mengganggu fokus, mencuri damai sejahtera, menimbulkan konflik, atau menggagalkan rencana Tuhan dalam hidup kita hari itu. Itulah sebabnya pagi menjadi sangat penting. Seperti seorang pelari yang berdiri di garis start, ia tidak langsung berlari tanpa persiapan. Ia menata napas, menguatkan posisi, dan mengarahkan pandangan ke depan. Demikian juga secara rohani, ketika kita memulai hari dengan doa, kita sedang menetapkan posisi hati dan memasang perlindungan atas pikiran, emosi, keluarga, dan setiap langkah kita.


BHS

Senin, 09 Februari 2026

Arti Kemenangan

                   Malam itu Yakub tidak sedang mencari Tuhan, ia sedang dikejar oleh masa lalunya. Di tepi sungai Yabok, Yakub sendirian, gelisah, dan dipenuhi ketakutan saat harus menghadapi Esau (Kej. 32:22–24). Namun justru di titik paling gelap itulah Tuhan datang dan bergulat dengannya. Ini bukan pertarungan fisik, melainkan perjumpaan ilahi sebuah konfrontasi antara siapa Yakub selama ini dan siapa ia akan menjadi. 

Yakub bergumul sampai fajar menyingsing. Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia menolak melepaskan Tuhan. Di situlah kemenangan Yakub dimulai: bukan saat Tuhan datang, melainkan saat Yakub memilih untuk bertahan. Ia “menang” bukan karena mengalahkan Tuhan, tetapi karena ia tidak menyerah. Ketika sendi pangkal pahanya dipukul hingga ia pincang (Kej. 32:25), secara jasmani Yakub kalah total. Semua keunggulannya runtuh. Namun dari kelemahan itulah keluar seruan iman yang paling jujur: “Aku tidak akan melepaskan Engkau, jika Engkau tidak memberkati aku” (Kej. 32:26). Itu adalah doa seseorang yang sudah kehabisan cara, tetapi belum kehabisan iman. Yakub tidak lagi mengandalkan kecerdikan, strategi, atau kelicikannya. Ia hanya berpegang pada Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah menolak orang yang berpegang seperti itu.

Sering kali dalam pergumulan, kita ingin menang dengan cara kita sendiri: keadaan cepat berubah, tekanan berhenti, masalah selesai. Padahal dalam setiap proses, fokus Tuhan sering kali bukan langsung mengubah situasi, melainkan mengubah kita terlebih dahulu. Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia ,bukan selalu kenyamanan, tetapi keserupaan dengan kehendak-Nya. Yakub keluar dari perjumpaan itu dalam keadaan pincang, tetapi hatinya tidak lagi sama. Ia tidak lari lagi. Ia tidak bersembunyi. Ia siap menghadapi Esau. Inilah kemenangan yang sesungguhnya.

Puncaknya bukan pada fajar pagi, melainkan pada perubahan identitas: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel” (Kej. 32:28). Dari penipu menjadi pemenang bersama Allah. Dari masa lalu yang gelap menuju masa depan yang ditetapkan Tuhan. Dari ketakutan menuju keberanian untuk maju. Hosea 12:4 berkata, “Ia bergumul dengan Allah dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan-Nya.”

Menang di mata Tuhan bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang tidak melepaskan Tuhan sampai terang datang. Dan mungkin hari ini, kemenanganmu bukan terletak pada situasi yang berubahmelainkan pada identitas yang sedang dibentuk Tuhan di dalam dirimu.


BHS

Minggu, 08 Februari 2026

Tidak Dingin Tidak Panas - Jemaat Laodikia

Jemaat Laodikia bukan gereja yang terlihat rusak. Mereka tidak sedang jatuh dalam dosa besar, tidak sedang dikejar aniaya, dan tidak kekurangan sumber daya. Secara kasat mata, semuanya baik-baik saja. Justru di situlah bahayanya. Tuhan menyebut mereka suam-suam kuku, bukan dingin, bukan panas. Ada kehidupan rohani, tapi tanpa api. Ada aktivitas, tapi tanpa kehausan. Ada nama Kristen, tapi kehilangan denyut hati surgawi. Banyak orang hari ini tidak meninggalkan Tuhan, tapi juga tidak lagi hidup untuk Tuhan.

Yesus menyingkap akar masalahnya dengan sangat tajam: “Engkau berkata: aku kaya dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Rasa cukup ini bukan berkat, tapi bisa menjadi racun rohani. Ketika hidup terasa aman, doa berubah jadi formalitas. Firman dibaca, tapi tidak lagi mengguncang. Pelayanan berjalan, tapi tanpa air mata. Kita masih bicara tentang Tuhan, tapi jarang lagi berbicara dengan Tuhan. Contohnya nyata: kita gelisah kalau keuangan terganggu, tapi biasa saja saat altar doa runtuh. Kita cepat sadar saat kenyamanan diusik, tapi lambat sadar saat kepekaan rohani mati.

Namun kasih Tuhan tidak pernah berhenti di teguran. Yesus berkata, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok.” Ini gambaran yang menggetarkan: Tuhan ada di luar gereja-Nya sendiri, menunggu diizinkan masuk. Ia tidak memaksa, tidak menerobos, tidak berteriak. Ia mengetok—menunggu hati yang mau merendah dan mau membukakan pintu supaya Yesus bisa masuk. Banyak orang ingin Tuhan memberkati rencananya, tapTuhan lalu berkata, “Semua orang yang Kukasihi, Kutegor dan Kuhajar.” Ini bukan tanda Tuhan marah atau menjauh, justru sebaliknya—ini bukti bahwa kita masih dikasihi. Tuhan menegur karena Ia tidak mau kita tertidur dalam kenyamanan rohani. Ia lebih memilih menyentuh ego kita sekarang, daripada membiarkan hati kita mati pelan-pelan tanpa kita sadari. Karena itu Laodikia dipanggil untuk membeli emas yang dimurnikan, pakaian putih, dan minyak untuk mengoles mata . Artinya sederhana: Tuhan mengajak mereka kembali ke hal yang paling dasar dan paling penting. Iman yang murni, bukan iman yang asal aman. Hidup yang kudus, bukan hidup yang sekadar terlihat baik. Mata rohani yang terbuka, supaya bisa membedakan mana suara Tuhan dan mana suara dunia. Kekristenan bukan soal tampil rohani di depan orang, tapi soal hidup benar di hadapan Tuhan ,meski tidak ada yang melihat.i tidak mau Tuhan mengoreksi arah hidupnya. Padahal kasih sejati selalu membawa pertobatan, bukan sekadar kenyamanan.


Nama Laodikia sendiri berarti “hak atau suara rakyat” keputusan ditentukan oleh manusia, bukan oleh Tuhan. Ini sangat profetik. Gereja ini hidup berdasarkan apa yang terasa nyaman, apa yang disetujui banyak orang, apa yang dianggap wajar oleh budaya sekitar. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh firman, tapi oleh opini. Roh Kudus tidak lagi memimpin, tapi ditoleransi sejauh tidak mengganggu. Ketika suara manusia lebih dominan daripada suara Tuhan, api akan padam dan iman berubah jadi kompromi yang rapi.

Belajar dari jemaat Laodikia, ada sebuah undangan yang sangat jelas: bertobat dan nyalakan kembali apimu. Jangan puas menjadi orang Kristen yang stabil tapi dingin. Jangan bangga karena tidak jatuh, tapi menangislah jika tidak lagi lapar. Jangan biarkan suara dunia lebih keras daripada suara Tuhan. Buka pintu hatimu sepenuhnya, bukan sekadar retakan kecil. Biarkan Yesus masuk lagi sebagai Tuhan yang memerintah, bukan tamu yang ditoleransi. Lebih baik panas dan terbakar dalam proses bersama Tuhan, daripada nyaman tapi suam-suam kuku


BHS

Jumat, 06 Februari 2026

Tetap Setia - Jemaat Filadelfia

          Jemaat Filadelfia bukan jemaat yang mengesankan di mata manusia. Tidak besar, tidak kuat, tidak punya pengaruh politik maupun religius. Yesus sendiri berkata, mereka hanya punya “kekuatan yang kecil.” Artinya: pilihan terbatas, posisi tawar rendah, dan hampir tidak punya kuasa untuk mengatur keadaan. Namun justru di titik inilah nilai mereka muncul. Filadelfia tidak meninggalkan firman, tidak menyangkal nama Yesus, dan tidak mengubah arah hanya karena keadaan menekan. Kesetiaan mereka bukan hasil situasi yang nyaman, tetapi buah dari hati yang sudah mengambil keputusan untuk tetap taat.

Menariknya, nama Filadelfia berarti kasih persaudaraan (phileo + adelphos). Ini bukan kasih yang emosional atau heroik, tapi kasih yang setia , kasih yang bertahan, berjalan bersama, dan tidak meninggalkan. Nama ini mencerminkan identitas mereka: jemaat yang mungkin kecil, tapi hangat; tidak kuat secara struktur, tapi kuat dalam relasi dan komitmen. Kesetiaan mereka lahir dari kasih yang terus menyala, bukan dari ambisi untuk terlihat besar.

Kesetiaan Filadelfia juga terlihat dari konsistensi, bukan momen besar. Mereka tidak spektakuler, tidak viral, dan tidak dikenal luas, tetapi mereka terus berjalan di jalur yang sama. Di saat banyak orang setia hanya selama masih kuat, Filadelfia setia walau kecil. Di saat banyak orang mengukur panggilan dari hasil, mereka mengukur hidup dari ketaatan. Inilah kesetiaan yang membuat Tuhan berkata, “Aku mengenal pekerjaanmu.” Bukan karena besar hasilnya, tapi karena lurus jalannya.  Karena kesetiaan itu, Tuhan mempercayakan kepada mereka sebuah pintu yang tidak dapat ditutup oleh siapa pun. Pintu ini bukan hadiah instan, melainkan kepercayaan jangka panjang. Tuhan tidak membuka pintu besar kepada orang yang tidak tahan proses. Filadelfia tidak sibuk mencari pintu; mereka menjaga firman. Dan ketika mereka setia pada yang kecil, Tuhan membuka yang besar. Kesetiaan yang teruji selalu mendahului akses ilahi.

Akhirnya Tuhan berkata, mereka akan dijadikan tiang di Bait Allah. Tiang tidak bergerak, tidak menonjol, dan tidak mencari sorotan. Tetapi tanpa tiang, bangunan runtuh. Kesetiaanlah yang membuat seseorang layak dipercaya untuk menopang pekerjaan Tuhan. Filadelfia mengingatkan kita: Tuhan tidak sedang mencari orang yang cepat naik, tetapi orang yang mau tetap berdiri. Dan mereka yang mau berdiri setia—meski kecil—itulah yang Tuhan tetapkan untuk tinggal dan dipakai sampai akhir.


BHS

Kamis, 05 Februari 2026

Hidup Tapi Mati - Jemaat Sardis

             Shalom , hari ini kita akan melanjutkan tentang 7 Jemaat yang ada di kitab wahyu, dan kita sampai ke Sardis. Jemaat Sardis adalah gambaran gereja yang punya nama besar tetapi kehilangan kehidupan sejati. Secara historis, Sardis adalah kota yang kaya dan megah, namun jatuh berulang kali karena merasa aman dan tidak berjaga. Menariknya, arti nama Sardis sering dikaitkan dengan “yang tersisa” atau “sisa yang lolos” sebuah ironi rohani. Gereja ini hidup dari sisa kejayaan masa lalu, bukan dari api yang menyala hari ini. Karena itu Yesus berkata dengan keras: “Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati” (Wahyu 3:1). Ini adalah kematian yang dibungkus reputasi rohani.


Masalah Sardis bukan dosa yang mencolok, melainkan kelengahan yang sunyi. Mereka sibuk, aktif, dan terlihat berfungsi, tetapi hati mereka tidak lagi terjaga. Tuhan menegur, “Aku tidak mendapati pekerjaanmu sempurna di hadapan Allah-Ku” (Wahyu 3:2). Pelayanan mereka berjalan tanpa bobot kekekalan. Inilah bahaya gereja yang puas: terbiasa dengan rutinitas rohani, tetapi asing dengan hadirat Tuhan. Mereka tidak jatuh sekaligus , mereka tertidur perlahan. justru ini yang berbahaya, sedikit sedikit kesadaran akan hadiratNya berkurang dan lama-lama mengalami kematian rohani. 

Karena itu perintah Yesus sangat jelas: “Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal” (Wahyu 3:2). Sardis diajak kembali kepada dasar ,mengingat Firman yang pernah mereka terima, menaatinya, dan bertobat (Wahyu 3:3). Tuhan memperingatkan, jika mereka tidak berjaga, Ia akan datang seperti pencuri. Artinya, waktu anugerah bisa berlalu tanpa disadari, jika gereja menunda pertobatan dan menganggap semuanya baik-baik saja.

Namun di tengah kematian rohani, Tuhan selalu mencari sisa yang setia. “Beberapa orang di Sardis tidak mencemarkan pakaiannya” (Wahyu 3:4). Dari Sardis kita belajar: hidup rohani bukan soal nama, ukuran, atau masa lalu, tetapi soal kewaspadaan hari ini. Panggilan bagi kita jelas , jangan hidup dari kenangan kebangunan, tetapi dari persekutuan yang nyata dengan Kristus. Mari belajar dari Sardis: berjaga, bertobat, dan hidup sebagai gereja yang benar-benar hidup di hadapan Tuhan, bukan sekadar terlihat hidup di mata manusia.


BHS

Rabu, 04 Februari 2026

Suarakan Kebenaran - Jemaat Tiatira

              Salah satu luka terdalam jemaat Tiatira adalah ketakutan terhadap konflik rohani. Gereja ini tidak menolak kebenaran, tetapi menunda konfrontasi. Mereka tahu ada yang salah, namun memilih diam demi stabilitas, relasi, dan rasa aman. Padahal sejak awal, kebenaran tidak pernah netral. Setiap kali kebenaran diberitakan, ia selalu memaksa pilihan: terang atau gelap, taat atau kompromi, hitam atau putih. Tidak ada zona abu-abu dalam Kerajaan Allah. Ketika gereja mencoba menghindari konflik, sesungguhnya gereja sedang menunda keputusan dan penundaan itu sendiri sudah merupakan sebuah keberpihakan.

Yesus tidak pernah mengajarkan damai yang menghindari ketegangan. Ia justru berkata bahwa kedatangan-Nya akan membawa pemisahan (lih. Mat. 10:34–36). Bukan karena Tuhan menyukai konflik, tetapi karena kebenaran secara alami menyingkap apa yang bertentangan dengannya. Gereja yang takut konflik sering kali menyebut dirinya “penuh kasih”, padahal yang terjadi adalah kasih yang sudah kehilangan keberanian. Mereka lebih takut kehilangan manusia daripada kehilangan perkenanan Tuhan. Di titik inilah Tiatira gagal: bukan karena mereka mengikuti ajaran Izebel, tetapi karena mereka memberi ruang baginya dengan diam yang berkepanjangan.

Konflik rohani bukan tanda kegagalan pelayanan, melainkan bukti bahwa kebenaran sedang bekerja. Setiap kebangunan sejati selalu diawali oleh ketegangan: sistem lama terguncang, kenyamanan terganggu, dan kompromi tersingkap. Gereja yang menghindari konflik akan memilih jalan aman menjaga semua pihak tetap nyaman namun tanpa sadar membiarkan racun menyebar pelan-pelan. Dosa yang tidak ditegur tidak akan berhenti; ia akan menuntut legitimasi, lalu mempengaruhi struktur, arah, dan budaya gereja. Yesus menyatakan diri-Nya kepada Tiatira dengan mata bagaikan nyala api, ini berbicara tentang kebenaran yang tidak bisa dinegosiasikan dan kaki seperti tembaga berkilau ,ini berbicara tentang keputusan yang kokoh dan tidak goyah (Why. 2:18). Tuhan memberi waktu untuk bertobat, tetapi ketika gereja menolak memilih, Tuhan sendiri yang akan memilihkan. Inilah peringatan keras bagi gereja yang takut konflik: jika gereja tidak berani menegur dosa di dalamnya, Tuhan sendiri yang akan datang dengan penghakiman-Nya.

Namun di tengah ketegangan itu, Tuhan memanggil sisa umat yang berani berdiri. “Peganglah apa yang ada padamu sampai Aku datang” (Why. 2:25) adalah panggilan kepada generasi yang tidak netral. Mereka yang menang dijanjikan otoritas dan bintang timur terang bagi zaman yang gelap. Tiatira mengajarkan kita bahwa gereja tidak dipanggil untuk menjadi tempat paling nyaman, tetapi tempat paling jujur di hadapan Tuhan. Sebab hanya gereja yang berani menghadapi konflik demi kebenaran dan kasih yang layak dipercaya untuk membawa kemuliaan-Nya.



BHS

Selasa, 03 Februari 2026

Berhentilah untuk Kompromi - Jemaat Pergamus

          Shalom , Hari ini kita akan melanjutkan renungan singkat tentang 7 jemaat di kitab wahyu dan hari ini adalah jemaat yang ke-3 yaitu Pergamus.  Jemaat Pergamus bukan jemaat yang jauh dari Tuhan. Mereka tetap mengaku nama Yesus dan bertahan di lingkungan yang sangat gelap secara rohani. Tuhan sendiri mengakui kesetiaan mereka. Dari luar, hidup rohani mereka terlihat baik dan aktif.

Namun arti nama Pergamus memberi gambaran yang dalam. Pergamus berarti “menikah” atau “bersatu”. Inilah masalah utamanya: iman yang bersatu dengan dunia. Mereka tidak meninggalkan Tuhan, tetapi juga tidak mau benar-benar berpisah dari dosa. Mereka mencoba mendekat kepada Tuhan tanpa menjauh dari gaya hidup lama. Di sinilah kompromi mulai bekerja. Tuhan menegur mereka karena membiarkan ajaran Bileam dan pengajaran pengikut Nikolaus hidup di tengah jemaat. Bileam mengajarkan bagaimana umat Tuhan tetap beribadah tetapi sekaligus menikmati dosa. Bukan menolak Allah, melainkan mencari jalan tengah. Sedangkan Nikolaus yang namanya berarti “menaklukkan umat” hal ini melambangkan ajaran yang membuat dosa terasa wajar karena dibungkus dengan bahasa rohani dan anugerah. Inilah dosa yang dibungkus rohani: salah, tetapi tidak lagi terasa salah.

Karena itu Yesus menyatakan diri-Nya dengan pedang bermata dua. Firman Tuhan datang untuk membelah, menyingkap, dan memurnikan. Tuhan tidak bisa disatukan dengan kompromi. Kedekatan dengan Tuhan selalu menuntut keberanian untuk melepaskan dosa.

Namun Tuhan tetap memberi harapan. Ia berkata, “Bertobatlah.” Artinya selalu ada jalan kembali. Kepada mereka yang menang atas kompromi, Tuhan menjanjikan manna tersembunyi dan nama baru pemeliharaan dan identitas yang dipulihkan. Pesan Pergamus jelas bagi kita hari ini: kita tidak bisa menikahkan iman dengan dosa. Jika mau dekat dengan Tuhan, kita harus berani hidup kudus.


BHS

Senin, 02 Februari 2026

Miskin tapi Kaya - Jemaat Smirna

                Jemaat di Smirna hidup dalam tekanan yang nyata dan menyakitkan. Mereka bukan miskin karena malas, bukan karena tidak bijak mengelola hidup, dan bukan pula karena kurang iman atau tidak diberkati Tuhan. Kemiskinan mereka lahir dari sebuah sistem yang secara sengaja menekan dan menyingkirkan orang percaya. Kata yang dipakai Alkitab adalah ptōchos, istilah yang tidak sekadar berarti kekurangan, tetapi menggambarkan orang yang dilucuti secara total ,dimiskinkan secara paksa, kehilangan daya tawar, dan tidak memiliki ruang untuk bertahan hidup secara normal. Karena iman mereka kepada Kristus, akses ekonomi tertutup, jaringan sosial terputus, dan perlindungan hukum menghilang. Mereka membayar harga nyata karena memilih setia. Namun justru kepada jemaat seperti inilah Yesus berkata, “Engkau miskin, namun engkau kaya.” Surga menyebut kaya apa yang dunia anggap gagal, dan Tuhan menghitung sebagai harta apa yang sistem dunia buang.

Nama Smirna berasal dari kata mur (myrrh), getah harum yang pada dasarnya pahit dan hanya mengeluarkan aroma ketika diremukkan. Ini bukan kebetulan rohani, melainkan gambaran profetik atas kehidupan jemaat ini. Smirna diremukkan oleh tekanan, fitnah, pengucilan, dan ketidakadilan, namun dari proses itulah muncul keharuman kesetiaan yang menyenangkan hati Tuhan. Mereka tidak menjadi harum karena kenyamanan, fasilitas, atau perlindungan, melainkan karena ketaatan di tengah penderitaan. Hidup mereka menjadi persembahan yang hidup ,tidak berisik, tidak menuntut simpati, tidak membela diri , namun aromanya naik ke hadapan Allah. Seperti mur yang dipakai dalam penguburan dan penyembahan, hidup mereka berbicara lebih keras melalui kesetiaan daripada melalui kata-kata.

Dari tujuh jemaat di Kitab Wahyu, Smirna adalah satu-satunya jemaat yang tidak ditegur oleh Tuhan. Tidak ada cela yang disorot, tidak ada koreksi keras, dan tidak ada panggilan pertobatan. Yang ada hanyalah penguatan, penghiburan, dan janji mahkota kehidupan. Hal ini menegaskan bahwa penderitaan mereka bukan buah dari kompromi atau dosa tersembunyi, melainkan bagian dari kesetiaan yang Tuhan kenal sepenuhnya. Yesus tidak berkata, “Perbaiki ini dan itu,” tetapi berkata, “Jangan takut… hendaklah engkau setia sampai mati.” Kalimat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak sedang memperbaiki merekaTuhan sedang mempercayai mereka. Smirna bukan gereja yang perlu ditegur, melainkan gereja yang sedang dipersiapkan untuk kemuliaan.

Kisah Smirna berbicara sangat kuat kepada kita hari ini. Tidak semua tekanan berarti kita salah jalan, dan tidak semua kehilangan berarti Tuhan meninggalkan. Ada musim di mana kesetiaan justru membawa risiko, dan iman justru harus dibayar mahal. Ada saat-saat ketika taat kepada Tuhan membuat kita kehilangan kenyamanan, posisi, dan penerimaan sosial. Namun Smirna mengajarkan bahwa Tuhan lebih menghargai hati yang setia daripada hidup yang aman. Lebih baik diremukkan namun harum di hadapan Tuhan, daripada nyaman di mata dunia tetapi kehilangan mahkota kehidupan. Smirna mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan Kerajaan Allah bukanlah kelapangan hidup, melainkan kesetiaan sampai akhir.


BHS

Minggu, 01 Februari 2026

Belajar Dari Jemaat Efesus

                   Jemaat Efesus bukan gereja yang malas atau sesat. Mereka aktif, militan dalam kebenaran, dan berani menolak ajaran yang salah. Yesus sendiri mengakui, “Aku tahu segala pekerjaanmu: jerih payahmu dan ketekunanmu” (Wahyu 2:2). Mereka kuat secara doktrin, disiplin dalam pelayanan, dan tegas terhadap pengajaran yang menyimpang. Namun justru kepada gereja yang terlihat paling “benar” ini Yesus berkata dengan tegas, “Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Wahyu 2:4). Ini peringatan keras: seseorang bisa benar secara teologi, tetapi salah secara relasi. Kita bisa sibuk bekerja bagi Tuhan, namun hati kita perlahan menjauh dari Tuhan.

Kasih mula-mula bukan nostalgia rohani, melainkan fondasi kehidupan rohani. Itu adalah hati yang mudah tersentuh oleh hadirat Tuhan, haus akan firman, dan menikmati persekutuan dengan-Nya. Jemaat Efesus tidak kehilangan iman, mereka kehilangan kepekaan. Pelayanan menggantikan persekutuan, rutinitas menggantikan kerinduan. Paulus pernah menasihati mereka agar “berakar dan berdasar di dalam kasih” (Efesus 3:17), namun seiring waktu, akar itu mengering. Mereka tidak berhenti melayani, tetapi berhenti mengasihi dengan hati yang menyala.

Efesus sendiri adalah kota yang sarat tekanan rohani. Kota ini pusat penyembahan dewi Artemis (Diana), salah satu dewi terbesar dunia kuno. Kisah Para Rasul 19 mencatat bagaimana penyembahan Artemis begitu menguasai budaya, ekonomi, dan identitas kota itu. Patung Artemis disembah, kuilnya menjadi kebanggaan dunia, dan siapa pun yang mengganggu sistem ini dianggap ancaman. Jemaat Efesus hidup di tengah peperangan rohani yang intens, mereka berani menolak berhala, menentang sihir, dan berdiri melawan arus. Namun justru di tengah perjuangan melawan kegelapan eksternal, api kasih internal mereka perlahan padam. Mereka menang melawan berhala di luar, tetapi lengah menjaga mezbah kasih di dalam.

Yesus tidak menawar-nawar keadaan ini. Ia berkata, “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan” (Wahyu 2:5). Jika tidak, kaki dian akan diambil. Artinya, aktivitas rohani tanpa kasih tidak lagi memancarkan terang. Gereja bisa tetap berjalan, ibadah bisa tetap ramai, pelayanan bisa tetap sibuk , tetapi kehadiran Tuhan tidak lagi tinggal. Tuhan tidak terkesan dengan kesibukan rohani yang tidak lahir dari cinta, sebab “jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1 Korintus 13:2).

Renungan ini menelanjangi hati kita hari ini. Apakah doa kita masih lahir dari rindu, atau hanya kewajiban? Apakah pelayanan kita masih respons kasih, atau sekadar tanggung jawab? Yesus tidak mencari gereja yang hanya benar dan sibuk, tetapi gereja yang mengasihi Dia terlebih dahulu (Matius 22:37). Tanpa kasih mula-mula, semua yang tampak hidup sebenarnya sedang menuju kematian rohani. Tuhan rindu api yang sama , kasih yang menyala, hati yang lembut, dan relasi yang hidup , itulah terang sejati yang tidak bisa dipadamkan oleh dunia mana pun. 🔥


BHS

Sabtu, 31 Januari 2026

Rahasia Orang Percaya

                   “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.” .Yeremia 17:7 .Yeremia menegaskan bahwa berkat sejati tidak lahir dari situasi yang ideal, tetapi dari sumber kepercayaan yang benar. Orang yang mengandalkan Tuhan tidak sedang menutup mata terhadap realita, tetapi memilih menambatkan hidupnya pada Pribadi yang tidak pernah gagal. Dunia mengajarkan kita untuk bersandar pada kekuatan sendiri, koneksi, atau logika. Namun Firman berkata: berkat dilepaskan ketika harapan kita berpindah dari manusia kepada Tuhan. Bukan seberapa kuat kita, tetapi siapa yang kita andalkan.

Ayat 8 melukiskan orang yang percaya kepada Tuhan seperti pohon yang ditanam di tepi air. Akar-akarnya menjalar ke sumber yang tidak kelihatan mata, tetapi menentukan seluruh kehidupannya. Inilah rahasia orang percaya: kekuatannya tidak tergantung pada apa yang terlihat di luar, melainkan pada hubungan yang dalam dengan Tuhan. Ketika akar masuk ke dalam Firman, doa, dan ketaatan, kehidupan akan tetap hijau meski lingkungan sekitar kering. Akar yang benar selalu menghasilkan buah yang benar.

Menariknya, Firman berkata bahwa pohon itu tidak takut saat panas datang. Artinya, orang yang berharap kepada Tuhan bukan orang yang bebas masalah, tetapi orang yang tidak dikuasai oleh ketakutan. Musim kering pasti datang , tekanan, penolakan, kekurangan, dan ketidakpastian. Namun orang yang hidupnya tertanam dalam Tuhan tidak panik, tidak goyah, dan tidak kehilangan arah. Musim sulit justru membuktikan di mana akar kita berada.

Pada akhirnya, hidup yang mengandalkan Tuhan adalah hidup yang terus berbuah, bahkan ketika dunia berkata tidak mungkin. Yeremia 17:8 menutup dengan deklarasi kuat: “tidak berhenti menghasilkan buah.” Ini adalah hidup yang konsisten, setia, dan berdampak. Tuhan tidak mencari orang yang hanya kuat di musim hujan, tetapi mereka yang tetap berbuah di musim kering. Ketika Tuhan menjadi sumber, keadaan tidak lagi menjadi penentu.


BHS

Kamis, 29 Januari 2026

Jangan Tertipu Hati Sendiri

                     Amsal 16:2 berkata, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Inilah realitas yang sering tidak disadari: manusia sangat mudah tertipu oleh penilaian dirinya sendiri. Apa yang terasa benar belum tentu benar di hadapan Tuhan. Kita cenderung membangun standar kebenaran berdasarkan logika, perasaan, dan pengalaman pribadi. Tanpa sadar, keyakinan diri bisa menutupi penyimpangan arah. Perasaan benar bukanlah ukuran kebenaran sejati. Kebenaran yang tidak diuji akan terasa nyaman, tetapi justru berbahaya karena meninabobokan hati.

Karena itu, Tuhan memberikan Roh Kudus dengan fungsi yang sangat jelas: menuntun kepada seluruh kebenaran. Yesus berkata, “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Discerning spirit bukanlah kepekaan emosional, melainkan kemampuan rohani untuk membedakan sumber dorongan di dalam hati , apakah itu berasal dari Tuhan, dari diri sendiri, atau dari roh lain. Tanpa kepekaan ini, seseorang bisa sangat aktif secara rohani tetapi kehilangan ketajaman kebenaran. Roh Kudus tidak hanya menghibur; Ia menyingkap, menegur, dan meluruskan arah yang melenceng meski tampak benar di mata manusia.

Standar hidup orang percaya bukan perasaan, tradisi, atau pembenaran diri, melainkan Firman Tuhan yang hidup dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab dengan tegas memperingatkan, “Hati itu licik, lebih licik dari pada segala sesuatu” (Yeremia 17:9). Karena itu, jangan tertipu oleh hati kita sendiri, dan jangan tertipu oleh kebenaran versi kita sendiri. Hati yang tidak diuji akan menipu, dan kebenaran yang lahir dari diri sendiri akan membenarkan arah yang salah. Firman dan Roh bekerja bersama , Firman menjadi standar yang objektif, Roh Kudus menjadi penimbang yang menembus motivasi terdalam keduanya menyingkapkan kebenaran sampai ke akar batin. Apa yang tidak diuji akan menyesatkan, meski dibungkus dengan bahasa rohani.

Karena itu respons yang benar bukanlah membela diri, melainkan menyerahkan hati untuk diuji Tuhan. Amsal 16:2 menutup dengan satu kebenaran yang menentukan arah hidup: Tuhanlah yang menimbang roh manusia. Maka doa yang tepat adalah seruan pemazmur, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku” (Mazmur 139:23–24). Orang yang hidup di bawah terang Firman dan pimpinan Roh Kudus mungkin akan sering dikoreksi, tetapi ia tidak akan dibiarkan tertipu , baik oleh hatinya sendiri maupun oleh kebenaran versinya sendiri. Lebih baik dikoreksi Tuhan daripada dibenarkan diri sendiri.


BHS

Rabu, 28 Januari 2026

Mendekatlah Kepada Nya

                 “Hanya dekat Allah saja aku tenang.” Kalimat ini tidak lahir dari kondisi yang aman dan nyaman. Daud menuliskannya justru saat ia berada di bawah tekanan besar, dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Mereka yang pernah berjalan bersamanya, makan di mejanya, dan mengenal hidupnya, kini berbalik menjadi sumber luka. Tekanan itu bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan rohani. Namun di tengah semua itu, Daud menemukan satu kebenaran penting: ketenangan sejati tidak datang dari situasi yang membaik, melainkan dari hati yang melekat kepada Allah (Mazmur 62:2).

Daud sadar, manusia bisa berubah. Orang yang dulu mendukung bisa menjadi penekan. Kepercayaan bisa bergeser menjadi tuduhan. Karena itu Daud tidak menggantungkan jiwanya pada penerimaan manusia. Ia memilih satu posisi yang tepat—mendekat kepada Tuhan. Saat suara manusia menjadi bising, melukai, dan membingungkan, Daud mencari suara Allah. Ia tahu, hanya Tuhan yang tetap setia di tengah ketidaksetiaan manusia. Dari pengenalan itulah Daud berani menyebut Tuhan sebagai gunung batunya, keselamatannya, dan kubu pertahanannya (Mazmur 62:3). Ini bukan sekadar bahasa rohani, tapi pengakuan yang lahir dari pengalaman hidup. Pengenalan akan Bapa melahirkan rasa aman. Seperti anak yang bisa tenang di dekat ayahnya karena tahu ayahnya sanggup melindungi, demikian juga Daudjiwanya bisa diam karena ia benar-benar mengenal siapa Allahnya.


Menariknya, dalam Mazmur 62:2, kata “dekat” tersirat dari bahasa Ibrani “אֶל” (’el) yang berarti menuju kepada, berpaut, mengarah dengan sengaja. Ini bukan sekadar jarak fisik, tapi sikap hati yang memilih arah. Alkitab juga sering memakai kata “קָרַב” (qarab) yang berarti menarik diri mendekat, datang menghampiri dengan kesadaran. Artinya, mendekat kepada Allah adalah sebuah keputusan, bukan reaksi emosional sesaat.

Renungan ini mengajak kita mengambil posisi yang sama. Jangan menunggu keadaan pulih untuk datang kepada Tuhan. Datanglah sekarang, dan tinggallah dekat Bapa. Damai sejahtera tidak berasal dari keadaan atau manusia, tetapi dari Allah sendiri. Saat kita memilih qarab ,menarik diri mendekat kepada-Nya ,jiwa kita menemukan ketenangan yang tidak bisa dirampas oleh pengkhianatan, tekanan, atau perubahan orang lain. kita mau mendekat kepada siapa? Pilihan itu ada di tanganmu.


BHS

Selasa, 27 Januari 2026

Ketidakpercayaan Menutup Berkat

                  Kerinduan hati Tuhan sejak semula adalah memberkati umat-Nya. Dia adalah Bapa yang baik, yang rindu menyatakan kasih, kuasa, dan kebaikan-Nya secara nyata. Mazmur 78:41 dengan tegas berkata, “ Again and again they limited God , preventing Him from blessing them.” ( Passion Translation )  Makna ayat ini dapat dipahami sebagai: “Lagi dan lagi mereka membatasi Allah, mencegah Dia memberkati mereka.” Bukan karena Tuhan kekurangan kuasa atau kehendak, melainkan karena sikap hati manusia yang memilih ketidakpercayaan. Bangsa Israel telah melihat mujizat demi mujizat, namun ketidakpercayaan membuat mereka sendiri menjadi penghalang bagi berkat yang Tuhan sediakan.

Ketidakpercayaan selalu bekerja seperti pintu yang tertutup. Iman membuka akses bagi pekerjaan Tuhan, tetapi ketidakpercayaan memblokirnya. Bangsa Israel lebih mempercayai keadaan, ancaman, dan ketakutan mereka daripada firman Tuhan. Keluhan menggantikan syukur, dan logika menggantikan iman. Tanpa disadari, mereka membuka pintu bagi ketidakpercayaan dan menutup pintu bagi kuasa Allah. Inilah cara halus namun mematikan bagaimana manusia membatasi pengalaman mereka akan Allah—bukan karena Allah terbatas, tetapi karena hati manusia tidak lagi memberi ruang bagi Dia untuk bekerja.

Kebenaran yang sama terlihat jelas dalam pelayanan Yesus di Nazaret. Markus 6:3–6 mencatat bahwa orang-orang berkata, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Di sinilah roh familiar (spirit of familiarity) bekerja. Karena mereka terlalu biasa melihat Yesus sebagai “anak tukang kayu,” mereka kehilangan kepekaan rohani untuk mengenali siapa Dia sebenarnya. Kedekatan secara natural mematikan penghormatan secara rohani. Akibatnya, kepercayaan mereka runtuh. Markus mencatat bahwa Yesus tidak dapat mengadakan banyak mujizat di sana dan Ia heran karena ketidakpercayaan mereka. Spirit familiar menutup mata rohani, merendahkan otoritas ilahi, dan akhirnya menutup pintu bagi kuasa Tuhan untuk bekerja.

Renungan ini menegaskan bahwa ketidakpercayaan bukan sekadar keraguan, tetapi sebuah sikap hati yang membangun batas bagi pekerjaan Tuhan. Tuhan tetap berkuasa, tetap rindu memberkati, dan tetap setia pada firman-Nya, namun Ia memilih bekerja melalui iman. Ketika iman tidak ada, pintu tertutup,bukan karena Tuhan menjauh, tetapi karena manusia memasang batas yang Tuhan hormati. Ketidakpercayaan membuat seseorang hidup di sekitar hadirat Tuhan, tetapi tidak mengalami kuasa-Nya. Karena itu, panggilan kita hari ini adalah menjaga hati tetap lembut dan penuh iman, menolak roh familiar, dan terus menghormati pekerjaan Tuhan. Dengan iman, pintu tetap terbuka, dan kerinduan hati Bapa untuk memberkati, memulihkan, dan menyatakan kuasa-Nya dapat dinyatakan sepenuhnya dalam hidup kita.


BHS

Senin, 26 Januari 2026

Panik ??? Lihat yang Benar !

               Kepanikan hampir selalu membuat kita menoleh ke belakang. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel di Keluaran 14. Mereka baru saja keluar dari Mesir melalui mujizat yang dahsyat,tangan Tuhan terbentang dan kuasa-Nya nyata. Namun ketika tentara Firaun mendekat dan laut terbentang tertutup di depan mereka, kepanikan mengambil alih. Dalam sekejap, iman mereka runtuh. Mereka mulai bersungut-sungut, marah kepada Musa, dan kehilangan penglihatan rohani. Dari mulut yang dikuasai ketakutan, keluar seruan yang mencerminkan hati yang gentar: “Bukankah lebih baik kami kembali ke Mesir?”

Kepanikan selalu membuat masa lalu terlihat lebih aman daripada masa depan. Dalam tekanan, Mesir,tempat perbudakan dan penderitaan ,tampak lebih nyaman dibanding janji Tuhan yang belum mereka lihat wujudnya. Kepanikan membuat mereka lupa satu kebenaran penting: Tuhan yang memulai perjalanan ini juga setia menyelesaikannya. Saat ketakutan mengambil alih, ingatan akan karya Tuhan memudar, dan iman kehilangan pijakan. Yang dulu ingin mereka tinggalkan, kini justru ingin mereka kejar kembali.

Di tengah situasi yang paling tidak masuk akal, Tuhan berbicara dengan tegas melalui Musa: “Berdirilah tegap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN” Keluaran 14:13. Tuhan tidak menyuruh mereka lari, tidak menyuruh mereka berteriak, dan tidak menyuruh mereka kembali ke belakang. Tuhan memerintahkan mereka untuk berdiri tegap. Sikap iman selalu tegap, bukan tergesa-gesa. Iman tidak menyangkal kenyataan, tetapi menolak dikendalikan oleh ketakutan. Panik melihat tembok dan jalan buntu, tetapi iman percaya bahwa Tuhan sanggup membuka jalan di tempat yang mustahil.

Karena itu, ketika kondisi hidup sedang tidak baik, jangan serahkan kemudi kepada kepanikan. Panik selalu menarik kita kembali ke masa lalu, tetapi iman selalu mengarahkan kita melangkah ke depan. Iman mungkin belum melihat jalannya, tetapi percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik apa yang belum tampak. Pilihannya sederhana: hidup dikendalikan oleh ketakutan, atau dipimpin oleh iman. Jangan mundur, jangan menoleh ,teruslah melangkah maju bersama Tuhan.


BHS