Kamis, 29 Januari 2026

Jangan Tertipu Hati Sendiri

                     Amsal 16:2 berkata, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Inilah realitas yang sering tidak disadari: manusia sangat mudah tertipu oleh penilaian dirinya sendiri. Apa yang terasa benar belum tentu benar di hadapan Tuhan. Kita cenderung membangun standar kebenaran berdasarkan logika, perasaan, dan pengalaman pribadi. Tanpa sadar, keyakinan diri bisa menutupi penyimpangan arah. Perasaan benar bukanlah ukuran kebenaran sejati. Kebenaran yang tidak diuji akan terasa nyaman, tetapi justru berbahaya karena meninabobokan hati.

Karena itu, Tuhan memberikan Roh Kudus dengan fungsi yang sangat jelas: menuntun kepada seluruh kebenaran. Yesus berkata, “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Discerning spirit bukanlah kepekaan emosional, melainkan kemampuan rohani untuk membedakan sumber dorongan di dalam hati , apakah itu berasal dari Tuhan, dari diri sendiri, atau dari roh lain. Tanpa kepekaan ini, seseorang bisa sangat aktif secara rohani tetapi kehilangan ketajaman kebenaran. Roh Kudus tidak hanya menghibur; Ia menyingkap, menegur, dan meluruskan arah yang melenceng meski tampak benar di mata manusia.

Standar hidup orang percaya bukan perasaan, tradisi, atau pembenaran diri, melainkan Firman Tuhan yang hidup dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab dengan tegas memperingatkan, “Hati itu licik, lebih licik dari pada segala sesuatu” (Yeremia 17:9). Karena itu, jangan tertipu oleh hati kita sendiri, dan jangan tertipu oleh kebenaran versi kita sendiri. Hati yang tidak diuji akan menipu, dan kebenaran yang lahir dari diri sendiri akan membenarkan arah yang salah. Firman dan Roh bekerja bersama , Firman menjadi standar yang objektif, Roh Kudus menjadi penimbang yang menembus motivasi terdalam keduanya menyingkapkan kebenaran sampai ke akar batin. Apa yang tidak diuji akan menyesatkan, meski dibungkus dengan bahasa rohani.

Karena itu respons yang benar bukanlah membela diri, melainkan menyerahkan hati untuk diuji Tuhan. Amsal 16:2 menutup dengan satu kebenaran yang menentukan arah hidup: Tuhanlah yang menimbang roh manusia. Maka doa yang tepat adalah seruan pemazmur, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku” (Mazmur 139:23–24). Orang yang hidup di bawah terang Firman dan pimpinan Roh Kudus mungkin akan sering dikoreksi, tetapi ia tidak akan dibiarkan tertipu , baik oleh hatinya sendiri maupun oleh kebenaran versinya sendiri. Lebih baik dikoreksi Tuhan daripada dibenarkan diri sendiri.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar