“Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain” (Yesaya 42:8). Ayat ini bukan sekadar pernyataan identitas Allah, tetapi garis batas yang tegas bagi setiap pelayan Tuhan. Kemuliaan hanya milik Tuhan dan tidak boleh diambil sedikit pun oleh manusia. Masalah terbesar dalam kehidupan rohani sering kali bukan dosa besar yang kasat mata, melainkan pergeseran pusat yang halus—ketika hati mulai menikmati sorotan, pujian, dan pengakuan yang seharusnya kembali kepada Allah. Kita tetap melayani, berkhotbah, bernyanyi, dan beribadah, tetapi motivasi mulai berubah. Saat pelayanan tidak lagi bertanya, “apakah Tuhan dimuliakan?”, melainkan “apakah aku diapresiasi?”, di situlah kemuliaan Tuhan sedang dicuri—bukan dengan kata-kata, tetapi melalui motivasi yang salah.
Roh ini sering bersembunyi di balik apa yang disebut spirit of entertainment. Fokusnya adalah perform: tampil baik, terlihat rohani, dan diterima manusia. Ibadah pelan-pelan bergeser menjadi panggung, mimbar menjadi tempat pembuktian diri, dan pelayanan berubah menjadi konten. Yesus menegur keras sikap ini dengan berkata, “Mereka melakukan semuanya itu supaya dilihat orang” (Matius 23:5). Ketika validasi manusia menjadi sumber sukacita, saat itulah kemuliaan Tuhan dipindahkan ke ego manusia. Inilah pencurian kemuliaan yang paling berbahaya karena sering kali dibungkus dengan aktivitas rohani, ayat Alkitab, dan bahasa pelayanan.Sebaliknya, seorang worshipper sejati hidup hanya untuk Tuhan. Penyembahan bukan soal kualitas suara, kerapian musik, lighting, atau atmosfer yang megah. Semua itu hanyalah alat , dan alat tidak pernah bisa menggantikan presence of God. Tulisan ini bukan menentang elemen teknis dalam ibadah, tetapi menegaskan bahwa tidak ada cahaya buatan yang bisa menggantikan terang hadirat Tuhan. Hadirat Allah tidak dihasilkan oleh panggung, tetapi oleh hati yang hancur, rendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya.
Hari-hari ini, panggung sering dijadikan ukuran “kesuksesan pelayanan”. Namun kita perlu berhenti sejenak dan berpikir ulang: bukankah target sejati pelayanan adalah seperti yang kita lihat dalam Kisah Para Rasul, ketika hadirat Tuhan menjadi pusat dan milik Tuhan satu-satunya, dan manusia sadar bahwa dirinya hanyalah alat? Yohanes Pembaptis berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Inilah roh penyembahan sejati: tidak mencuri kemuliaan, tidak haus sorotan, tidak membangun nama, tetapi dengan sadar mengembalikan seluruh kemuliaan kepada Dia yang empunya. Gereja boleh terlihat indah, tetapi hanya hadirat Tuhan yang membuatnya sungguh-sungguh hidup. , renungan hari ini mengajak kita untuk mengembalikan kemuliaan Tuhan di tempatnya ! karna pada akhirnya adalah SoliDeo Gloria , Dari Tuhan , Oleh Tuhan dan Untuk Tuhan.
Blessing
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar