Ketaatan selalu menuntut iman, karena sering kali Tuhan tidak menjelaskan seluruh rencana-Nya saat Ia memanggil seseorang untuk melangkah. Dalam banyak musim, Tuhan hanya memberi perintah, bukan penjelasan. Firman Tuhan berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Di titik inilah iman mengambil alih—ketika pengertian berhenti, ketaatan tetap berjalan. Ketaatan semacam ini bukan lahir dari kepastian situasi, tetapi dari keyakinan yang dalam bahwa Tuhan tidak pernah salah, bahkan ketika jalan-Nya terasa gelap dan tidak masuk akal.
Kisah William Seymour memperlihatkan ketaatan yang sangat murni, lahir bukan dari tekanan, tetapi dari iman yang sederhana dan dalam. Seymour adalah seorang pria kulit hitam di masa segregasi rasial, miskin, tidak dikenal, dengan keterbatasan fisik pada penglihatannya. Ia bahkan tidak diizinkan duduk di ruang kelas ketika belajar tentang baptisan Roh Kudus—ia harus mendengarkan pengajaran dari luar pintu. Namun penghinaan itu tidak memadamkan imannya. Ketika Tuhan memanggilnya ke Los Angeles, ia taat tanpa tahu apa yang akan terjadi. Ia tidak membawa rencana besar, tidak membawa nama, hanya membawa ketaatan. Ironisnya, setibanya di sana, gereja yang mengundangnya justru menutup pintu dan menolaknya. Secara manusia, inilah titik di mana banyak orang akan berhenti. Tetapi Seymour tidak mundur—ia memilih taat tetap tinggal dan berdoa.Dalam ketaatan yang tersembunyi itulah iman Seymour benar-benar mengambil alih. Ia tidak berusaha membuktikan bahwa ia benar, tidak mencari mimbar lain, dan tidak berjuang mempertahankan reputasi. Ia hanya mengumpulkan beberapa orang di sebuah rumah kecil di Bonnie Brae Street dan berdoa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Tidak ada jaminan revival akan terjadi. Tidak ada tanda-tanda supranatural di awal. Hanya ada satu hal: ketaatan yang lahir dari iman, bukan dari paksaan. Dan justru dari tempat yang tidak megah, dari doa yang tidak dipublikasikan, Roh Kudus dicurahkan dengan dahsyat. Azusa Street Revival lahir bukan dari strategi manusia, tetapi dari iman yang ditaati sampai akhir.
Ketaatan yang beriman juga memurnikan motivasi hati, dan ini terlihat jelas dalam hidup Seymour. Ia menolak menjadi pusat perhatian. Dalam banyak pertemuan, ia bahkan berlutut dengan kepala tertutup peti kayu, seolah berkata, “Biarlah Tuhan saja yang terlihat.” Inilah perbedaan besar antara ketaatan karena iman dan ketaatan karena terpaksa. Secara lahiriah, dua orang bisa melakukan hal yang sama melayani, berdoa, taat tetapi hasilnya tidak pernah sama. Ketaatan yang dilakukan karena tekanan, kewajiban, atau takut manusia tidak akan melahirkan kuasa. Tetapi ketaatan yang lahir dari iman dan kasih kepada Tuhan membuka ruang bagi pekerjaan Roh Kudus. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).
Pada akhirnya, ketaatan yang lahir dari iman selalu menghasilkan dampak yang melampaui satu generasi. William Seymour mungkin tidak pernah sepenuhnya mengerti bahwa doanya yang sederhana akan memicu gerakan Pentakosta global yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia. Namun firman Tuhan tetap berlaku: “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7). Iman tidak selalu memberi penjelasan di awal, tetapi iman yang ditaati , bukan dipaksakan ,selalu membuka jalan bagi pekerjaan Tuhan yang jauh lebih besar daripada yang dapat dirancang oleh manusia.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar