“Hanya dekat Allah saja aku tenang.” Kalimat ini tidak lahir dari kondisi yang aman dan nyaman. Daud menuliskannya justru saat ia berada di bawah tekanan besar, dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Mereka yang pernah berjalan bersamanya, makan di mejanya, dan mengenal hidupnya, kini berbalik menjadi sumber luka. Tekanan itu bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan rohani. Namun di tengah semua itu, Daud menemukan satu kebenaran penting: ketenangan sejati tidak datang dari situasi yang membaik, melainkan dari hati yang melekat kepada Allah (Mazmur 62:2).
Daud sadar, manusia bisa berubah. Orang yang dulu mendukung bisa menjadi penekan. Kepercayaan bisa bergeser menjadi tuduhan. Karena itu Daud tidak menggantungkan jiwanya pada penerimaan manusia. Ia memilih satu posisi yang tepat—mendekat kepada Tuhan. Saat suara manusia menjadi bising, melukai, dan membingungkan, Daud mencari suara Allah. Ia tahu, hanya Tuhan yang tetap setia di tengah ketidaksetiaan manusia. Dari pengenalan itulah Daud berani menyebut Tuhan sebagai gunung batunya, keselamatannya, dan kubu pertahanannya (Mazmur 62:3). Ini bukan sekadar bahasa rohani, tapi pengakuan yang lahir dari pengalaman hidup. Pengenalan akan Bapa melahirkan rasa aman. Seperti anak yang bisa tenang di dekat ayahnya karena tahu ayahnya sanggup melindungi, demikian juga Daudjiwanya bisa diam karena ia benar-benar mengenal siapa Allahnya.
Menariknya, dalam Mazmur 62:2, kata “dekat” tersirat dari bahasa Ibrani
“אֶל” (’el) yang berarti
menuju kepada, berpaut, mengarah dengan sengaja. Ini bukan sekadar jarak fisik, tapi sikap hati yang memilih arah. Alkitab juga sering memakai kata
“קָרַב” (qarab) yang berarti
menarik diri mendekat, datang menghampiri dengan kesadaran. Artinya, mendekat kepada Allah adalah sebuah keputusan, bukan reaksi emosional sesaat.
Renungan ini mengajak kita mengambil posisi yang sama. Jangan menunggu keadaan pulih untuk datang kepada Tuhan. Datanglah sekarang, dan tinggallah dekat Bapa. Damai sejahtera tidak berasal dari keadaan atau manusia, tetapi dari Allah sendiri. Saat kita memilih qarab ,menarik diri mendekat kepada-Nya ,jiwa kita menemukan ketenangan yang tidak bisa dirampas oleh pengkhianatan, tekanan, atau perubahan orang lain. kita mau mendekat kepada siapa? Pilihan itu ada di tanganmu.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar