Firman Tuhan berkata, “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). Alkitab dengan sengaja menekankan bibir, karena korban puji-pujian bukan hanya soal apa yang kita yakini di dalam hati, tetapi apa yang kita berani lepaskan di tengah tekanan. Ada iman di hati, tetapi iman itu menjadi korban ketika diekspresikan , saat bibir memilih memuliakan Tuhan walau situasi menekan. Di titik inilah pujian tidak lagi murah, melainkan mahal.
Korban puji-pujian selalu menuntut harga. Ia lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari ketaatan. Ketika keadaan tidak berubah, doa belum terjawab, dan emosi tidak mendukung, pujian yang tetap dinaikkan menjadi korban yang harum di hadapan Tuhan. Pujian seperti ini tidak menunggu hasil, tetapi percaya pada karakter Allah. Inilah ibadah yang murni—memuliakan Tuhan bukan karena apa yang Dia lakukan, tetapi karena siapa Dia.Kisah Paulus dan Silas menggambarkan korban puji-pujian dengan sangat nyata. Mereka dipukuli, dirantai, dan dipenjarakan di bagian paling dalam. Tubuh mereka sakit, luka masih terbuka, dan secara manusia tidak ada alasan untuk bersukacita. Namun di tengah malam, mereka mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan. Pujian itu lahir dari penderitaan, bukan dari kenyamanan. Karena itulah pujian mereka menjadi korban. Dan ketika korban itu dinaikkan, Tuhan bertindak , gempa terjadi, rantai terlepas, pintu terbuka. Hal yang sama kita lihat dalam kisah Raja Yosafat (2 Tawarikh 20). Saat Yehuda dikepung musuh yang jauh lebih besar, Tuhan memerintahkan puji-pujian dinaikkan terlebih dahulu. Para penyanyi ditempatkan di barisan depan, mendahului pasukan. Ini bukan pujian setelah kemenangan, tetapi pujian sebelum kemenangan terlihat. Di situlah letak korbannya. Dan ketika puji-pujian dinaikkan, Tuhan sendiri yang mengacaukan musuh dan memberi kemenangan.
Dalam kedua kisah ini kita melihat satu prinsip rohani: korban puji-pujian selalu mendahului intervensi Tuhan. Pujian bukan alat untuk memaksa Tuhan bekerja, tetapi respon iman yang menempatkan Tuhan kembali di takhta. Ada pengakuan iman yang dilepaskan, bukan karena suara itu sempurna, tetapi karena hati yang sepenuhnya berserah.
Hari ini, korban puji-pujian muncul ketika kita tetap memuliakan Tuhan di tengah proses, tetap menyembah di musim gelap, dan tetap setia walau tekanan belum berhenti. Inilah pujian yang membentuk kedewasaan rohani dan meneguhkan iman. Dan setiap kali korban itu dinaikkan, Tuhan setia menyatakan diri-Nya—dengan cara dan waktu-Nya yang terbaik.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar