Kerinduan hati Tuhan sejak semula adalah memberkati umat-Nya. Dia adalah Bapa yang baik, yang rindu menyatakan kasih, kuasa, dan kebaikan-Nya secara nyata. Mazmur 78:41 dengan tegas berkata, “ Again and again they limited God , preventing Him from blessing them.” ( Passion Translation ) Makna ayat ini dapat dipahami sebagai: “Lagi dan lagi mereka membatasi Allah, mencegah Dia memberkati mereka.” Bukan karena Tuhan kekurangan kuasa atau kehendak, melainkan karena sikap hati manusia yang memilih ketidakpercayaan. Bangsa Israel telah melihat mujizat demi mujizat, namun ketidakpercayaan membuat mereka sendiri menjadi penghalang bagi berkat yang Tuhan sediakan.
Ketidakpercayaan selalu bekerja seperti pintu yang tertutup. Iman membuka akses bagi pekerjaan Tuhan, tetapi ketidakpercayaan memblokirnya. Bangsa Israel lebih mempercayai keadaan, ancaman, dan ketakutan mereka daripada firman Tuhan. Keluhan menggantikan syukur, dan logika menggantikan iman. Tanpa disadari, mereka membuka pintu bagi ketidakpercayaan dan menutup pintu bagi kuasa Allah. Inilah cara halus namun mematikan bagaimana manusia membatasi pengalaman mereka akan Allah—bukan karena Allah terbatas, tetapi karena hati manusia tidak lagi memberi ruang bagi Dia untuk bekerja.
Kebenaran yang sama terlihat jelas dalam pelayanan Yesus di Nazaret. Markus 6:3–6 mencatat bahwa orang-orang berkata, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Di sinilah roh familiar (spirit of familiarity) bekerja. Karena mereka terlalu biasa melihat Yesus sebagai “anak tukang kayu,” mereka kehilangan kepekaan rohani untuk mengenali siapa Dia sebenarnya. Kedekatan secara natural mematikan penghormatan secara rohani. Akibatnya, kepercayaan mereka runtuh. Markus mencatat bahwa Yesus tidak dapat mengadakan banyak mujizat di sana dan Ia heran karena ketidakpercayaan mereka. Spirit familiar menutup mata rohani, merendahkan otoritas ilahi, dan akhirnya menutup pintu bagi kuasa Tuhan untuk bekerja.
Renungan ini menegaskan bahwa ketidakpercayaan bukan sekadar keraguan, tetapi sebuah sikap hati yang membangun batas bagi pekerjaan Tuhan. Tuhan tetap berkuasa, tetap rindu memberkati, dan tetap setia pada firman-Nya, namun Ia memilih bekerja melalui iman. Ketika iman tidak ada, pintu tertutup,bukan karena Tuhan menjauh, tetapi karena manusia memasang batas yang Tuhan hormati. Ketidakpercayaan membuat seseorang hidup di sekitar hadirat Tuhan, tetapi tidak mengalami kuasa-Nya. Karena itu, panggilan kita hari ini adalah menjaga hati tetap lembut dan penuh iman, menolak roh familiar, dan terus menghormati pekerjaan Tuhan. Dengan iman, pintu tetap terbuka, dan kerinduan hati Bapa untuk memberkati, memulihkan, dan menyatakan kuasa-Nya dapat dinyatakan sepenuhnya dalam hidup kita.
BHS
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar