Minggu, 18 Januari 2026

Keteladanan Seorang Pemimpin

                 Hari ini Roh Kudus mengingatkan kita tentang kepemimpinan orang percaya yang sangat berbeda dari kepemimpinan sekuler. Alkitab berkata, “Barangsiapa ingin menjadi yang terdepan, hendaklah ia menjadi yang terakhir,” dan masih banyak prinsip Kerajaan Allah lainnya yang bertolak belakang dengan sistem dunia. Hari ini kita akan berfokus pada kepemimpinan yang bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata. Sebab sering kali, kehidupan nyata berbicara jauh lebih keras daripada apa yang kita ucapkan. “Ikutilah teladanku, sama seperti aku meneladani Kristus” (1 Korintus 11:1) bukanlah ajakan untuk mengidolakan Paulus, melainkan undangan untuk melihat kehidupan yang selaras dengan Kristus. Paulus tidak meminta jemaat meniru kepribadiannya, tetapi meniru arah hidupnya. Pusat pernyataannya bukan “aku”, melainkan “Kristus”. Karena itu, setiap pemimpin perlu berhati-hati, sebab banyak mata sedang memperhatikan hidupnya. Baik disadari atau tidak, kehidupan seorang pemimpin selalu menjadi contah bukan hanya melalui perkataannya, tetapi melalui sikap, keputusan, dan responsnya setiap hari. Kepemimpinan menempatkan seseorang di ruang yang terbuka, di mana hidupnya tidak lagi sepenuhnya privat, melainkan menjadi bacaan publik.

Kata teladan dalam bahasa Yunani adalah mimētēs, yang berarti meniru secara nyata, mencontoh pola hidup. Ini berbicara tentang kehidupan yang dapat disalin, bukan sekadar pesan yang didengar. Paulus sadar bahwa hidupnya sedang dibaca oleh jemaat. Itulah sebabnya ia memilih hidup sederhana, bekerja dengan tangannya sendiri, dan tetap setia di tengah penderitaan (Kisah Para Rasul 20:34–35). Ia memahami bahwa memimpin dengan teladan selalu mengandung risiko: disalahpahami, dikritik, dituntut lebih tinggi, bahkan menderita. Namun Paulus tidak mundur, karena ia tahu bahwa keteladanan yang sejati selalu menuntut harga.

Namun penting untuk disadari bahwa setiap kita adalah pemimpin. Entah kita memimpin banyak orang atau hanya satu kehidupan , di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau di pelayanan, selalu ada seseorang yang sedang melihat dan belajar dari hidup kita. Kepemimpinan tidak pernah netral; ia selalu membawa dampak. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah “apakah aku pemimpin?”, melainkan “siapa yang sedang aku teladani?” Sebab apa yang kita ikuti, itulah yang tanpa sadar kita ajarkan kepada orang lain, lengkap dengan konsekuensinya.

Inilah sebabnya Paulus mengajarkan kepemimpinan melalui keteladanan hidup, bukan hanya lewat kata-kata. Seorang pemimpin dan sesungguhnya setiap orang percaya , tidak hanya menuntut komitmen, tetapi lebih dulu menunjukkan disiplin, kerendahan hati, dan kesetiaan. Datang tepat waktu, setia dalam tanggung jawab kecil, dan hidup konsisten antara mimbar dan rumah. Kepemimpinan seperti ini tidak aman dan tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak kuasanya. Sebab kepemimpinan sejati selalu berisiko, namun keteladanan yang dibayar dengan harga inilah yang meninggalkan jejak kekal. Hidup kita sendiri sedang berkhotbah, bahkan ketika mulut kita diam. oke guys !  Blessing


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar