Proses berbuah selalu dimulai dari akar, bukan dari buah. Alkitab berkata, “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya” (Mazmur 1:3). Perhatikan urutannya dengan saksama: ditanam terlebih dahulu, berakar lebih dulu, barulah berbuah. Firman Tuhan tidak pernah membalik proses. Akar berbicara tentang kehidupan yang tersembunyi ,hubungan pribadi dengan Tuhan, ketaatan saat tidak ada yang melihat, serta kesetiaan kepada Firman dalam hal-hal kecil. Banyak orang menginginkan hasil yang cepat, tetapi Kerajaan Allah selalu bekerja dari dalam ke luar. Tanpa akar yang tertanam kuat di sumber hidup, tidak mungkin ada buah yang bertahan.
Akar yang sehat hanya dapat hidup jika terhubung dengan sumber air yang benar. Yeremia 17:7–8 berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN… ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air; ia tidak mengalami datangnya panas terik… dan tidak berhenti menghasilkan buah.” Artinya, kondisi luar boleh berubah—tekanan, krisis, musim kering, atau penderitaan—tetapi kehidupan di dalam tetap segar. Sebaliknya, akar yang kering akan menghasilkan buah yang palsu: terlihat baik di luar, tetapi rapuh dan mudah gugur. Buah yang sejati selalu lahir dari akar yang terus-menerus minum dari hadirat Tuhan.Dalam Perjanjian Baru, kata “akar” diterjemahkan dari bahasa Yunani ῥίζα (rhiza), yang berarti akar yang memberi makan, sumber nutrisi, dan dasar pertumbuhan. Rhiza menunjuk pada bagian yang tidak terlihat, tetapi justru menentukan segalanya. Segala sesuatu yang tampak ke luar ,karakter, perkataan, pelayanan, bahkan urapan, selalu merupakan hasil dari apa yang diserap oleh rhiza di dalam. Apa yang kita izinkan masuk ke kehidupan batin kita akan menentukan buah apa yang keluar.
Karena itu, dalam bagian ini kita diajak untuk memilih memiliki akar yang kuat, bukan sekadar buah yang terlihat. Lihatlah Yusuf. Ia memiliki rhiza yang dalam kepada Tuhan sejak masa mudanya. Tidak ada yang melihat kesetiaannya di rumah Potifar, di dalam penjara, atau di musim ketika ia dilupakan. Namun justru di tempat-tempat tersembunyi itulah rhizanya semakin kuat (Kejadian 39–41). Demikian juga Daud. Sebelum dikenal sebagai raja, ia terlebih dahulu berakar sebagai penyembah di padang, setia menggembalakan domba dan membangun mezbah pribadi bagi Tuhan. Tuhan berkata, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7). Dari padang itulah lahir seorang penyembah yang rindu akan hadirat Tuhan (Mazmur 63:2).
Hari ini Tuhan tidak sekadar mencari orang yang berbuah lebat, karena buah adalah akibat, bukan tujuan. Buah selalu mengikuti akar yang kuat dan sehat. Maka tugas kita bukan mengejar buah, melainkan memperdalam akar/rhiza ,berakar dalam Firman, berakar dalam doa, dan berakar dalam ketaatan. Sebab hanya akar yang kuat yang sanggup menopang buah yang besar, dan hanya akar yang dalam yang membuat buah itu bertahan sampai akhir.
BHS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar