Mata air Meriba muncul di tengah perjalanan Israel di padang gurun, saat bangsa itu kehausan dan mulai bersungut-sungut melawan Tuhan dan Musa (Keluaran 17:1–7; Bilangan 20:1–13). Nama Meriba berarti “pertengkaran” atau “perselisihan”, karena di tempat itulah bangsa Israel mencobai Tuhan dengan berkata, “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Fokus Meriba bukan pada kurangnya air, melainkan pada kondisi hati. Tekanan dan kebutuhan mendesak menyingkapkan apakah umat Tuhan hidup dari kepercayaan atau dari tuntutan. Air memang keluar dari batu, tetapi Meriba dikenang bukan karena mujizatnya, melainkan karena hati yang belum sepenuhnya percaya.
Meriba juga mengajarkan bahwa mujizat tidak selalu identik dengan perkenanan. Dalam Bilangan 20, Musa memukul batu dua kali tindakan yang lahir dari frustrasi, bukan dari ketaatan penuh dan meski air tetap keluar, ada konsekuensi serius. Tuhan menegaskan bahwa Dia ingin dikenal sebagai Allah yang kudus, bukan sekadar Allah yang memenuhi kebutuhan. Fokus Tuhan bukan hanya pada hasil, tetapi pada ketaatan dan cara kita membawa hadirat-Nya di tengah tekanan. Ini menegaskan bahwa dalam perjalanan iman, sikap hati sering kali lebih menentukan daripada terobosan yang kelihatan.Pelajaran ini nyata dalam kehidupan Evan Roberts, revivalist dari Kebangunan Rohani Wales (1904–1905). Ia pernah berkata bahwa salah satu penghalang terbesar kebangunan rohani adalah roh bersungut dan tidak mau taat sepenuhnya kepada Roh Kudus. Dalam salah satu musim pelayanannya, ketika tekanan dan kritik datang, Roberts memilih menarik diri dan berdiam di hadapan Tuhan, bukan melawan atau membela diri. Ia mengerti bahwa kebangunan sejati bukan lahir dari emosi atau tuntutan manusia, tetapi dari hati yang tunduk dan taat. Berbeda dengan roh Meriba yang menuntut bukti, para revivalist sejati memilih percaya dan menghormati Tuhan bahkan di musim kering, dan dari situlah mata air hidup mengalir—bukan hanya untuk diri mereka, tetapi bagi banyak orang.
BHS
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar