Meminta, mencari, dan mengetuk bukanlah doa yang keliru—itu justru pola doa yang Yesus ajarkan secara langsung. “Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7). Doa bukan usaha meyakinkan Tuhan agar mau bertindak, melainkan respons iman terhadap hati Bapa yang memang rindu memberi. Banyak orang berhenti di teknik doa, tetapi Yesus membawa kita lebih dalam: sebelum meminta sesuatu, kita perlu sadar siapa kita di hadapan-Nya.
Yesus membuka Doa Bapa Kami dengan kalimat, “Bapa kami yang di sorga” (Matius 6:9). Ini adalah deklarasi identitas. Doa dimulai bukan dari kebutuhan, melainkan dari relasi. Kita datang bukan sebagai hamba yang gemetar, tetapi sebagai anak yang dikasihi. Inilah dasar keberanian dalam doa. Firman Tuhan berkata, “Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ya Abba, ya Bapa!” (Galatia 4:6). Identitas sebagai anak inilah yang membuat doa kita hidup, penuh iman, dan tidak ragu.Sejarah kebangunan rohani penuh dengan contoh revivalist yang berdoa dari identitas sebagai anak Allah. John Wesley dikenal berdoa dengan keyakinan bahwa ia adalah anak Bapa yang hidup; doanya bukan dingin atau jauh, melainkan penuh keintiman, hingga kebangunan rohani melanda Inggris. George Müller, yang memelihara ribuan anak yatim tanpa pernah meminta dana kepada manusia, selalu datang kepada Tuhan sebagai Bapa. Ketika dapur kosong dan tidak ada makanan, ia berdoa, dan Tuhan menyediakan—bukan karena teknik, tetapi karena iman seorang anak kepada Bapanya (Matius 6:26). Charles Finney juga berdoa dengan kesadaran bahwa ia hidup dalam relasi dengan Allah, dan dari doa-doa itulah kuasa pertobatan massal terjadi, karena ia tahu ia berdiri sebagai anak yang membawa otoritas Kerajaan (Roma 8:15).
Karena itu, saat kita meminta, mencari, dan mengetuk, lakukanlah dari tempat yang benar: identitas anak. Ingatkan jiwa kita setiap hari bahwa kita dikasihi dan diterima. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah” (1 Yohanes 3:1). Dari identitas inilah doa menjadi berani, iman menjadi teguh, dan pintu-pintu Kerajaan mulai terbuka.
BHS
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar