Senin, 05 Januari 2026

Harapan = Kepastian

                  Harapan bukan sekadar optimisme atau penghiburan diri di tengah badai. Firman Tuhan dengan tegas berkata, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita” (Ibrani 6:19). Kata pengharapan dalam Perjanjian Baru berasal dari bahasa Yunani elpis, yang bukan berarti angan-angan, melainkan keyakinan yang penuh kepastian. Elpis berbicara tentang ekspektasi yang berakar pada sesuatu yang kokoh dan dapat diandalkan. Seperti sauh yang tertancap kuat di dasar laut, harapan menahan jiwa kita agar tidak hanyut oleh ketakutan, tekanan, dan ketidakpastian hidup.

Menurut Bill Johnson, harapan bukanlah sesuatu yang kosong atau sekadar menunggu mukjizat di masa depan. Harapan adalah kemampuan untuk merayakan apa yang sudah kita terima di dalam Kristus. Dalam bahasa Ibrani, konsep harapan sering diungkapkan dengan kata tiqvah, yang juga berarti tali atau benang yang mengikat. Ini menggambarkan bahwa harapan bukan emosi, tetapi ikatan—sesuatu yang menghubungkan kita secara aktif dengan janji Tuhan. Karena itu Alkitab berkata, “Di dalam Kristus segala janji Allah adalah ‘ya’ dan ‘amin’” (2 Korintus 1:20). Kita tidak berharap supaya Tuhan bertindak; kita berharap karena Dia sudah bertindak melalui salib.

Harapan memberi kekuatan untuk bersukacita di tengah proses. Roma 5:5 berkata, “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.” Harapan yang sejati selalu berakar pada kasih Allah, bukan pada hasil akhir yang kita tunggu. Ketika kita memahami makna elpis ini, kita tidak lagi pasif dalam penantian, tetapi aktif dalam penyembahan. Kita bersukacita bukan karena situasi berubah, tetapi karena posisi kita di dalam Kristus tidak pernah berubah.

Ketika harapan menjadi jangkar, iman memiliki tempat berpijak yang kokoh. Ibrani 11:1 berkata bahwa iman adalah dasar dari apa yang kita harapkan , bukan harapan yang samar, tetapi harapan yang pasti. Harapan memastikan iman kita tidak runtuh oleh penundaan, kekecewaan, atau musim yang panjang. Inilah undangan Tuhan hari ini: jangan lepaskan sauhmu, jangan putuskan tali tiqvah-mu. Pegang harapan dengan teguh, rayakan anugerah dan kemenangan Kristus yang sudah diberikan. Orang yang berlabuh pada harapan tidak akan tenggelam, sekalipun badai belum reda.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar