Jumat, 02 Januari 2026

Respon bukan Reaksi

               Penguasaan diri terlihat jelas dari perbedaan antara respon dan reaksi. Reaksi biasanya muncul cepat, spontan, dan digerakkan oleh emosi , marah, tersinggung, atau sakit hati. Reaksi tidak memberi ruang bagi hikmat; yang penting adalah meluapkan perasaan saat itu juga. Ketika seseorang bereaksi, ia sering berkata atau bertindak tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Alkitab mengingatkan, “Orang yang cepat marah melakukan kebodohan” (Amsal 14:17), dan “Si pemarah membangkitkan pertengkaran” (Amsal 15:18). Banyak hubungan rusak, keputusan keliru diambil, dan kesaksian tercoreng bukan karena masalah besar, tetapi karena reaksi emosional yang tidak dikendalikan.

Sebaliknya, respon adalah sikap yang menahan diri, memberi jeda, lalu memilih tindakan yang benar. Respon lahir dari pengendalian diri, sedangkan reaksi lahir dari emosi yang tidak dikelola. Salah satu buah Roh adalah pengendalian diri bukan sekadar kesabaran pasif, tetapi kekuatan rohani untuk menundukkan emosi di bawah pimpinan Roh Kudus. Firman Tuhan berkata, “Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22–23). Orang yang hidup dipimpin Roh tidak membiarkan emosinya mengambil alih kemudi hidupnya, melainkan menyerahkan kendali kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak kejadian yang menguji hal ini. Ketika kita dikritik secara tidak adil di tempat kerja, naluri pertama mungkin ingin membela diri atau membalas dengan kata-kata tajam. Ketika pasangan atau anggota keluarga berkata kasar, emosi mudah tersulut untuk menyerang balik. Namun orang yang memilih respon akan berhenti sejenak, berdoa dalam hati, dan bertanya, “Apa sikap yang memuliakan Tuhan?” Amsal 16:32 berkata, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Saat kita memilih respon daripada reaksi, kita sedang memberi ruang bagi Tuhan bekerja, menjaga kesaksian hidup kita, dan memancarkan karakter Kristus , terang yang tetap bersinar di tengah dunia yang mudah tersulut emosi.



BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar