Shalom. Pada tanggal 14–16 Januari 2026, Indonesia Menyembah selama 40 jam dinaikkan oleh berbagai komunitas gereja yang bersatu untuk satu tujuan: meninggikan Raja di atas segala raja. Di tengah aliran penyembahan yang terus berlangsung, ada satu firman Tuhan yang sangat ditekankan dan bergema sepanjang waktu penyembahan, yaitu Mazmur 118:23:
“Dari TUHAN hal itu terjadi, suatu perbuatan ajaib di mata kita.”
Ayat ini dengan tegas menyingkapkan satu kebenaran yang tidak bisa ditawar: segala keajaiban selalu lahir dari pihak TUHAN. Pemazmur tidak menunjuk pada usaha manusia, kekuatan komunitas, atau strategi rohani, melainkan langsung meninggikan kedaulatan Allah. Apa yang terjadi adalah karena Tuhan bertindak. Kebesaran Tuhan dinyatakan ketika Dia bekerja melampaui logika, perhitungan, dan kemampuan manusia. Apa yang mustahil di mata manusia menjadi nyata ketika Tuhan sendiri yang mengambil alih.
Ketika firman ini digaungkan dalam penyembahan, roh kita diarahkan kembali kepada posisi yang benar: Tuhan tidak menunggu manusia cukup kuat untuk bergerak. Dia bertindak karena Dia adalah Tuhan. Inisiatif selalu dari pihak-Nya. Dari pihak Tuhan selalu ada jalan, selalu ada kuasa, selalu ada terobosan. Karena itu, setiap perbuatan ajaib bukanlah hasil perform manusia, melainkan manifestasi dari kebesaran dan kedaulatan Allah.
Namun firman ini juga menghadapkan kita pada sebuah pertanyaan yang tajam dan tidak bisa dihindari: kita sedang berpihak kepada siapa? Banyak orang ingin melihat keajaiban Tuhan, tetapi tetap berdiri di pihak kenyamanan, kepentingan diri, dan agenda pribadi. Padahal keajaiban tidak lahir dari posisi netral. Dalam peperangan rohani tidak ada wilayah abu-abu. Ketika kita memilih berdiri di pihak Tuhantaat kepada firman-Nya, meskipun berisiko dan tidak populer, di situlah tangan Tuhan mulai bekerja secara nyata.
Berpihak kepada Tuhan berarti menyelaraskan hidup sepenuhnya dengan kehendak-Nya, bukan sekadar menyebut nama-Nya. Israel sering memanggil nama Tuhan, tetapi hatinya berpaling kepada ilah lain, sehingga kuasa Tuhan tidak mengalir. Sebaliknya, ketika Elia berdiri di Gunung Karmel dan berkata, “Jika TUHAN itu Allah, ikutilah Dia,” api turun dari langit. Keajaiban selalu mengikuti keberpihakan yang jelasketika hati, sikap, dan tindakan sepenuhnya berada di pihak Tuhan yang besar dan berdaulat.Mazmur 118:23 menutup semua alasan manusia untuk bermegah. Jika keajaiban itu berasal dari pihak Tuhan, maka kemuliaan pun sepenuhnya kembali kepada Tuhan. Tugas kita bukan menciptakan keajaiban, melainkan mengambil posisi yang benar di hadapan-Nya dan meninggikan Dia melalui penyembahan sejati. Hari ini Tuhan bertanya kepada setiap kita: di pihak siapa engkau berdiri? Ketika kita memilih berpihak kepada Tuhan dengan iman dan ketaatan, apa yang lahir dari pihak-Nya akan menjadi perbuatan ajaib , bukan hanya di mata kita, tetapi juga sebagai kesaksian tentang kebesaran Tuhan bagi dunia.
BHS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar