Shalom , pagi ini masih merenungkan seputar ketakutan yang sering menghantui kita .Kehidupan Yakub itu seperti orang yang terus berlari. Lari karena kesalahan. Lari karena takut dibunuh Esau (Kejadian 27:41). Lari karena panik menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri. Kadang kita juga begitu. Kita salah ambil keputusan, lalu bukannya bereskan, malah menghindar. Kita takut ditolak, takut dihukum, takut kehilangan. Padahal firman Tuhan berkata, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Artinya, lari bukan gaya hidup anak Tuhan.
Sampai satu titik, sebelum bertemu kembali dengan Esau, Yakub sangat ketakutan. Dia membagi rombongannya jadi dua karena berpikir kalau satu diserang, yang lain bisa selamat (Kejadian 32:7–8). Itu mentalitas orang yang masih mengandalkan strategi karena takut. Tapi malam itu, sesuatu berubah. Di tempat yang bernama Peniel (Kejadian 32:30), dia bergulat dengan Tuhan. Dan ketika pangkal pahanya dipukul sampai terpelecok (Kejadian 32:25), itu seperti Tuhan sedang berkata: “Sudah cukup. Stop running.”
Kadang Tuhan izinkan “kaki kita dipatahkan” bukan secara fisik, tapi secara ego, ambisi, dan rasa percaya diri yang salah. Supaya kita berhenti lari dan mulai bersandar. Amsal 28:13 berkata, “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Tuhan tidak suruh kita lari dari masalah. Tuhan ajak kita menghadapinya bersama Dia. Luka Yakub justru menjadi titik balik identitasnya. Dari Yakub menjadi Israel (Kejadian 32:28).
Pesannya jelas: jangan lari lagi. Jangan lari dari masa lalu. Jangan lari dari panggilan. Jangan lari dari tanggung jawab. Mazmur 56:4 berkata, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.” Bukan: waktu aku takut, aku kabur. Takut itu manusiawi, tapi lari bukan solusi. Hadapi bersama Tuhan. Bergumul, doa, jujur, berdiri. Karena kemenangan bukan milik orang yang cepat lari, tapi orang yang mau tinggal dan percaya.
Mungkin hari ini ada “Esau” di depanmu—konflik, hutang, kesalahan, percakapan yang tertunda, pelayanan yang kamu hindari. Tuhan tidak berkata, “Cari jalan lain.” Tuhan berkata, “Aku menyertai engkau.” Seperti janji-Nya di Kejadian 28:15, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi.” Jadi berhenti lari. Hadapi. Tidak sendiri—bersama Tuhan. Karena saat kita berhenti berlari dan mulai berjalan bersama-Nya, di situlah identitas dan destiny dipulihkan.
BHS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar