Senin, 02 Februari 2026

Miskin tapi Kaya - Jemaat Smirna

                Jemaat di Smirna hidup dalam tekanan yang nyata dan menyakitkan. Mereka bukan miskin karena malas, bukan karena tidak bijak mengelola hidup, dan bukan pula karena kurang iman atau tidak diberkati Tuhan. Kemiskinan mereka lahir dari sebuah sistem yang secara sengaja menekan dan menyingkirkan orang percaya. Kata yang dipakai Alkitab adalah ptōchos, istilah yang tidak sekadar berarti kekurangan, tetapi menggambarkan orang yang dilucuti secara total ,dimiskinkan secara paksa, kehilangan daya tawar, dan tidak memiliki ruang untuk bertahan hidup secara normal. Karena iman mereka kepada Kristus, akses ekonomi tertutup, jaringan sosial terputus, dan perlindungan hukum menghilang. Mereka membayar harga nyata karena memilih setia. Namun justru kepada jemaat seperti inilah Yesus berkata, “Engkau miskin, namun engkau kaya.” Surga menyebut kaya apa yang dunia anggap gagal, dan Tuhan menghitung sebagai harta apa yang sistem dunia buang.

Nama Smirna berasal dari kata mur (myrrh), getah harum yang pada dasarnya pahit dan hanya mengeluarkan aroma ketika diremukkan. Ini bukan kebetulan rohani, melainkan gambaran profetik atas kehidupan jemaat ini. Smirna diremukkan oleh tekanan, fitnah, pengucilan, dan ketidakadilan, namun dari proses itulah muncul keharuman kesetiaan yang menyenangkan hati Tuhan. Mereka tidak menjadi harum karena kenyamanan, fasilitas, atau perlindungan, melainkan karena ketaatan di tengah penderitaan. Hidup mereka menjadi persembahan yang hidup ,tidak berisik, tidak menuntut simpati, tidak membela diri , namun aromanya naik ke hadapan Allah. Seperti mur yang dipakai dalam penguburan dan penyembahan, hidup mereka berbicara lebih keras melalui kesetiaan daripada melalui kata-kata.

Dari tujuh jemaat di Kitab Wahyu, Smirna adalah satu-satunya jemaat yang tidak ditegur oleh Tuhan. Tidak ada cela yang disorot, tidak ada koreksi keras, dan tidak ada panggilan pertobatan. Yang ada hanyalah penguatan, penghiburan, dan janji mahkota kehidupan. Hal ini menegaskan bahwa penderitaan mereka bukan buah dari kompromi atau dosa tersembunyi, melainkan bagian dari kesetiaan yang Tuhan kenal sepenuhnya. Yesus tidak berkata, “Perbaiki ini dan itu,” tetapi berkata, “Jangan takut… hendaklah engkau setia sampai mati.” Kalimat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak sedang memperbaiki merekaTuhan sedang mempercayai mereka. Smirna bukan gereja yang perlu ditegur, melainkan gereja yang sedang dipersiapkan untuk kemuliaan.

Kisah Smirna berbicara sangat kuat kepada kita hari ini. Tidak semua tekanan berarti kita salah jalan, dan tidak semua kehilangan berarti Tuhan meninggalkan. Ada musim di mana kesetiaan justru membawa risiko, dan iman justru harus dibayar mahal. Ada saat-saat ketika taat kepada Tuhan membuat kita kehilangan kenyamanan, posisi, dan penerimaan sosial. Namun Smirna mengajarkan bahwa Tuhan lebih menghargai hati yang setia daripada hidup yang aman. Lebih baik diremukkan namun harum di hadapan Tuhan, daripada nyaman di mata dunia tetapi kehilangan mahkota kehidupan. Smirna mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan Kerajaan Allah bukanlah kelapangan hidup, melainkan kesetiaan sampai akhir.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar