Minggu, 15 Februari 2026

Ikuti KehendakNya

           Banyak orang berkata ingin berjalan dalam kehendak Tuhan, tetapi ketika Tuhan benar-benar menyatakan kehendak-Nya, sering kali hati kita justru menolak. Kita ingin rencana-Nya, tetapi tanpa kehilangan kenyamanan kita. Dalam Kejadian 12:1, Tuhan berkata kepada Abram, “Pergilah dari negerimu…” Itu bukan sekadar ajakan pindah tempat, melainkan panggilan untuk meninggalkan zona aman, identitas lama, dan segala sesuatu yang terasa pasti. Abram tidak diberi detail lengkap tentang tujuan akhirnya. Tidak ada peta, tidak ada jaminan tertulis, hanya suara Tuhan. Dan di situlah letak ujian terbesar: apakah ia mempercayai penjelasan, atau mempercayai Pribadi yang berbicara?

Abram memilih berjalan di tengah ketidakmengertian. Ia tidak menunggu semuanya jelas baru taat. Ia melangkah karena ia percaya. Inilah realitas iman: kita sering kali menginginkan kepastian sebelum ketaatan, padahal Tuhan meminta ketaatan sebelum kepastian. Berjalan bersama Tuhan bagi mayoritas kita terasa seperti risiko, risiko kehilangan kontrol, risiko disalahpahami, risiko gagal, bahkan risiko kehilangan apa yang kita anggap aman. Namun sebenarnya, risiko terbesar justru ketika kita menolak kehendak-Nya dan tetap tinggal di tempat yang Tuhan tidak pernah maksudkan untuk kita diami.

Kunci dari semuanya adalah trust. Percaya kepada Pribadi-Nya. Percaya bahwa hati-Nya baik. Percaya bahwa kehendak-Nya sempurna, sekalipun jalannya tidak kita mengerti. Trust berarti menaruh kehendak kita di bawah kehendak-Nya dan berkata, “Tuhan, sekalipun aku tidak tahu ke mana Engkau membawa aku, aku tahu siapa yang memegang hidupku.” Seperti seorang anak kecil yang menggenggam tangan ayahnya saat menyeberang jalan yang ramai,ia mungkin tidak mengerti arah, tetapi ia tenang karena mengenal tangan yang memegangnya.

Bayangkan seorang anak muda yang merasa Tuhan memanggilnya untuk melayani di kampusnya. Ia tahu itu berarti menghadapi ejekan, kehilangan kenyamanan, bahkan mungkin dijauhi teman. Atau seorang kepala keluarga yang harus memilih integritas daripada keuntungan finansial yang besar. Secara logika itu berisiko. Tetapi di titik itulah kehendak Tuhan dan kehendak manusia bertemu. Dan setiap kali kita memilih percaya, kita sedang berkata bahwa kita lebih yakin pada karakter Tuhan daripada pada ketakutan kita sendiri.

Akhirnya, berjalan dalam kehendak Tuhan bukan tentang seberapa banyak kita mengerti, tetapi seberapa dalam kita percaya. Abram tidak hanya meninggalkan tanahnya; ia menyerahkan kehendaknya. Dan karena itu, ia melihat janji Tuhan digenapi dalam hidupnya. Hari ini, ketika Tuhan berkata, “Pergilah,” mungkin itu bukan tentang berpindah tempat, tetapi tentang berpindah hati, dari kontrol kepada penyerahan, dari ketakutan kepada trust. Dan di sanalah perjalanan iman yang sejati dimulai.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar