Rabu, 04 Februari 2026

Suarakan Kebenaran - Jemaat Tiatira

              Salah satu luka terdalam jemaat Tiatira adalah ketakutan terhadap konflik rohani. Gereja ini tidak menolak kebenaran, tetapi menunda konfrontasi. Mereka tahu ada yang salah, namun memilih diam demi stabilitas, relasi, dan rasa aman. Padahal sejak awal, kebenaran tidak pernah netral. Setiap kali kebenaran diberitakan, ia selalu memaksa pilihan: terang atau gelap, taat atau kompromi, hitam atau putih. Tidak ada zona abu-abu dalam Kerajaan Allah. Ketika gereja mencoba menghindari konflik, sesungguhnya gereja sedang menunda keputusan dan penundaan itu sendiri sudah merupakan sebuah keberpihakan.

Yesus tidak pernah mengajarkan damai yang menghindari ketegangan. Ia justru berkata bahwa kedatangan-Nya akan membawa pemisahan (lih. Mat. 10:34–36). Bukan karena Tuhan menyukai konflik, tetapi karena kebenaran secara alami menyingkap apa yang bertentangan dengannya. Gereja yang takut konflik sering kali menyebut dirinya “penuh kasih”, padahal yang terjadi adalah kasih yang sudah kehilangan keberanian. Mereka lebih takut kehilangan manusia daripada kehilangan perkenanan Tuhan. Di titik inilah Tiatira gagal: bukan karena mereka mengikuti ajaran Izebel, tetapi karena mereka memberi ruang baginya dengan diam yang berkepanjangan.

Konflik rohani bukan tanda kegagalan pelayanan, melainkan bukti bahwa kebenaran sedang bekerja. Setiap kebangunan sejati selalu diawali oleh ketegangan: sistem lama terguncang, kenyamanan terganggu, dan kompromi tersingkap. Gereja yang menghindari konflik akan memilih jalan aman menjaga semua pihak tetap nyaman namun tanpa sadar membiarkan racun menyebar pelan-pelan. Dosa yang tidak ditegur tidak akan berhenti; ia akan menuntut legitimasi, lalu mempengaruhi struktur, arah, dan budaya gereja. Yesus menyatakan diri-Nya kepada Tiatira dengan mata bagaikan nyala api, ini berbicara tentang kebenaran yang tidak bisa dinegosiasikan dan kaki seperti tembaga berkilau ,ini berbicara tentang keputusan yang kokoh dan tidak goyah (Why. 2:18). Tuhan memberi waktu untuk bertobat, tetapi ketika gereja menolak memilih, Tuhan sendiri yang akan memilihkan. Inilah peringatan keras bagi gereja yang takut konflik: jika gereja tidak berani menegur dosa di dalamnya, Tuhan sendiri yang akan datang dengan penghakiman-Nya.

Namun di tengah ketegangan itu, Tuhan memanggil sisa umat yang berani berdiri. “Peganglah apa yang ada padamu sampai Aku datang” (Why. 2:25) adalah panggilan kepada generasi yang tidak netral. Mereka yang menang dijanjikan otoritas dan bintang timur terang bagi zaman yang gelap. Tiatira mengajarkan kita bahwa gereja tidak dipanggil untuk menjadi tempat paling nyaman, tetapi tempat paling jujur di hadapan Tuhan. Sebab hanya gereja yang berani menghadapi konflik demi kebenaran dan kasih yang layak dipercaya untuk membawa kemuliaan-Nya.



BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar