Kamis, 05 Februari 2026

Hidup Tapi Mati - Jemaat Sardis

             Shalom , hari ini kita akan melanjutkan tentang 7 Jemaat yang ada di kitab wahyu, dan kita sampai ke Sardis. Jemaat Sardis adalah gambaran gereja yang punya nama besar tetapi kehilangan kehidupan sejati. Secara historis, Sardis adalah kota yang kaya dan megah, namun jatuh berulang kali karena merasa aman dan tidak berjaga. Menariknya, arti nama Sardis sering dikaitkan dengan “yang tersisa” atau “sisa yang lolos” sebuah ironi rohani. Gereja ini hidup dari sisa kejayaan masa lalu, bukan dari api yang menyala hari ini. Karena itu Yesus berkata dengan keras: “Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati” (Wahyu 3:1). Ini adalah kematian yang dibungkus reputasi rohani.


Masalah Sardis bukan dosa yang mencolok, melainkan kelengahan yang sunyi. Mereka sibuk, aktif, dan terlihat berfungsi, tetapi hati mereka tidak lagi terjaga. Tuhan menegur, “Aku tidak mendapati pekerjaanmu sempurna di hadapan Allah-Ku” (Wahyu 3:2). Pelayanan mereka berjalan tanpa bobot kekekalan. Inilah bahaya gereja yang puas: terbiasa dengan rutinitas rohani, tetapi asing dengan hadirat Tuhan. Mereka tidak jatuh sekaligus , mereka tertidur perlahan. justru ini yang berbahaya, sedikit sedikit kesadaran akan hadiratNya berkurang dan lama-lama mengalami kematian rohani. 

Karena itu perintah Yesus sangat jelas: “Bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal” (Wahyu 3:2). Sardis diajak kembali kepada dasar ,mengingat Firman yang pernah mereka terima, menaatinya, dan bertobat (Wahyu 3:3). Tuhan memperingatkan, jika mereka tidak berjaga, Ia akan datang seperti pencuri. Artinya, waktu anugerah bisa berlalu tanpa disadari, jika gereja menunda pertobatan dan menganggap semuanya baik-baik saja.

Namun di tengah kematian rohani, Tuhan selalu mencari sisa yang setia. “Beberapa orang di Sardis tidak mencemarkan pakaiannya” (Wahyu 3:4). Dari Sardis kita belajar: hidup rohani bukan soal nama, ukuran, atau masa lalu, tetapi soal kewaspadaan hari ini. Panggilan bagi kita jelas , jangan hidup dari kenangan kebangunan, tetapi dari persekutuan yang nyata dengan Kristus. Mari belajar dari Sardis: berjaga, bertobat, dan hidup sebagai gereja yang benar-benar hidup di hadapan Tuhan, bukan sekadar terlihat hidup di mata manusia.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar