Minggu, 08 Februari 2026

Tidak Dingin Tidak Panas - Jemaat Laodikia

Jemaat Laodikia bukan gereja yang terlihat rusak. Mereka tidak sedang jatuh dalam dosa besar, tidak sedang dikejar aniaya, dan tidak kekurangan sumber daya. Secara kasat mata, semuanya baik-baik saja. Justru di situlah bahayanya. Tuhan menyebut mereka suam-suam kuku, bukan dingin, bukan panas. Ada kehidupan rohani, tapi tanpa api. Ada aktivitas, tapi tanpa kehausan. Ada nama Kristen, tapi kehilangan denyut hati surgawi. Banyak orang hari ini tidak meninggalkan Tuhan, tapi juga tidak lagi hidup untuk Tuhan.

Yesus menyingkap akar masalahnya dengan sangat tajam: “Engkau berkata: aku kaya dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Rasa cukup ini bukan berkat, tapi bisa menjadi racun rohani. Ketika hidup terasa aman, doa berubah jadi formalitas. Firman dibaca, tapi tidak lagi mengguncang. Pelayanan berjalan, tapi tanpa air mata. Kita masih bicara tentang Tuhan, tapi jarang lagi berbicara dengan Tuhan. Contohnya nyata: kita gelisah kalau keuangan terganggu, tapi biasa saja saat altar doa runtuh. Kita cepat sadar saat kenyamanan diusik, tapi lambat sadar saat kepekaan rohani mati.

Namun kasih Tuhan tidak pernah berhenti di teguran. Yesus berkata, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok.” Ini gambaran yang menggetarkan: Tuhan ada di luar gereja-Nya sendiri, menunggu diizinkan masuk. Ia tidak memaksa, tidak menerobos, tidak berteriak. Ia mengetok—menunggu hati yang mau merendah dan mau membukakan pintu supaya Yesus bisa masuk. Banyak orang ingin Tuhan memberkati rencananya, tapTuhan lalu berkata, “Semua orang yang Kukasihi, Kutegor dan Kuhajar.” Ini bukan tanda Tuhan marah atau menjauh, justru sebaliknya—ini bukti bahwa kita masih dikasihi. Tuhan menegur karena Ia tidak mau kita tertidur dalam kenyamanan rohani. Ia lebih memilih menyentuh ego kita sekarang, daripada membiarkan hati kita mati pelan-pelan tanpa kita sadari. Karena itu Laodikia dipanggil untuk membeli emas yang dimurnikan, pakaian putih, dan minyak untuk mengoles mata . Artinya sederhana: Tuhan mengajak mereka kembali ke hal yang paling dasar dan paling penting. Iman yang murni, bukan iman yang asal aman. Hidup yang kudus, bukan hidup yang sekadar terlihat baik. Mata rohani yang terbuka, supaya bisa membedakan mana suara Tuhan dan mana suara dunia. Kekristenan bukan soal tampil rohani di depan orang, tapi soal hidup benar di hadapan Tuhan ,meski tidak ada yang melihat.i tidak mau Tuhan mengoreksi arah hidupnya. Padahal kasih sejati selalu membawa pertobatan, bukan sekadar kenyamanan.


Nama Laodikia sendiri berarti “hak atau suara rakyat” keputusan ditentukan oleh manusia, bukan oleh Tuhan. Ini sangat profetik. Gereja ini hidup berdasarkan apa yang terasa nyaman, apa yang disetujui banyak orang, apa yang dianggap wajar oleh budaya sekitar. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh firman, tapi oleh opini. Roh Kudus tidak lagi memimpin, tapi ditoleransi sejauh tidak mengganggu. Ketika suara manusia lebih dominan daripada suara Tuhan, api akan padam dan iman berubah jadi kompromi yang rapi.

Belajar dari jemaat Laodikia, ada sebuah undangan yang sangat jelas: bertobat dan nyalakan kembali apimu. Jangan puas menjadi orang Kristen yang stabil tapi dingin. Jangan bangga karena tidak jatuh, tapi menangislah jika tidak lagi lapar. Jangan biarkan suara dunia lebih keras daripada suara Tuhan. Buka pintu hatimu sepenuhnya, bukan sekadar retakan kecil. Biarkan Yesus masuk lagi sebagai Tuhan yang memerintah, bukan tamu yang ditoleransi. Lebih baik panas dan terbakar dalam proses bersama Tuhan, daripada nyaman tapi suam-suam kuku


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar