Selasa, 10 Februari 2026

Pagi Yang Penting

           Shalom, hari ini kita belajar dari Mazmur 64:1–10. Sering kali kita tertipu oleh apa yang terlihat , kita sibuk menghadapi orangnya, situasinya, atau masalah yang tampak di permukaan ,padahal yang paling berbahaya justru yang tidak terlihat. Daud menyadari bahwa ancaman terbesar bukan pedang yang terhunus, tetapi rencana tersembunyi, bisikan licik, dan serangan diam-diam yang dirancangkan untuk menjatuhkan. Yang tidak kasatmata itulah yang menyerang pikiran, merusak damai sejahtera, dan melemahkan iman secara perlahan. Perubahan suasana hati yang tiba-tiba, tekanan mendadak, penundaan yang mengacaukan fokus ,semuanya bisa menjadi bagian dari peperangan yang tidak kita lihat. Kita sering terlalu fokus pada yang kelihatan, padahal peperangan sesungguhnya terjadi di dimensi rohani. Karena itu kita harus berjaga, peka, dan berseru kepada Tuhan sebagai perlindungan kita.

Daud menggambarkan serangan itu dengan bahasa yang sangat kuat. Dalam Mazmur 64:3–4 (NIV) dikatakan: “They sharpen their tongues like swords and aim cruel words like deadly arrows. They shoot from ambush at the innocent; they shoot suddenly, without fear.”
Ada “deadly arrows” , panah-panah mematikan yang dilepaskan secara tiba-tiba dan dari tempat tersembunyi. Panah itu tidak selalu berupa serangan fisik; bisa berupa perkataan, tuduhan, intimidasi, atau tekanan rohani yang diarahkan untuk melemahkan iman dan menggagalkan hari kita. Panah dilepaskan secara diam-diam, dari ambush, dari tempat tersembunyi. Itulah sebabnya kita perlu memiliki kepekaan rohani.

Namun Mazmur ini tidak berhenti pada ancaman. Tuhan tidak membiarkan anak-anak-Nya tanpa pembelaan. Ayat 8–10 menunjukkan bahwa Tuhan sendiri yang akan membalikkan keadaan dan membuat kebenaran-Nya nyata. Ini sejalan dengan janji dalam Yesaya 54:17: “Tidak ada senjata yang ditempa terhadap engkau yang akan berhasil.” Senjata boleh dibentuk, panah boleh dilepaskan, tetapi tidak akan berhasil menghancurkan tujuan Tuhan atas hidup kita. Kita tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam iman dan keyakinan bahwa Tuhan adalah perisai kita.

Karena itu pagi hari bukan sekadar pergantian waktu pagi adalah momen penentuan arah rohani. Ratapan 3:22–23 berkata dengan jelas “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Perhatikan kalimatnya: tak berkesudahan, tak habis-habisnya, selalu baru tiap pagi. Artinya setiap hari benar-benar hari yang baru di hadapan Tuhan. Bukan pengulangan kemarin, bukan sisa kegagalan kemarin, bukan bayang-bayang kesalahan kemarin. Sebelum kita melangkah keluar rumah, sebelum kita menghadapi jadwal, tekanan, atau tantangan, Tuhan sudah lebih dulu menyediakan kasih setia yang segar untuk hari itu. Jika kita masih diberi fajar, itu berarti masih ada anugerah yang dicurahkan dan masih ada tujuan yang harus digenapi. Pagi adalah reset ilahi ,bukan karena kemarin tanpa masalah, tetapi karena rahmat Tuhan jauh lebih besar daripada sisa beban kemarin. Karena setiap hari adalah hari yang baru, maka setiap hari juga membutuhkan covering yang baru. Kita tidak bisa mengandalkan doa kemarin untuk peperangan hari ini. Ada “panah-panah” yang bisa dilepaskan setiap hari , serangan yang mencoba mengganggu fokus, mencuri damai sejahtera, menimbulkan konflik, atau menggagalkan rencana Tuhan dalam hidup kita hari itu. Itulah sebabnya pagi menjadi sangat penting. Seperti seorang pelari yang berdiri di garis start, ia tidak langsung berlari tanpa persiapan. Ia menata napas, menguatkan posisi, dan mengarahkan pandangan ke depan. Demikian juga secara rohani, ketika kita memulai hari dengan doa, kita sedang menetapkan posisi hati dan memasang perlindungan atas pikiran, emosi, keluarga, dan setiap langkah kita.


BHS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar