Sabtu, 31 Januari 2026

Rahasia Orang Percaya

                   “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.” .Yeremia 17:7 .Yeremia menegaskan bahwa berkat sejati tidak lahir dari situasi yang ideal, tetapi dari sumber kepercayaan yang benar. Orang yang mengandalkan Tuhan tidak sedang menutup mata terhadap realita, tetapi memilih menambatkan hidupnya pada Pribadi yang tidak pernah gagal. Dunia mengajarkan kita untuk bersandar pada kekuatan sendiri, koneksi, atau logika. Namun Firman berkata: berkat dilepaskan ketika harapan kita berpindah dari manusia kepada Tuhan. Bukan seberapa kuat kita, tetapi siapa yang kita andalkan.

Ayat 8 melukiskan orang yang percaya kepada Tuhan seperti pohon yang ditanam di tepi air. Akar-akarnya menjalar ke sumber yang tidak kelihatan mata, tetapi menentukan seluruh kehidupannya. Inilah rahasia orang percaya: kekuatannya tidak tergantung pada apa yang terlihat di luar, melainkan pada hubungan yang dalam dengan Tuhan. Ketika akar masuk ke dalam Firman, doa, dan ketaatan, kehidupan akan tetap hijau meski lingkungan sekitar kering. Akar yang benar selalu menghasilkan buah yang benar.

Menariknya, Firman berkata bahwa pohon itu tidak takut saat panas datang. Artinya, orang yang berharap kepada Tuhan bukan orang yang bebas masalah, tetapi orang yang tidak dikuasai oleh ketakutan. Musim kering pasti datang , tekanan, penolakan, kekurangan, dan ketidakpastian. Namun orang yang hidupnya tertanam dalam Tuhan tidak panik, tidak goyah, dan tidak kehilangan arah. Musim sulit justru membuktikan di mana akar kita berada.

Pada akhirnya, hidup yang mengandalkan Tuhan adalah hidup yang terus berbuah, bahkan ketika dunia berkata tidak mungkin. Yeremia 17:8 menutup dengan deklarasi kuat: “tidak berhenti menghasilkan buah.” Ini adalah hidup yang konsisten, setia, dan berdampak. Tuhan tidak mencari orang yang hanya kuat di musim hujan, tetapi mereka yang tetap berbuah di musim kering. Ketika Tuhan menjadi sumber, keadaan tidak lagi menjadi penentu.


BHS

Kamis, 29 Januari 2026

Jangan Tertipu Hati Sendiri

                     Amsal 16:2 berkata, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Inilah realitas yang sering tidak disadari: manusia sangat mudah tertipu oleh penilaian dirinya sendiri. Apa yang terasa benar belum tentu benar di hadapan Tuhan. Kita cenderung membangun standar kebenaran berdasarkan logika, perasaan, dan pengalaman pribadi. Tanpa sadar, keyakinan diri bisa menutupi penyimpangan arah. Perasaan benar bukanlah ukuran kebenaran sejati. Kebenaran yang tidak diuji akan terasa nyaman, tetapi justru berbahaya karena meninabobokan hati.

Karena itu, Tuhan memberikan Roh Kudus dengan fungsi yang sangat jelas: menuntun kepada seluruh kebenaran. Yesus berkata, “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:13). Discerning spirit bukanlah kepekaan emosional, melainkan kemampuan rohani untuk membedakan sumber dorongan di dalam hati , apakah itu berasal dari Tuhan, dari diri sendiri, atau dari roh lain. Tanpa kepekaan ini, seseorang bisa sangat aktif secara rohani tetapi kehilangan ketajaman kebenaran. Roh Kudus tidak hanya menghibur; Ia menyingkap, menegur, dan meluruskan arah yang melenceng meski tampak benar di mata manusia.

Standar hidup orang percaya bukan perasaan, tradisi, atau pembenaran diri, melainkan Firman Tuhan yang hidup dan pimpinan Roh Kudus. Alkitab dengan tegas memperingatkan, “Hati itu licik, lebih licik dari pada segala sesuatu” (Yeremia 17:9). Karena itu, jangan tertipu oleh hati kita sendiri, dan jangan tertipu oleh kebenaran versi kita sendiri. Hati yang tidak diuji akan menipu, dan kebenaran yang lahir dari diri sendiri akan membenarkan arah yang salah. Firman dan Roh bekerja bersama , Firman menjadi standar yang objektif, Roh Kudus menjadi penimbang yang menembus motivasi terdalam keduanya menyingkapkan kebenaran sampai ke akar batin. Apa yang tidak diuji akan menyesatkan, meski dibungkus dengan bahasa rohani.

Karena itu respons yang benar bukanlah membela diri, melainkan menyerahkan hati untuk diuji Tuhan. Amsal 16:2 menutup dengan satu kebenaran yang menentukan arah hidup: Tuhanlah yang menimbang roh manusia. Maka doa yang tepat adalah seruan pemazmur, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku” (Mazmur 139:23–24). Orang yang hidup di bawah terang Firman dan pimpinan Roh Kudus mungkin akan sering dikoreksi, tetapi ia tidak akan dibiarkan tertipu , baik oleh hatinya sendiri maupun oleh kebenaran versinya sendiri. Lebih baik dikoreksi Tuhan daripada dibenarkan diri sendiri.


BHS

Rabu, 28 Januari 2026

Mendekatlah Kepada Nya

                 “Hanya dekat Allah saja aku tenang.” Kalimat ini tidak lahir dari kondisi yang aman dan nyaman. Daud menuliskannya justru saat ia berada di bawah tekanan besar, dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Mereka yang pernah berjalan bersamanya, makan di mejanya, dan mengenal hidupnya, kini berbalik menjadi sumber luka. Tekanan itu bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan rohani. Namun di tengah semua itu, Daud menemukan satu kebenaran penting: ketenangan sejati tidak datang dari situasi yang membaik, melainkan dari hati yang melekat kepada Allah (Mazmur 62:2).

Daud sadar, manusia bisa berubah. Orang yang dulu mendukung bisa menjadi penekan. Kepercayaan bisa bergeser menjadi tuduhan. Karena itu Daud tidak menggantungkan jiwanya pada penerimaan manusia. Ia memilih satu posisi yang tepat—mendekat kepada Tuhan. Saat suara manusia menjadi bising, melukai, dan membingungkan, Daud mencari suara Allah. Ia tahu, hanya Tuhan yang tetap setia di tengah ketidaksetiaan manusia. Dari pengenalan itulah Daud berani menyebut Tuhan sebagai gunung batunya, keselamatannya, dan kubu pertahanannya (Mazmur 62:3). Ini bukan sekadar bahasa rohani, tapi pengakuan yang lahir dari pengalaman hidup. Pengenalan akan Bapa melahirkan rasa aman. Seperti anak yang bisa tenang di dekat ayahnya karena tahu ayahnya sanggup melindungi, demikian juga Daudjiwanya bisa diam karena ia benar-benar mengenal siapa Allahnya.


Menariknya, dalam Mazmur 62:2, kata “dekat” tersirat dari bahasa Ibrani “אֶל” (’el) yang berarti menuju kepada, berpaut, mengarah dengan sengaja. Ini bukan sekadar jarak fisik, tapi sikap hati yang memilih arah. Alkitab juga sering memakai kata “קָרַב” (qarab) yang berarti menarik diri mendekat, datang menghampiri dengan kesadaran. Artinya, mendekat kepada Allah adalah sebuah keputusan, bukan reaksi emosional sesaat.

Renungan ini mengajak kita mengambil posisi yang sama. Jangan menunggu keadaan pulih untuk datang kepada Tuhan. Datanglah sekarang, dan tinggallah dekat Bapa. Damai sejahtera tidak berasal dari keadaan atau manusia, tetapi dari Allah sendiri. Saat kita memilih qarab ,menarik diri mendekat kepada-Nya ,jiwa kita menemukan ketenangan yang tidak bisa dirampas oleh pengkhianatan, tekanan, atau perubahan orang lain. kita mau mendekat kepada siapa? Pilihan itu ada di tanganmu.


BHS

Selasa, 27 Januari 2026

Ketidakpercayaan Menutup Berkat

                  Kerinduan hati Tuhan sejak semula adalah memberkati umat-Nya. Dia adalah Bapa yang baik, yang rindu menyatakan kasih, kuasa, dan kebaikan-Nya secara nyata. Mazmur 78:41 dengan tegas berkata, “ Again and again they limited God , preventing Him from blessing them.” ( Passion Translation )  Makna ayat ini dapat dipahami sebagai: “Lagi dan lagi mereka membatasi Allah, mencegah Dia memberkati mereka.” Bukan karena Tuhan kekurangan kuasa atau kehendak, melainkan karena sikap hati manusia yang memilih ketidakpercayaan. Bangsa Israel telah melihat mujizat demi mujizat, namun ketidakpercayaan membuat mereka sendiri menjadi penghalang bagi berkat yang Tuhan sediakan.

Ketidakpercayaan selalu bekerja seperti pintu yang tertutup. Iman membuka akses bagi pekerjaan Tuhan, tetapi ketidakpercayaan memblokirnya. Bangsa Israel lebih mempercayai keadaan, ancaman, dan ketakutan mereka daripada firman Tuhan. Keluhan menggantikan syukur, dan logika menggantikan iman. Tanpa disadari, mereka membuka pintu bagi ketidakpercayaan dan menutup pintu bagi kuasa Allah. Inilah cara halus namun mematikan bagaimana manusia membatasi pengalaman mereka akan Allah—bukan karena Allah terbatas, tetapi karena hati manusia tidak lagi memberi ruang bagi Dia untuk bekerja.

Kebenaran yang sama terlihat jelas dalam pelayanan Yesus di Nazaret. Markus 6:3–6 mencatat bahwa orang-orang berkata, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Di sinilah roh familiar (spirit of familiarity) bekerja. Karena mereka terlalu biasa melihat Yesus sebagai “anak tukang kayu,” mereka kehilangan kepekaan rohani untuk mengenali siapa Dia sebenarnya. Kedekatan secara natural mematikan penghormatan secara rohani. Akibatnya, kepercayaan mereka runtuh. Markus mencatat bahwa Yesus tidak dapat mengadakan banyak mujizat di sana dan Ia heran karena ketidakpercayaan mereka. Spirit familiar menutup mata rohani, merendahkan otoritas ilahi, dan akhirnya menutup pintu bagi kuasa Tuhan untuk bekerja.

Renungan ini menegaskan bahwa ketidakpercayaan bukan sekadar keraguan, tetapi sebuah sikap hati yang membangun batas bagi pekerjaan Tuhan. Tuhan tetap berkuasa, tetap rindu memberkati, dan tetap setia pada firman-Nya, namun Ia memilih bekerja melalui iman. Ketika iman tidak ada, pintu tertutup,bukan karena Tuhan menjauh, tetapi karena manusia memasang batas yang Tuhan hormati. Ketidakpercayaan membuat seseorang hidup di sekitar hadirat Tuhan, tetapi tidak mengalami kuasa-Nya. Karena itu, panggilan kita hari ini adalah menjaga hati tetap lembut dan penuh iman, menolak roh familiar, dan terus menghormati pekerjaan Tuhan. Dengan iman, pintu tetap terbuka, dan kerinduan hati Bapa untuk memberkati, memulihkan, dan menyatakan kuasa-Nya dapat dinyatakan sepenuhnya dalam hidup kita.


BHS

Senin, 26 Januari 2026

Panik ??? Lihat yang Benar !

               Kepanikan hampir selalu membuat kita menoleh ke belakang. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel di Keluaran 14. Mereka baru saja keluar dari Mesir melalui mujizat yang dahsyat,tangan Tuhan terbentang dan kuasa-Nya nyata. Namun ketika tentara Firaun mendekat dan laut terbentang tertutup di depan mereka, kepanikan mengambil alih. Dalam sekejap, iman mereka runtuh. Mereka mulai bersungut-sungut, marah kepada Musa, dan kehilangan penglihatan rohani. Dari mulut yang dikuasai ketakutan, keluar seruan yang mencerminkan hati yang gentar: “Bukankah lebih baik kami kembali ke Mesir?”

Kepanikan selalu membuat masa lalu terlihat lebih aman daripada masa depan. Dalam tekanan, Mesir,tempat perbudakan dan penderitaan ,tampak lebih nyaman dibanding janji Tuhan yang belum mereka lihat wujudnya. Kepanikan membuat mereka lupa satu kebenaran penting: Tuhan yang memulai perjalanan ini juga setia menyelesaikannya. Saat ketakutan mengambil alih, ingatan akan karya Tuhan memudar, dan iman kehilangan pijakan. Yang dulu ingin mereka tinggalkan, kini justru ingin mereka kejar kembali.

Di tengah situasi yang paling tidak masuk akal, Tuhan berbicara dengan tegas melalui Musa: “Berdirilah tegap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN” Keluaran 14:13. Tuhan tidak menyuruh mereka lari, tidak menyuruh mereka berteriak, dan tidak menyuruh mereka kembali ke belakang. Tuhan memerintahkan mereka untuk berdiri tegap. Sikap iman selalu tegap, bukan tergesa-gesa. Iman tidak menyangkal kenyataan, tetapi menolak dikendalikan oleh ketakutan. Panik melihat tembok dan jalan buntu, tetapi iman percaya bahwa Tuhan sanggup membuka jalan di tempat yang mustahil.

Karena itu, ketika kondisi hidup sedang tidak baik, jangan serahkan kemudi kepada kepanikan. Panik selalu menarik kita kembali ke masa lalu, tetapi iman selalu mengarahkan kita melangkah ke depan. Iman mungkin belum melihat jalannya, tetapi percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik apa yang belum tampak. Pilihannya sederhana: hidup dikendalikan oleh ketakutan, atau dipimpin oleh iman. Jangan mundur, jangan menoleh ,teruslah melangkah maju bersama Tuhan.


BHS

Minggu, 25 Januari 2026

Satu Jiwa Sangat Berharga

                  Memperjuangkan satu jiwa bukanlah aktivitas biasa, ini adalah peperangan rohani. Satu jiwa selalu berada di tengah konflik rohani antara kehendak Tuhan dan pekerjaan lawan. Tuhan rindu menyelamatkan, memulihkan, dan membawa manusia masuk ke dalam terang-Nya. Sebaliknya, iblis berusaha membutakan pikiran, menahan hati, dan menjauhkan jiwa dari kebenaran. Karena itu, ketika satu jiwa mulai didoakan, ketika satu nama mulai disebut di hadapan Tuhan, gesekan rohani pasti terjadi. Tidak ada doa syafaat yang sungguh-sungguh tanpa perlawanan, karena doa menyentuh wilayah otoritas.

Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa satu jiwa bernilai sangat besar di mata Tuhan. Yesus berkata, “Akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat” (Lukas 15:7). Sukacita ini bukan tanpa alasan. Jika kita melihat apa yang dikerjakan Yesus, kita akan memahami nilainya: Ia mati untuk manusia. Ia membayar harga penebusan bukan dengan emas atau perak, tetapi dengan nyawa-Nya sendiri. Salib adalah bukti bahwa di hadapan-Nya, manusia bukan angka, bukan statistik, melainkan pribadi yang sangat berharga. Satu jiwa cukup bernilai untuk darah Anak Domba Allah dicurahkan. Sukacita di surga menandakan bahwa sebuah peperangan rohani telah dimenangkan. Pertobatan bukan sekadar perubahan keputusan moral atau emosi sesaat, tetapi perpindahan otoritas , dari kuasa kegelapan kepada Kerajaan terang, dari cengkeraman dosa kepada pemerintahan Kristus. Saat satu jiwa bertobat, rantai dipatahkan, klaim musuh dibatalkan, dan hak kepemilikan berpindah tangan. Itulah sebabnya surga bersorak, karena Kerajaan Allah maju. Dan itulah sebabnya neraka kehilangan pekerjaannya, karena satu jiwa yang tadinya terikat kini dilepaskan.

Yesus mencontohkan sikap ini dengan jelas. Ia meninggalkan 99 domba dan mencari yang satu. (Lukas 15:4). Ini bukan soal angka, tetapi soal tanggung jawab rohani. Yesus tidak menunggu domba itu kembali sendiri; Dia aktif mengejar. Sering kali satu jiwa tidak dimenangkan lewat satu momen besar, tetapi lewat doa yang konsisten, kasih yang sabar, dan keberanian untuk tetap hadir meski ditolak.

Kalau kita sungguh percaya akan lawatan Tuhan dan tuaian jiwa-jiwa, maka kita harus mengerti bahwa tuaian besar dibangun dari kesetiaan dalam peperangan rohani satu demi satu jiwa. Mulailah dari satu nama yang Tuhan taruh di hatimu. Doakan terus. Deklarasikan Firman. Berdirilah sebagai penjaga. Karena di hadapan surga, kesetiaan memperjuangkan satu jiwa adalah tindakan iman yang sangat berharga.jadi , Siapa yang kamu sedang perjuangkan? 


BHS

Jumat, 23 Januari 2026

Tidak Berbuah tanpa Berakar

               Proses berbuah selalu dimulai dari akar, bukan dari buah. Alkitab berkata, “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya” (Mazmur 1:3). Perhatikan urutannya dengan saksama: ditanam terlebih dahulu, berakar lebih dulu, barulah berbuah. Firman Tuhan tidak pernah membalik proses. Akar berbicara tentang kehidupan yang tersembunyi ,hubungan pribadi dengan Tuhan, ketaatan saat tidak ada yang melihat, serta kesetiaan kepada Firman dalam hal-hal kecil. Banyak orang menginginkan hasil yang cepat, tetapi Kerajaan Allah selalu bekerja dari dalam ke luar. Tanpa akar yang tertanam kuat di sumber hidup, tidak mungkin ada buah yang bertahan.

Akar yang sehat hanya dapat hidup jika terhubung dengan sumber air yang benar. Yeremia 17:7–8 berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN… ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air; ia tidak mengalami datangnya panas terik… dan tidak berhenti menghasilkan buah.” Artinya, kondisi luar boleh berubah—tekanan, krisis, musim kering, atau penderitaan—tetapi kehidupan di dalam tetap segar. Sebaliknya, akar yang kering akan menghasilkan buah yang palsu: terlihat baik di luar, tetapi rapuh dan mudah gugur. Buah yang sejati selalu lahir dari akar yang terus-menerus minum dari hadirat Tuhan.

Dalam Perjanjian Baru, kata “akar” diterjemahkan dari bahasa Yunani ῥίζα (rhiza), yang berarti akar yang memberi makan, sumber nutrisi, dan dasar pertumbuhan. Rhiza menunjuk pada bagian yang tidak terlihat, tetapi justru menentukan segalanya. Segala sesuatu yang tampak ke luar ,karakter, perkataan, pelayanan, bahkan urapan, selalu merupakan hasil dari apa yang diserap oleh rhiza di dalam. Apa yang kita izinkan masuk ke kehidupan batin kita akan menentukan buah apa yang keluar.

Karena itu, dalam bagian ini kita diajak untuk memilih memiliki akar yang kuat, bukan sekadar buah yang terlihat. Lihatlah Yusuf. Ia memiliki rhiza yang dalam kepada Tuhan sejak masa mudanya. Tidak ada yang melihat kesetiaannya di rumah Potifar, di dalam penjara, atau di musim ketika ia dilupakan. Namun justru di tempat-tempat tersembunyi itulah rhizanya semakin kuat (Kejadian 39–41). Demikian juga Daud. Sebelum dikenal sebagai raja, ia terlebih dahulu berakar sebagai penyembah di padang, setia menggembalakan domba dan membangun mezbah pribadi bagi Tuhan. Tuhan berkata, “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7). Dari padang itulah lahir seorang penyembah yang rindu akan hadirat Tuhan (Mazmur 63:2).

Hari ini Tuhan tidak sekadar mencari orang yang berbuah lebat, karena buah adalah akibat, bukan tujuan. Buah selalu mengikuti akar yang kuat dan sehat. Maka tugas kita bukan mengejar buah, melainkan memperdalam akar/rhiza ,berakar dalam Firman, berakar dalam doa, dan berakar dalam ketaatan. Sebab hanya akar yang kuat yang sanggup menopang buah yang besar, dan hanya akar yang dalam yang membuat buah itu bertahan sampai akhir.



BHS

Kamis, 22 Januari 2026

Lakukan Bersama Surga

                    Pelipatgandaan sering kali tidak dimulai dari langit, tetapi dari apa yang sudah ada di tangan kita. Lima roti dan dua ikan tidak berlipat ganda saat masih di tangan anak itu, dan juga tidak bertambah saat ada di tangan Yesus. Alkitab mencatat bahwa pelipatgandaan itu terjadi ketika roti itu dibagikan oleh murid-murid kepada orang banyak (Matius 14:19–20). Di titik ketaatan itulah kuasa Allah bekerja. Tuhan tidak menunggu kita memiliki banyak, Ia menunggu kita mau bergerak dengan apa yang ada.

Hal yang sama terlihat dalam mujizat air menjadi anggur. Yesus tidak menciptakan anggur dari kehampaan, tetapi meminta para pelayan mengisi tempayan dengan air dan membawanya kepada pemimpin pesta (Yohanes 2:7–9). Mujizat itu terjadi di tengah pelayanan yang sederhana dan taat. Mereka tidak tahu kapan air itu berubah menjadi anggur, tetapi mereka tahu satu hal: mereka melakukan apa yang diperintahkan. Ketaatan membuka ruang bagi perkara supranatural.

Sering kali kita berdoa meminta Tuhan bekerja, padahal Tuhan sedang menunggu tangan kita melangkah lebih dulu. Banyak orang menanti mujizat tanpa mau terlibat dalam prosesnya. Padahal, Allah memilih untuk menyalurkan kuasa-Nya melalui manusia. Firman Tuhan berkata, “Kami adalah kawan sekerja Allah” (1 Korintus 3:9). Ini bukan tentang siapa yang lebih berperan, tetapi tentang kerja sama ilahi ,surga memberi kuasa, bumi menyediakan ketaatan.

Pelipatgandaan jiwa-jiwa tidak pernah dimulai dari orang yang selalu menunggu, tetapi dari orang yang menuai. Jangan menunggu jiwa-jiwa dilipatgandakan , kitalah yang harus turun ke ladang dan menuai. Ladang tidak berubah karena doa tanpa langkah, dan tuaian tidak terjadi karena harapan tanpa ketaatan. Jangan menunggu berkat turun dari langit, kerjakan apa yang ada di tanganmu hari ini. Lima roti dan dua ikan tidak menjadi mujizat saat disimpan, tidak bertambah saat dikagumi, tetapi dilipatgandakan saat diserahkan dan dibagikan. Apa yang tidak dikerjakan tidak akan pernah dilipatgandakan. Benih yang ditahan tidak akan bertumbuh, tetapi benih yang ditabur selalu berbicara tentang hasil dan tuaian (2 Korintus 9:6). Ketika tangan kita bergerak, surga merespons. Ketika kaki kita melangkah, Tuhan menyerahkan tanah itu kepada kita. Mujizat mengalir dari tangan yang mau bekerja, dan pelipatgandaan dilepaskan melalui ketaatan yang berani bertindak. Jangan menunggu musim yang sempurna mbergeraklah, karena pelipatgandaan dilepaskan di tengah ketaatan, bukan di ruang penantian.


BHS

Rabu, 21 Januari 2026

Kuasa dari Korban Pujian

                      Firman Tuhan berkata, “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15). Alkitab dengan sengaja menekankan bibir, karena korban puji-pujian bukan hanya soal apa yang kita yakini di dalam hati, tetapi apa yang kita berani lepaskan di tengah tekanan. Ada iman di hati, tetapi iman itu menjadi korban ketika diekspresikan , saat bibir memilih memuliakan Tuhan walau situasi menekan. Di titik inilah pujian tidak lagi murah, melainkan mahal.

Korban puji-pujian selalu menuntut harga. Ia lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari ketaatan. Ketika keadaan tidak berubah, doa belum terjawab, dan emosi tidak mendukung, pujian yang tetap dinaikkan menjadi korban yang harum di hadapan Tuhan. Pujian seperti ini tidak menunggu hasil, tetapi percaya pada karakter Allah. Inilah ibadah yang murni—memuliakan Tuhan bukan karena apa yang Dia lakukan, tetapi karena siapa Dia.

Kisah Paulus dan Silas menggambarkan korban puji-pujian dengan sangat nyata. Mereka dipukuli, dirantai, dan dipenjarakan di bagian paling dalam. Tubuh mereka sakit, luka masih terbuka, dan secara manusia tidak ada alasan untuk bersukacita. Namun di tengah malam, mereka mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan. Pujian itu lahir dari penderitaan, bukan dari kenyamanan. Karena itulah pujian mereka menjadi korban. Dan ketika korban itu dinaikkan, Tuhan bertindak , gempa terjadi, rantai terlepas, pintu terbuka. Hal yang sama kita lihat dalam kisah Raja Yosafat (2 Tawarikh 20). Saat Yehuda dikepung musuh yang jauh lebih besar, Tuhan memerintahkan puji-pujian dinaikkan terlebih dahulu. Para penyanyi ditempatkan di barisan depan, mendahului pasukan. Ini bukan pujian setelah kemenangan, tetapi pujian sebelum kemenangan terlihat. Di situlah letak korbannya. Dan ketika puji-pujian dinaikkan, Tuhan sendiri yang mengacaukan musuh dan memberi kemenangan.

Dalam kedua kisah ini kita melihat satu prinsip rohani: korban puji-pujian selalu mendahului intervensi Tuhan. Pujian bukan alat untuk memaksa Tuhan bekerja, tetapi respon iman yang menempatkan Tuhan kembali di takhta. Ada pengakuan iman yang dilepaskan, bukan karena suara itu sempurna, tetapi karena hati yang sepenuhnya berserah.

Hari ini, korban puji-pujian muncul ketika kita tetap memuliakan Tuhan di tengah proses, tetap menyembah di musim gelap, dan tetap setia walau tekanan belum berhenti. Inilah pujian yang membentuk kedewasaan rohani dan meneguhkan iman. Dan setiap kali korban itu dinaikkan, Tuhan setia menyatakan diri-Nya—dengan cara dan waktu-Nya yang terbaik.

Selasa, 20 Januari 2026

Dilembah dan Gunung bersama Roh Kebenaran

                  Roh Kebenaran tidak diberikan hanya untuk menghibur atau mempermudah hidup, tetapi untuk menuntun kita kepada seluruh kebenaran (Yohanes 16:13). Kebenaran bukan sekadar sesuatu yang kita pahami, melainkan yang membentuk cara hidup kita. Karena itu, tuntunan Roh Kebenaran tidak selalu membawa kita ke jalan yang nyaman. Ia menuntun ke proses yang membentuk, bukan memanjakan. Tanpa Roh Kebenaran, manusia mudah tersesat, baik oleh penderitaan di lembah maupun oleh keberhasilan di puncak.

Yesus memberi teladan yang jelas. Setelah dibaptis dan Roh Kudus turun ke atas-Nya, Yesus “dipimpin oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai” (Matius 4:1). Roh Kebenaran tidak diutus untuk menghilangkan padang gurun, tetapi untuk berjalan bersama kita melewatinya. Di tempat sunyi itu, identitas Yesus diteguhkan dan ketaatan-Nya dimurnikan. Ini menegaskan bahwa lembah bukan tanda ditinggalkan Tuhan, melainkan ruang pembentukan yang disengaja oleh Roh.

Namun Roh Kebenaran tidak hanya dibutuhkan di lembah dan padang gurun; Ia justru sangat
diperlukan di atas gunung. Ketika Yesus dimuliakan di atas gunung, Roh menyertai pewahyuan itu dengan suara Bapa yang menegaskan identitas: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi” (Matius 17:1–5). Di puncak, bahaya terbesar bukanlah penderitaan, melainkan kesombongan. Tanpa Roh Kebenaran, pewahyuan dapat berubah menjadi kebanggaan rohani, dan kemuliaan dapat bergeser menjadi kecongkakan. Karena itu Roh Kebenaran hadir di atas gunung untuk menjaga hati tetap rendah, memastikan bahwa apa pun yang diterima tidak memuliakan diri, tetapi tetap memuliakan Allah.

Secara profetis, Roh Kebenaran sedang memimpin umat Tuhan untuk tetap hidup selaras dengan-Nya, baik saat berada di lembah maupun ketika berdiri di puncak gunung. Di lembah, Ia membentuk karakter; di gunung, Ia menjaga hati agar tidak meninggikan diri. Kebenaran Roh tidak berubah oleh musim hidup. Selama asal roh yang menuntun kita adalah Roh Kebenaran, perjalanan kita aman di tangan Tuhan. Baik di bawah maupun di atas, Roh yang sama sedang menuntun kita menuju kepenuhan maksud Allah. jadi kemana Roh Kebenaran itu menuntunmu hari ini ??


BHS

Senin, 19 Januari 2026

Seorang Ibu Yang Membangun Masa Depan

                  Yokhebed adalah gambaran seorang perempuan yang tidak dikenal dunia, tetapi sangat berfungsi bagi Kerajaan Allah. Ia tidak berdiri di panggung, tidak memiliki jabatan, dan namanya jarang disebut. Namun dari hidupnya, Tuhan melahirkan rencana besar. Dari rahim satu perempuan lahir Musa, pembebas Israel; Harun, imam besar pertama; dan Miryam, nabi perempuan serta pemimpin pujian. Firman Tuhan berkata bahwa Allah sering memakai yang kecil dan tersembunyi untuk menggenapi kehendak-Nya (1 Korintus 1:27). Dalam Kerajaan Allah, yang terpenting bukanlah dikenal, tetapi setia pada fungsi.

Kekuatan Yokhebed terlihat dari caranya membangun rumah. Rumahnya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat iman ditanam dan identitas rohani dibentuk. Di dalam rumah itulah Musa belajar takut akan Tuhan, Harun mengenal panggilan imamat, dan Miryam bertumbuh sebagai nabi. Kebenaran ini ditegaskan firman Tuhan: “Perempuan yang bijak membangun rumahnya, tetapi yang bodoh merobohkannya dengan tangannya sendiri” (Amsal 14:1). Apa yang dibangun dengan iman di dalam rumah akan menentukan arah generasi di masa depan.

Yokhebed tidak keluar dari posisinya  sebagai seorang ibu, tetapi justru membangkitkan raksasa iman dari tempat ia berdiri. Ia setia dalam perkara yang kelihatan kecil ,mengandung, merawat, mengajar, dan berdoa , namun Tuhan mempercayakan perkara besar kepadanya. Firman Tuhan berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar” (Lukas 16:10). Dari ketaatan seorang ibu, Tuhan membangkitkan pemimpin bangsa, imam, dan nabi.

Renungan ini adalah panggilan bagi wanita-wanita rohani di zaman ini. Waktunya perempuan-perempuan Tuhan dibangkitkan untuk berdiri di posisi mereka, membangun mezbah keluarga, dan melahirkan generasi yang takut akan Tuhan. Firman berkata, “Sesungguhnya, anak-anak adalah milik pusaka dari TUHAN” (Mazmur 127:3), dan “anak-anakmu seperti anak panah di tangan pahlawan” (Mazmur 127:4). Bagi para wanita dan ibu-ibu: apa yang kalian tabur di rumahmu tidak akan pernah sia-sia. Doa-doa yang dinaikkan di kamar tersembunyi, air mata yang jatuh di hadapan Tuhan, firman yang ditanamkan kepada suami dan anak-anak—semuanya dicatat di hadapan Allah. Rumahmu adalah mimbar pertama, dan hidupmu adalah khotbah yang paling kuat. Bawalah kemuliaan Tuhan di rumahmu. Seperti Yokhebed, ketika seorang perempuan memilih hidup untuk memuliakan Tuhan, ia sedang membangun masa depan Kerajaan Allah yang dimulai dari rumahnya sendiri.


BHS

Minggu, 18 Januari 2026

Keteladanan Seorang Pemimpin

                 Hari ini Roh Kudus mengingatkan kita tentang kepemimpinan orang percaya yang sangat berbeda dari kepemimpinan sekuler. Alkitab berkata, “Barangsiapa ingin menjadi yang terdepan, hendaklah ia menjadi yang terakhir,” dan masih banyak prinsip Kerajaan Allah lainnya yang bertolak belakang dengan sistem dunia. Hari ini kita akan berfokus pada kepemimpinan yang bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata. Sebab sering kali, kehidupan nyata berbicara jauh lebih keras daripada apa yang kita ucapkan. “Ikutilah teladanku, sama seperti aku meneladani Kristus” (1 Korintus 11:1) bukanlah ajakan untuk mengidolakan Paulus, melainkan undangan untuk melihat kehidupan yang selaras dengan Kristus. Paulus tidak meminta jemaat meniru kepribadiannya, tetapi meniru arah hidupnya. Pusat pernyataannya bukan “aku”, melainkan “Kristus”. Karena itu, setiap pemimpin perlu berhati-hati, sebab banyak mata sedang memperhatikan hidupnya. Baik disadari atau tidak, kehidupan seorang pemimpin selalu menjadi contah bukan hanya melalui perkataannya, tetapi melalui sikap, keputusan, dan responsnya setiap hari. Kepemimpinan menempatkan seseorang di ruang yang terbuka, di mana hidupnya tidak lagi sepenuhnya privat, melainkan menjadi bacaan publik.

Kata teladan dalam bahasa Yunani adalah mimētēs, yang berarti meniru secara nyata, mencontoh pola hidup. Ini berbicara tentang kehidupan yang dapat disalin, bukan sekadar pesan yang didengar. Paulus sadar bahwa hidupnya sedang dibaca oleh jemaat. Itulah sebabnya ia memilih hidup sederhana, bekerja dengan tangannya sendiri, dan tetap setia di tengah penderitaan (Kisah Para Rasul 20:34–35). Ia memahami bahwa memimpin dengan teladan selalu mengandung risiko: disalahpahami, dikritik, dituntut lebih tinggi, bahkan menderita. Namun Paulus tidak mundur, karena ia tahu bahwa keteladanan yang sejati selalu menuntut harga.

Namun penting untuk disadari bahwa setiap kita adalah pemimpin. Entah kita memimpin banyak orang atau hanya satu kehidupan , di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau di pelayanan, selalu ada seseorang yang sedang melihat dan belajar dari hidup kita. Kepemimpinan tidak pernah netral; ia selalu membawa dampak. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah “apakah aku pemimpin?”, melainkan “siapa yang sedang aku teladani?” Sebab apa yang kita ikuti, itulah yang tanpa sadar kita ajarkan kepada orang lain, lengkap dengan konsekuensinya.

Inilah sebabnya Paulus mengajarkan kepemimpinan melalui keteladanan hidup, bukan hanya lewat kata-kata. Seorang pemimpin dan sesungguhnya setiap orang percaya , tidak hanya menuntut komitmen, tetapi lebih dulu menunjukkan disiplin, kerendahan hati, dan kesetiaan. Datang tepat waktu, setia dalam tanggung jawab kecil, dan hidup konsisten antara mimbar dan rumah. Kepemimpinan seperti ini tidak aman dan tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak kuasanya. Sebab kepemimpinan sejati selalu berisiko, namun keteladanan yang dibayar dengan harga inilah yang meninggalkan jejak kekal. Hidup kita sendiri sedang berkhotbah, bahkan ketika mulut kita diam. oke guys !  Blessing


BHS

Jumat, 16 Januari 2026

Jangan Berhenti di Haran

        Terah adalah orang pertama yang memulai perjalanan menuju tanah perjanjian. Kejadian 11:31 mencatat bahwa Terah membawa Abram dan keluarganya keluar dari Ur-Kasdim dengan arah yang jelas: tanah Kanaan. Ini bukan perjalanan tanpa visi , ini adalah langkah yang benar, respons awal terhadap panggilan Tuhan. Namun tragedinya bukan karena Terah salah arah, melainkan karena ia berhenti sebelum tiba. Alkitab berkata mereka “sampai di Haran, lalu menetap di sana.” Tuhan tidak pernah berkata, “tinggallah di Haran.” Haran bukan tujuan; Haran hanyalah persinggahan.

 Berhentinya Terah bukan soal jarak, tetapi soal hati. Haran adalah nama anak Terah yang telah mati (Kej. 11:27). Ia berhenti di tempat yang secara emosional aman, tempat kenangan, tempat luka. Di sinilah banyak orang gagal menyelesaikan panggilan: perasaan yang tidak diserahkan kepada Tuhan mulai menggantikan ketaatan. Terah tidak memberontak, tidak kembali ke Ur, ia hanya berhenti. Dan sering kali, berhenti di tengah jalan terlihat rohani, padahal sesungguhnya itu adalah ketaatan yang terpotong.

Haran menggambarkan zona nyaman rohani , cukup dekat dari dunia, tetapi masih jauh dari janji. Di Haran hidup terasa stabil, aman, dan tidak menuntut iman lebih. Sama seperti Gosyen bagi Israel: tempat pemeliharaan, tetapi bukan tanah perjanjian. Banyak orang puas hidup di wilayah antara,sudah diselamatkan, sudah melayani, sudah diberkati—tetapi tidak pernah masuk kepenuhan rencana Tuhan. Firman Tuhan memperingatkan, “Hati itu licik, lebih dari segala sesuatu” (Yeremia 17:9). Hati yang mencari kenyamanan akan selalu menemukan alasan untuk berhenti.

Karena itu, pesan Tuhan hari ini jelas : jangan berhenti di Haran. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk berangkat, tetapi untuk menyelesaikan perjalanan. Doa yang harus terus dinaikkan adalah doa Daud: “Ciptakanlah hati yang bersih dalam diriku, ya Allah” (Mazmur 51:12). Jangan biarkan luka, nostalgia, atau kenyamanan mencuri arah panggilan. Haran bukan tujuan. Kanaanlah janji. Dan hanya mereka yang terus melangkah dengan hati yang dimurnikan yang akan masuk ke dalam apa yang Tuhan sediakan.


BHS

Kamis, 15 Januari 2026

Ketaatan yang Lahir dari Iman bukan Paksaaan

            Ketaatan selalu menuntut iman, karena sering kali Tuhan tidak menjelaskan seluruh rencana-Nya saat Ia memanggil seseorang untuk melangkah. Dalam banyak musim, Tuhan hanya memberi perintah, bukan penjelasan. Firman Tuhan berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Di titik inilah iman mengambil alih—ketika pengertian berhenti, ketaatan tetap berjalan. Ketaatan semacam ini bukan lahir dari kepastian situasi, tetapi dari keyakinan yang dalam bahwa Tuhan tidak pernah salah, bahkan ketika jalan-Nya terasa gelap dan tidak masuk akal.

Kisah William Seymour memperlihatkan ketaatan yang sangat murni, lahir bukan dari tekanan, tetapi dari iman yang sederhana dan dalam. Seymour adalah seorang pria kulit hitam di masa segregasi rasial, miskin, tidak dikenal, dengan keterbatasan fisik pada penglihatannya. Ia bahkan tidak diizinkan duduk di ruang kelas ketika belajar tentang baptisan Roh Kudus—ia harus mendengarkan pengajaran dari luar pintu. Namun penghinaan itu tidak memadamkan imannya. Ketika Tuhan memanggilnya ke Los Angeles, ia taat tanpa tahu apa yang akan terjadi. Ia tidak membawa rencana besar, tidak membawa nama, hanya membawa ketaatan. Ironisnya, setibanya di sana, gereja yang mengundangnya justru menutup pintu dan menolaknya. Secara manusia, inilah titik di mana banyak orang akan berhenti. Tetapi Seymour tidak mundur—ia memilih taat tetap tinggal dan berdoa.

Dalam ketaatan yang tersembunyi itulah iman Seymour benar-benar mengambil alih. Ia tidak berusaha membuktikan bahwa ia benar, tidak mencari mimbar lain, dan tidak berjuang mempertahankan reputasi. Ia hanya mengumpulkan beberapa orang di sebuah rumah kecil di Bonnie Brae Street dan berdoa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Tidak ada jaminan revival akan terjadi. Tidak ada tanda-tanda supranatural di awal. Hanya ada satu hal: ketaatan yang lahir dari iman, bukan dari paksaan. Dan justru dari tempat yang tidak megah, dari doa yang tidak dipublikasikan, Roh Kudus dicurahkan dengan dahsyat. Azusa Street Revival lahir bukan dari strategi manusia, tetapi dari iman yang ditaati sampai akhir.

Ketaatan yang beriman juga memurnikan motivasi hati, dan ini terlihat jelas dalam hidup Seymour. Ia menolak menjadi pusat perhatian. Dalam banyak pertemuan, ia bahkan berlutut dengan kepala tertutup peti kayu, seolah berkata, “Biarlah Tuhan saja yang terlihat.” Inilah perbedaan besar antara ketaatan karena iman dan ketaatan karena terpaksa. Secara lahiriah, dua orang bisa melakukan hal yang sama melayani, berdoa, taat tetapi hasilnya tidak pernah sama. Ketaatan yang dilakukan karena tekanan, kewajiban, atau takut manusia tidak akan melahirkan kuasa. Tetapi ketaatan yang lahir dari iman dan kasih kepada Tuhan membuka ruang bagi pekerjaan Roh Kudus. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15).

Pada akhirnya, ketaatan yang lahir dari iman selalu menghasilkan dampak yang melampaui satu generasi. William Seymour mungkin tidak pernah sepenuhnya mengerti bahwa doanya yang sederhana akan memicu gerakan Pentakosta global yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia. Namun firman Tuhan tetap berlaku: “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7). Iman tidak selalu memberi penjelasan di awal, tetapi iman yang ditaati , bukan dipaksakan ,selalu membuka jalan bagi pekerjaan Tuhan yang jauh lebih besar daripada yang dapat dirancang oleh manusia.


BHS

Rabu, 14 Januari 2026

Dari Pihak Tuhan Selalu Keajaiban

             Shalom. Pada tanggal 14–16 Januari 2026, Indonesia Menyembah selama 40 jam dinaikkan oleh berbagai komunitas gereja yang bersatu untuk satu tujuan: meninggikan Raja di atas segala raja. Di tengah aliran penyembahan yang terus berlangsung, ada satu firman Tuhan yang sangat ditekankan dan bergema sepanjang waktu penyembahan, yaitu Mazmur 118:23:

“Dari TUHAN hal itu terjadi, suatu perbuatan ajaib di mata kita.”

Ayat ini dengan tegas menyingkapkan satu kebenaran yang tidak bisa ditawar: segala keajaiban selalu lahir dari pihak TUHAN. Pemazmur tidak menunjuk pada usaha manusia, kekuatan komunitas, atau strategi rohani, melainkan langsung meninggikan kedaulatan Allah. Apa yang terjadi adalah karena Tuhan bertindak. Kebesaran Tuhan dinyatakan ketika Dia bekerja melampaui logika, perhitungan, dan kemampuan manusia. Apa yang mustahil di mata manusia menjadi nyata ketika Tuhan sendiri yang mengambil alih.

Ketika firman ini digaungkan dalam penyembahan, roh kita diarahkan kembali kepada posisi yang benar: Tuhan tidak menunggu manusia cukup kuat untuk bergerak. Dia bertindak karena Dia adalah Tuhan. Inisiatif selalu dari pihak-Nya. Dari pihak Tuhan selalu ada jalan, selalu ada kuasa, selalu ada terobosan. Karena itu, setiap perbuatan ajaib bukanlah hasil perform manusia, melainkan manifestasi dari kebesaran dan kedaulatan Allah.

Namun firman ini juga menghadapkan kita pada sebuah pertanyaan yang tajam dan tidak bisa dihindari: kita sedang berpihak kepada siapa? Banyak orang ingin melihat keajaiban Tuhan, tetapi tetap berdiri di pihak kenyamanan, kepentingan diri, dan agenda pribadi. Padahal keajaiban tidak lahir dari posisi netral. Dalam peperangan rohani tidak ada wilayah abu-abu. Ketika kita memilih berdiri di pihak Tuhantaat kepada firman-Nya, meskipun berisiko dan tidak populer, di situlah tangan Tuhan mulai bekerja secara nyata.

Berpihak kepada Tuhan berarti menyelaraskan hidup sepenuhnya dengan kehendak-Nya, bukan sekadar menyebut nama-Nya. Israel sering memanggil nama Tuhan, tetapi hatinya berpaling kepada ilah lain, sehingga kuasa Tuhan tidak mengalir. Sebaliknya, ketika Elia berdiri di Gunung Karmel dan berkata, “Jika TUHAN itu Allah, ikutilah Dia,” api turun dari langit. Keajaiban selalu mengikuti keberpihakan yang jelasketika hati, sikap, dan tindakan sepenuhnya berada di pihak Tuhan yang besar dan berdaulat.

Mazmur 118:23 menutup semua alasan manusia untuk bermegah. Jika keajaiban itu berasal dari pihak Tuhan, maka kemuliaan pun sepenuhnya kembali kepada Tuhan. Tugas kita bukan menciptakan keajaiban, melainkan mengambil posisi yang benar di hadapan-Nya dan meninggikan Dia melalui penyembahan sejati. Hari ini Tuhan bertanya kepada setiap kita: di pihak siapa engkau berdiri? Ketika kita memilih berpihak kepada Tuhan dengan iman dan ketaatan, apa yang lahir dari pihak-Nya akan menjadi perbuatan ajaib , bukan hanya di mata kita, tetapi juga sebagai kesaksian tentang kebesaran Tuhan bagi dunia.


BHS

Mengalahkan "Spirit of Entertainment"

               “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain” (Yesaya 42:8). Ayat ini bukan sekadar pernyataan identitas Allah, tetapi garis batas yang tegas bagi setiap pelayan Tuhan. Kemuliaan hanya milik Tuhan dan tidak boleh diambil sedikit pun oleh manusia. Masalah terbesar dalam kehidupan rohani sering kali bukan dosa besar yang kasat mata, melainkan pergeseran pusat yang halus—ketika hati mulai menikmati sorotan, pujian, dan pengakuan yang seharusnya kembali kepada Allah. Kita tetap melayani, berkhotbah, bernyanyi, dan beribadah, tetapi motivasi mulai berubah. Saat pelayanan tidak lagi bertanya, “apakah Tuhan dimuliakan?”, melainkan “apakah aku diapresiasi?”, di situlah kemuliaan Tuhan sedang dicuri—bukan dengan kata-kata, tetapi melalui motivasi yang salah.

Roh ini sering bersembunyi di balik apa yang disebut spirit of entertainment. Fokusnya adalah perform: tampil baik, terlihat rohani, dan diterima manusia. Ibadah pelan-pelan bergeser menjadi panggung, mimbar menjadi tempat pembuktian diri, dan pelayanan berubah menjadi konten. Yesus menegur keras sikap ini dengan berkata, “Mereka melakukan semuanya itu supaya dilihat orang” (Matius 23:5). Ketika validasi manusia menjadi sumber sukacita, saat itulah kemuliaan Tuhan dipindahkan ke ego manusia. Inilah pencurian kemuliaan yang paling berbahaya karena sering kali dibungkus dengan aktivitas rohani, ayat Alkitab, dan bahasa pelayanan.

Sebaliknya, seorang worshipper sejati hidup hanya untuk Tuhan. Penyembahan bukan soal kualitas suara, kerapian musik, lighting, atau atmosfer yang megah. Semua itu hanyalah alat , dan alat tidak pernah bisa menggantikan presence of God. Tulisan ini bukan menentang elemen teknis dalam ibadah, tetapi menegaskan bahwa tidak ada cahaya buatan yang bisa menggantikan terang hadirat Tuhan. Hadirat Allah tidak dihasilkan oleh panggung, tetapi oleh hati yang hancur, rendah, dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya.

Hari-hari ini, panggung sering dijadikan ukuran “kesuksesan pelayanan”. Namun kita perlu berhenti sejenak dan berpikir ulang: bukankah target sejati pelayanan adalah seperti yang kita lihat dalam Kisah Para Rasul, ketika hadirat Tuhan menjadi pusat dan milik Tuhan satu-satunya, dan manusia sadar bahwa dirinya hanyalah alat? Yohanes Pembaptis berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Inilah roh penyembahan sejati: tidak mencuri kemuliaan, tidak haus sorotan, tidak membangun nama, tetapi dengan sadar mengembalikan seluruh kemuliaan kepada Dia yang empunya. Gereja boleh terlihat indah, tetapi hanya hadirat Tuhan yang membuatnya sungguh-sungguh hidup. , renungan hari ini mengajak kita untuk mengembalikan kemuliaan Tuhan di tempatnya ! karna pada akhirnya adalah SoliDeo Gloria , Dari Tuhan , Oleh Tuhan dan Untuk Tuhan.


Blessing 

Senin, 12 Januari 2026

Setiap hari adalah peperangan rohani

            “Life is a battleground, not a playground.” sebuah statement lama yang pagi ini roh kudus ingatkan untuk kembali di renungkan, bahwa kehidupan ini bukan seperti taman bermain tetapi sebuah lantai pertempuran , antara yang buruk , baik dan yang benar,  Sadarilah, tidak ada hari netral dalam kehidupan rohani. Setiap hari adalah wilayah peperangan , entah kita berjaga atau lengah. Banyak orang tidak jatuh karena serangan besar, tetapi karena kehilangan kesadaran di hari-hari yang terasa “biasa”. Firman Tuhan berkata, “Sadarlah dan berjaga-jagalah!” (1 Petrus 5:8). Ini bukan saran rohani, tetapi perintah perang. Waktu, pikiran, dan fokus kita diperebutkan terus-menerus. Saat kita berhenti berjaga, musuh tidak perlu menyerang—cukup membuat kita merasa aman, nyaman, dan tidak sadar bahwa kita sedang berada di medan perang.

Sadarilah, Daud tidak menang karena keberanian sesaat, tetapi karena ia hidup sadar akan peperangan bahkan saat tidak ada musuh di depan mata. Di padang penggembalaan, Daud melawan singa dan beruang ketika tidak ada penonton. Di situlah mentalitas battleground dibentuk. Ia berkata, “TUHAN yang melepaskan aku…” (1 Samuel 17:37), karena ia terbiasa melihat Tuhan bekerja dalam keseharian. Peperangan besar di depan publik selalu dimenangkan oleh orang yang tidak lengah di musim sunyi.

Sadarilah, Yesus memperingatkan bahwa kegagalan rohani sering terjadi bukan karena musuh terlalu kuat, tetapi karena manusia berhenti berjaga. Di Getsemani Ia berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah” (Matius 26:41). Murid-murid kalah bukan oleh serangan frontal, tetapi oleh kelelahan, kenyamanan, dan penundaan. Peperangan rohani jarang datang dengan alarm keras; ia datang pelan ,lewat doa yang ditunda, kekudusan yang dinegosiasikan, dan disiplin rohani yang dianggap tidak mendesak.

Karena itu hari-hari ini  kita harus membangun spiritual alarm atau isilahnya kesadaran rohani yang selalu aktif di medan perang. Alarm ini berbunyi saat hati mulai dingin, saat kompromi terasa wajar, dan saat kita mulai hidup tanpa urgensi. Firman Tuhan berseru, “Bangunlah, hai kamu yang tidur” (Efesus 5:14). Orang yang hidup di battleground tidak menunggu jatuh untuk sadar; ia bangun saat Roh Kudus menegur. Hidup ini bukan playground untuk lengah, tetapi battleground yang menuntut kewaspadaan setiap hari, karena dalam peperangan rohani musuh kita tidak pernah tertidur dan terus menerus mencari waktu untuk menjatuhkan kita. waspadalah ! 


BHS 

Minggu, 11 Januari 2026

Ketaatan kita jawaban bagi orang lain

                      Ketaatan kita kepada Tuhan, tetapi dampaknya selalu mengalir kepada orang lain. Sering kali kita mengira ketaatan hanyalah urusan pribadi antara kita dan Tuhan—soal iman, pertumbuhan rohani, atau berkat dalam hidup kita sendiri. Namun Alkitab menunjukkan kebenaran yang lebih dalam: ketaatan kita hampir tidak pernah berhenti pada diri kita sendiri. Di balik setiap ketaatan, ada orang lain yang sedang menunggu jawaban Tuhan.

Kisah Abraham dan Ishak dalam Kejadian 22 memperlihatkan prinsip ini dengan sangat jelas. Ketika Abraham taat mempersembahkan Ishak, itu memang tampak seperti ujian iman pribadi. Tetapi sesungguhnya, ketaatan itu membuka pintu berkat lintas generasi. Tuhan berkata, “Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.” Abraham tidak sedang menjawab doanya sendiri. Ketaatannya menjadi jawaban Tuhan bagi bangsa-bangsa yang bahkan belum lahir. Satu tindakan ketaatan membuka aliran berkat profetik yang menjangkau jauh melampaui hidupnya.

Hal yang sama terjadi dalam kisah Maria di Lukas 1:38. Ketika Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu,” ia tidak hanya sedang menyerahkan hidupnya kepada rencana Allah. Kalimat sederhana itu menjadi jawaban atas ratusan tahun doa dan penantian bangsa Israel akan Mesias. Doa para nabi, ratapan para imam, dan kerinduan umat Allah dijawab melalui kesediaan satu pribadi untuk berkata “ya.” Sering kali, jawaban Tuhan atas doa-doa besar tersembunyi dalam ketaatan pribadi yang terlihat kecil.

Puncaknya kita melihat dalam ketaatan Yesus sendiri. Filipi 2:8 berkata bahwa Yesus taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan-Nya menjadi jawaban doa terbesar umat manusia: keselamatan. Doa tentang penebusan, pemulihan hubungan dengan Bapa, dan pelepasan dari dosa tidak dijawab dengan kata-kata, tetapi dengan ketaatan total. Melalui ketaatan satu Pribadi, dunia menerima hidup.

Di bagian akhir ini kita mengerti satu kebenaran yang sangat penting: ketaatan kita adalah jawaban bagi orang lain. Bahkan, ketaatan kita hari ini bisa menjadi jawaban bagi generasi selanjutnya dan bagi orang-orang yang tidak pernah kita kenal namanya. Ketaatanmu hari ini melakukan kehendak Tuhan bisa menjadi jawaban doa bagi satu keluarga yang sedang berjuang bertahan hidup. Ketaatanmu untuk mendoakan seorang yang sakit bisa menjadi jawaban kesembuhan bagi orang itu.

Karena itu, jangan tunda ketaatanmu. Jangan remehkan dorongan Tuhan di hatimu. Apa yang Tuhan minta engkau lakukan hari ini mungkin sedang ditunggu oleh orang lain sebagai jawaban doa mereka. 


BHS

Sabtu, 10 Januari 2026

Hati - Hati dengan Penyimpangan

              Generasi ini sedang bergumul dengan tiga masalah utama yang serius ( generasi itu adalah kita hari ini , tidak melulu anak-anak muda ) : degradasi, stagnansi, dan deviasi. Degradasi berbicara tentang penurunan kualitas iman dan karakter; stagnansi tentang kehidupan rohani yang berhenti bertumbuh; dan deviasi tentang penyimpangan arah dari kebenaran. Pada kesempatan ini, kita menekankan satu hal yang paling halus namun paling berbahaya: deviasi karena ia sering terjadi tanpa disadari.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh suara, banyak orang merasa selama masih menyebut nama Tuhan, semuanya baik-baik saja. Namun Alkitab mengingatkan kita untuk tidak lengah, sebab bahaya terbesar sering kali bukan penolakan terang-terangan terhadap kebenaran, melainkan pergeseran kecil yang nyaris tak terasa. Dari sinilah deviasi dimulai—pelan, halus, dan tampak tidak berbahaya. “Sedikit ragi sudah menghamirkan seluruh adonan” (Galatia 5:9). Hati-hati dengan penyimpangan. Deviasi jarang datang dalam bentuk pemberontakan terbuka, tetapi melalui kompromi kecil dan pembenaran yang terdengar masuk akal bahkan rohani. Masalah generasi hari ini adalah kebenaran mulai diukur dengan perasaan dan pengalaman, bukan lagi dengan firman. Apa yang terasa nyaman dianggap benar. Padahal firman Tuhan berkata, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12). Ketika standar kebenaran bergeser sedikit demi sedikit, kepekaan rohani pun memudar.

Kita melihat contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Awalnya kejujuran dikompromikan demi “bertahan hidup”, lalu kebiasaan berbohong kecil dianggap wajar. Kekudusan hubungan mulai ditawar dengan alasan cinta dan kebutuhan emosional, sampai akhirnya batas-batas moral runtuh. Disiplin rohani digantikan kesibukan, ibadah menjadi opsional, dan firman hanya dikonsumsi jika tidak menyinggung perasaan. Pergeseran nilai ini tidak membunuh secara instan, tetapi perlahan mematikan suara hati, melemahkan iman, dan menjauhkan manusia dari kebenaran sejati. Inilah bahaya deviasi: ia tidak menghancurkan sekaligus, tetapi membawa kematian rohani sedikit demi sedikit, sampai seseorang sadar bahwa ia telah berjalan jauh dari jalan Tuhan.


BHS

Kamis, 08 Januari 2026

Ucapkan TerimaKasih

 Filemon 1:4
“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat engkau.”

                  Mengucap terima kasih kepada sesama itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda kedewasaan rohani. Orang yang bisa menghargai orang lain adalah orang yang egonya sudah tidak perlu dibela terus-menerus. Ia tahu siapa dirinya di dalam Tuhan. Secara rohani, ucapan terima kasih mematahkan kesombongan yang halus—kesombongan yang sering tidak terasa, yang berkata, “Aku bisa sampai di titik ini karena kekuatanku sendiri.” Padahal Tuhan sengaja menempatkan kita dalam relasi, supaya kita sadar: kita tidak diciptakan untuk berjalan sendirian.

Dalam Kerajaan Allah, berterima kasih adalah bahasa Hormat (honor). Honor bukan sekadar sopan santun, tapi sikap hati yang menghargai apa yang Tuhan kerjakan lewat orang lain. Tuhan sering kali tidak mempromosikan orang yang paling berbakat, tetapi orang yang paling bisa menghargai. Saat kita setia menghormati hal-hal kecil dan orang-orang yang Tuhan pakai hari ini, kita sedang menabur benih untuk musim kita sendiri. Honor selalu datang lebih dulu, baru promosi menyusul.

Paulus memberi teladan yang kuat lewat relasinya dengan Filemon. Walaupun Paulus adalah rasul dan punya otoritas besar, ia tidak membuka suratnya dengan perintah atau tuntutan. Ia membuka dengan ucapan syukur. Paulus tahu bahwa hati manusia lebih mudah dibuka lewat penghargaan daripada tekanan. Ia memilih membangun relasi, bukan sekadar menegakkan posisi. Inilah kepemimpinan Kerajaan Allah: kuat dalam otoritas, tetapi lembut dalam pendekatan. Menariknya, nama Filemon berarti orang yang penuh kasih persahabatan. Saat Paulus mengucap terima kasih, ia bukan hanya menghargai perbuatan Filemon, tapi juga meneguhkan identitasnya. Secara profetik, ucapan terima kasih itu seperti memanggil keluar siapa seseorang sebenarnya di dalam Kristus. Ketika kita belajar menghargai sesama, kita sedang menciptakan atmosfer Kerajaan Allah , atmosfer di mana hati dibangun, relasi dijaga, dan Tuhan dengan senang hati mempercayakan lebih banyak kepada kita. bisakah kita berterimakasih ? ucapkan itu dan jangan hanya didalam hati. karena perkataan terimakasih kita bisa membangun orang. oleh sebab itu jangan lupa berterimakasih hari ini. 


BHS

Rabu, 07 Januari 2026

Bangunan yang terus dibangun

                  Ada seorang pebisnis yang taat kepada Tuhan. Ia membangun usaha dengan doa dan ketaatan karena ia percaya Tuhan yang memerintahkannya. Namun setelah lima tahun, bisnis itu bangkrut. Dengan hati hancur ia bertanya, “Tuhan, mengapa? Bukankah Engkau yang menyuruh?” Dan Tuhan menjawab, “Engkau membangun bisnis, tetapi Aku sedang membangun engkau.” Di mata manusia itu terlihat gagal, tetapi di mata Tuhan itu adalah proses pendewasaan. Dalam lima tahun itu, karakter dibentuk, hikmat diasah, dan cara mengelola kehidupan termasuk keuangan ditata ulang. Tuhan tidak pernah salah; sering kali yang Ia bangun bukan hasil luar, melainkan manusia di baliknya.

Firman Tuhan dengan jelas berkata, “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah (1 Korintus 3:9). Ayat ini menegaskan bahwa hidup kita bukan proyek pribadi, melainkan proyek ilahi. Tuhan adalah Arsitek, dan Ia bekerja dengan ketelitian. Kadang Ia merobohkan apa yang kita banggakan supaya fondasi yang benar bisa diletakkan. Jika fondasi tidak kuat, bangunan setinggi apa pun akan runtuh. Jangan terburu-buru menilai proses Tuhan hanya dari apa yang tampak di luar.

Lihatlah Yusuf. Ia menerima mimpi dari Tuhan, tetapi sebelum mimpi itu tergenapi, hidupnya seakan runtuh: dijual, difitnah, dan dipenjara. Secara lahiriah, Yusuf gagal. Namun Tuhan sedang membangun integritas dan hikmat seorang pengelola bangsa (Kejadian 41). Musa pun harus melewati 40 tahun di padang gurun ,bukan untuk belajar memimpin orang banyak, tetapi untuk belajar dipimpin oleh Tuhan. Tuhan selalu membangun pribadi lebih dulu sebelum mempercayakan tanggung jawab besar.

Dalam sejarah kebangunan rohani, pola ini juga nyata. Banyak revivalist dibentuk melalui musim tersembunyi dan kegagalan. Tuhan lebih peduli pada siapa kita daripada apa yang kita hasilkan. Tuhan tidak sedang tergesa-gesa membangun sesuatu melalui kita; Ia sabar membangun kita bagi rencana-Nya. Ingatlah, kita ini bangunan Allah. Jangan menolak proses pembangunan-Nya, karena apa yang dibangun Tuhan dengan tangan-Nya sendiri tidak akan pernah sia-sia.


BHS 

Selasa, 06 Januari 2026

Kehidupan yang ditinggikan Tuhan

                 Firman Tuhan berkata, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:10). Ayat ini bukan sekadar penghiburan, tetapi perintah yang jelas. Kerendahan hati bukan sesuatu yang kita doakan kepada Tuhan, melainkan tanggung jawab yang harus kita lakukan. Perhatikan baik-baik: firman tidak berkata “mintalah supaya Tuhan merendahkanmu”, tetapi “humble yourself” — rendahkanlah dirimu. Bagian kita adalah merendahkan diri; bagian Tuhan adalah meninggikan. Ketika kita menukar peran itu, kita sedang keluar dari tatanan Kerajaan Allah.

Dalam bahasa Yunani, kata “rendahkanlah dirimu” adalah ταπεινώσατε (tapeinōsate), bentuk perintah aktif dari tapeinoō. Artinya: secara sadar memilih posisi rendah, menundukkan hati, dan mengakui ketergantungan penuh kepada Allah. Ini menegaskan bahwa kerendahan hati bukan sikap luar, bukan gaya bicara lembut atau tampilan sederhana, tetapi sikap hati di dalam. Seseorang bisa terlihat rohani di luar, namun tetap sombong di dalam. Kerendahan hati sejati terjadi ketika hati berhenti menuntut pengakuan dan memilih taat meski tidak dilihat.

Prinsip ini ditegaskan kembali oleh Yesus sendiri: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Inilah hukum Kerajaan Allah yang tidak pernah berubah. Kita tidak perlu mempromosikan diri, membela diri, atau mengatur panggung hidup kita sendiri. Ketika hati kita rendah, Tuhan tidak pernah lalai untuk bertindak. Pengangkatan dari Tuhan selalu datang tepat waktu dan dengan cara yang tidak bisa dipalsukan manusia.

Sejarah gereja membuktikan hal ini. Billy Graham, seorang penginjil besar dengan pengaruh global, tetap menjaga hidupnya dalam kesederhanaan dan ketundukan. Ia tidak pernah menyebut dirinya tokoh besar, tidak mengejar popularitas, dan selalu mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan. Kerendahan hatinya bukan strategi pelayanan, tetapi keputusan hati setiap hari. Dan justru karena itulah Tuhan mempercayakan pengaruh yang begitu luas kepadanya. Renungan ini mengingatkan kita: kerendahan hati adalah ketaatan, dan ketika kita setia merendahkan diri, Tuhan sendiri yang akan mengangkat hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya.


BHS

Senin, 05 Januari 2026

Harapan = Kepastian

                  Harapan bukan sekadar optimisme atau penghiburan diri di tengah badai. Firman Tuhan dengan tegas berkata, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita” (Ibrani 6:19). Kata pengharapan dalam Perjanjian Baru berasal dari bahasa Yunani elpis, yang bukan berarti angan-angan, melainkan keyakinan yang penuh kepastian. Elpis berbicara tentang ekspektasi yang berakar pada sesuatu yang kokoh dan dapat diandalkan. Seperti sauh yang tertancap kuat di dasar laut, harapan menahan jiwa kita agar tidak hanyut oleh ketakutan, tekanan, dan ketidakpastian hidup.

Menurut Bill Johnson, harapan bukanlah sesuatu yang kosong atau sekadar menunggu mukjizat di masa depan. Harapan adalah kemampuan untuk merayakan apa yang sudah kita terima di dalam Kristus. Dalam bahasa Ibrani, konsep harapan sering diungkapkan dengan kata tiqvah, yang juga berarti tali atau benang yang mengikat. Ini menggambarkan bahwa harapan bukan emosi, tetapi ikatan—sesuatu yang menghubungkan kita secara aktif dengan janji Tuhan. Karena itu Alkitab berkata, “Di dalam Kristus segala janji Allah adalah ‘ya’ dan ‘amin’” (2 Korintus 1:20). Kita tidak berharap supaya Tuhan bertindak; kita berharap karena Dia sudah bertindak melalui salib.

Harapan memberi kekuatan untuk bersukacita di tengah proses. Roma 5:5 berkata, “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.” Harapan yang sejati selalu berakar pada kasih Allah, bukan pada hasil akhir yang kita tunggu. Ketika kita memahami makna elpis ini, kita tidak lagi pasif dalam penantian, tetapi aktif dalam penyembahan. Kita bersukacita bukan karena situasi berubah, tetapi karena posisi kita di dalam Kristus tidak pernah berubah.

Ketika harapan menjadi jangkar, iman memiliki tempat berpijak yang kokoh. Ibrani 11:1 berkata bahwa iman adalah dasar dari apa yang kita harapkan , bukan harapan yang samar, tetapi harapan yang pasti. Harapan memastikan iman kita tidak runtuh oleh penundaan, kekecewaan, atau musim yang panjang. Inilah undangan Tuhan hari ini: jangan lepaskan sauhmu, jangan putuskan tali tiqvah-mu. Pegang harapan dengan teguh, rayakan anugerah dan kemenangan Kristus yang sudah diberikan. Orang yang berlabuh pada harapan tidak akan tenggelam, sekalipun badai belum reda.


BHS

Minggu, 04 Januari 2026

Mata Air Meriba

            Mata air Meriba muncul di tengah perjalanan Israel di padang gurun, saat bangsa itu kehausan dan mulai bersungut-sungut melawan Tuhan dan Musa (Keluaran 17:1–7; Bilangan 20:1–13). Nama Meriba berarti “pertengkaran” atau “perselisihan”, karena di tempat itulah bangsa Israel mencobai Tuhan dengan berkata, “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Fokus Meriba bukan pada kurangnya air, melainkan pada kondisi hati. Tekanan dan kebutuhan mendesak menyingkapkan apakah umat Tuhan hidup dari kepercayaan atau dari tuntutan. Air memang keluar dari batu, tetapi Meriba dikenang bukan karena mujizatnya, melainkan karena hati yang belum sepenuhnya percaya.

Meriba juga mengajarkan bahwa mujizat tidak selalu identik dengan perkenanan. Dalam Bilangan 20, Musa memukul batu dua kali tindakan yang lahir dari frustrasi, bukan dari ketaatan penuh dan meski air tetap keluar, ada konsekuensi serius. Tuhan menegaskan bahwa Dia ingin dikenal sebagai Allah yang kudus, bukan sekadar Allah yang memenuhi kebutuhan. Fokus Tuhan bukan hanya pada hasil, tetapi pada ketaatan dan cara kita membawa hadirat-Nya di tengah tekanan. Ini menegaskan bahwa dalam perjalanan iman, sikap hati sering kali lebih menentukan daripada terobosan yang kelihatan.

Pelajaran ini nyata dalam kehidupan Evan Roberts, revivalist dari Kebangunan Rohani Wales (1904–1905). Ia pernah berkata bahwa salah satu penghalang terbesar kebangunan rohani adalah roh bersungut dan tidak mau taat sepenuhnya kepada Roh Kudus. Dalam salah satu musim pelayanannya, ketika tekanan dan kritik datang, Roberts memilih menarik diri dan berdiam di hadapan Tuhan, bukan melawan atau membela diri. Ia mengerti bahwa kebangunan sejati bukan lahir dari emosi atau tuntutan manusia, tetapi dari hati yang tunduk dan taat. Berbeda dengan roh Meriba yang menuntut bukti, para revivalist sejati memilih percaya dan menghormati Tuhan bahkan di musim kering, dan dari situlah mata air hidup mengalir—bukan hanya untuk diri mereka, tetapi bagi banyak orang.



BHS

Jumat, 02 Januari 2026

Respon bukan Reaksi

               Penguasaan diri terlihat jelas dari perbedaan antara respon dan reaksi. Reaksi biasanya muncul cepat, spontan, dan digerakkan oleh emosi , marah, tersinggung, atau sakit hati. Reaksi tidak memberi ruang bagi hikmat; yang penting adalah meluapkan perasaan saat itu juga. Ketika seseorang bereaksi, ia sering berkata atau bertindak tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Alkitab mengingatkan, “Orang yang cepat marah melakukan kebodohan” (Amsal 14:17), dan “Si pemarah membangkitkan pertengkaran” (Amsal 15:18). Banyak hubungan rusak, keputusan keliru diambil, dan kesaksian tercoreng bukan karena masalah besar, tetapi karena reaksi emosional yang tidak dikendalikan.

Sebaliknya, respon adalah sikap yang menahan diri, memberi jeda, lalu memilih tindakan yang benar. Respon lahir dari pengendalian diri, sedangkan reaksi lahir dari emosi yang tidak dikelola. Salah satu buah Roh adalah pengendalian diri bukan sekadar kesabaran pasif, tetapi kekuatan rohani untuk menundukkan emosi di bawah pimpinan Roh Kudus. Firman Tuhan berkata, “Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22–23). Orang yang hidup dipimpin Roh tidak membiarkan emosinya mengambil alih kemudi hidupnya, melainkan menyerahkan kendali kepada Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak kejadian yang menguji hal ini. Ketika kita dikritik secara tidak adil di tempat kerja, naluri pertama mungkin ingin membela diri atau membalas dengan kata-kata tajam. Ketika pasangan atau anggota keluarga berkata kasar, emosi mudah tersulut untuk menyerang balik. Namun orang yang memilih respon akan berhenti sejenak, berdoa dalam hati, dan bertanya, “Apa sikap yang memuliakan Tuhan?” Amsal 16:32 berkata, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” Saat kita memilih respon daripada reaksi, kita sedang memberi ruang bagi Tuhan bekerja, menjaga kesaksian hidup kita, dan memancarkan karakter Kristus , terang yang tetap bersinar di tengah dunia yang mudah tersulut emosi.



BHS